Kasus TBC Lampung Masih Banyak Tak Terdeteksi

Pemprov Lampung mendorong penanggulangan TBC secara masif setelah notifikasi kasus baru hingga Agustus 2026 baru mencapai sekitar 38 persen dari estimasi 30.745 kasus.

Kasus TBC Lampung Masih Banyak Tak Terdeteksi
Foto: Istimewa

BANDAR LAMPUNG — Pemerintah Provinsi Lampung mendorong penanggulangan tuberkulosis (TBC) dilakukan secara masif dan melibatkan seluruh unsur masyarakat. Langkah tersebut dinilai penting karena masih banyak kasus TBC yang belum ditemukan meski tingkat keberhasilan pengobatan di Lampung mencapai sekitar 92 persen.

Wakil Gubernur Lampung Jihan Nurlela mengatakan penanganan TBC tidak bisa hanya mengandalkan tenaga kesehatan. Pemerintah daerah hingga masyarakat perlu terlibat dalam menemukan kasus, memastikan pengobatan, dan memutus rantai penularan.

"Ini bukan tugas insan kesehatan saja, tetapi seluruh stakeholder, seluruh lapisan masyarakat. Saya ingin gerakannya seperti gerakan Pekan Imunisasi Nasional pada saat dulu," kata Jihan saat meluncurkan website Peduli TB Lampung dan mengukuhkan Koalisi Organisasi Profesi Indonesia Tuberkulosis (KOPI TB) se-Provinsi Lampung 2026 di Hotel Emersia, Bandar Lampung, Jumat (4/9/2026).

Jihan mengungkapkan, berdasarkan estimasi 2026 terdapat 30.745 kasus TBC di Lampung. Namun, hingga akhir Agustus 2026, notifikasi kasus baru baru mencapai sekitar 38 persen.

Kondisi tersebut menunjukkan masih terdapat kesenjangan antara perkiraan jumlah penderita dan kasus yang berhasil ditemukan.

Menurut Jihan, persoalan utama penanggulangan TBC bukan hanya ketersediaan obat, melainkan penemuan kasus sedini mungkin. Selain itu, pasien harus dipastikan menjalani pengobatan hingga tuntas, sementara anggota keluarga dan kontak erat perlu diperiksa.

"Ketika satu kasus tuberkulosis ditemukan secara terlambat, dampaknya tidak berhenti pada satu pasien saja. Ia mempunyai konsekuensi terhadap keluarga, terhadap lingkungan, produktivitas pun," ujarnya.

Pemprov Lampung karena itu mendorong keterlibatan camat, lurah, RT, RW, Babinsa, Bhabinkamtibmas, TNI, Polri, fasilitas kesehatan, hingga masyarakat dalam penemuan kasus.

Lampung memiliki 13 kabupaten dan dua kota, 229 kecamatan, serta ribuan desa dengan jumlah penduduk sekitar 9,5 juta jiwa. Sekitar 69 persen penduduk Lampung berada pada usia produktif sehingga penularan TBC dinilai berpotensi memengaruhi produktivitas dan kondisi sosial ekonomi masyarakat.

Dari sisi fasilitas kesehatan, Lampung memiliki sembilan rumah sakit pemerintah, 63 rumah sakit swasta, 322 puskesmas, 560 klinik TPMD, 15 klinik lapas atau rutan, serta dua rumah sakit TNI/Polri.

Jihan meminta seluruh fasilitas tersebut tidak hanya berfokus pada pengobatan, tetapi juga aktif menemukan kasus dan memutus rantai penularan.

Pemprov Lampung juga mendorong seluruh kabupaten dan kota memiliki Rencana Aksi Daerah (RAD) Penanggulangan TBC serta Tim Percepatan Penanggulangan Tuberkulosis (TP2TB) yang aktif.

"Kita terus mendorong seluruh kabupaten/kota memiliki rencana aksi daerah penanggulangan tuberkulosis dan tim percepatan penanggulangan tuberkulosis atau TP2TB yang benar-benar aktif," katanya.

Koordinasi dengan 15 kabupaten dan kota akan dilakukan secara berkala untuk memantau perkembangan penanggulangan TBC. Pemerintah daerah juga diminta menerapkan pola koordinasi serupa hingga tingkat petugas lapangan.

Peduli TB Lampung

Untuk memperkuat penemuan kasus, Pemprov Lampung memperkenalkan platform Peduli TB Lampung. Platform yang dikembangkan bersama Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) tersebut ditujukan untuk memudahkan masyarakat melakukan skrining awal secara mandiri.

Platform itu juga diarahkan untuk mendukung integrasi skrining TBC dengan program Cek Kesehatan Gratis (CKG).

Dalam tahap uji coba di RSUD Abdul Moeloek, Dinas Kesehatan Provinsi Lampung, dan RS Muhammadiyah Metro, Peduli TB Lampung telah menjangkau lebih dari 1.000 orang.

Jihan berharap platform tersebut dapat diperluas, termasuk untuk masyarakat yang masuk ke Lampung melalui bandara dan pelabuhan.

Selain penemuan kasus, Pemprov Lampung juga memberi perhatian terhadap kondisi rumah pasien TBC dari keluarga tidak mampu. Sebanyak 367 usulan rumah tidak layak huni (RTLH) bagi pasien TBC telah diajukan, dengan 217 usulan telah terverifikasi sebagai calon penerima.

Sementara itu, capaian investigasi kontak kasus TBC bakteriologis di Lampung saat ini sekitar 63 persen. Angka tersebut masih di bawah target 90 persen.

Jihan meminta setiap pasien yang ditemukan segera diikuti dengan pemeriksaan terhadap anggota keluarga dan orang yang memiliki kontak erat.

Pengobatan TBC Lampung Capai 92 Persen

Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono mengatakan Lampung memiliki kinerja pengobatan TBC yang tergolong baik. Tingkat keberhasilan pengobatan TBC di Lampung mencapai sekitar 92 persen dan termasuk yang tertinggi secara nasional.

"Kalau perkara ngobatin sudah pasti bagus. Keberhasilan pengobatan TBC juga bagus, Lampung 92 persen, bahkan nomor satu di Indonesia," kata Dante.

Namun, menurut Dante, keberhasilan pengobatan belum cukup untuk menekan jumlah kasus jika penemuan dan pencegahan belum diperkuat.

Kementerian Kesehatan menyiapkan pemeriksaan menggunakan X-ray portable dan NPOC untuk memperkuat penemuan kasus secara aktif di Lampung.

Pemeriksaan tersebut akan dilakukan di 15 kabupaten dan kota dengan sekitar 1.571 titik lokasi. Kemenkes juga menyiapkan 26 unit X-ray portable serta NPOC untuk mendukung pemeriksaan di 322 puskesmas.

Jihan mengatakan dukungan tersebut harus diikuti kerja lapangan yang terstruktur, mulai dari penemuan kasus, pengobatan hingga tuntas, investigasi kontak, terapi pencegahan, hingga perbaikan lingkungan tempat tinggal pasien.

"Kita semua mempunyai cara pandang yang sama bahwa eliminasi tuberkulosis tidak akan tercapai hanya dengan mengobati," kata Jihan.

Ia berharap Lampung dapat menjadi salah satu provinsi yang memimpin percepatan eliminasi TBC untuk mencapai target Indonesia bebas TBC pada 2030.