15 Tahun Rusak, Jalan Kasui–Air Ringkih Akhirnya Dibangun!

Setelah lebih dari satu dekade terbengkalai, pembangunan jalan Kasui–Air Ringkih di Way Kanan resmi dimulai. Proyek ini diproyeksikan membuka akses ekonomi dan memangkas waktu tempuh antarwilayah.

15 Tahun Rusak, Jalan Kasui–Air Ringkih Akhirnya Dibangun!
Foto: Istimewa

WAY KANAN — Setelah belasan tahun dalam kondisi rusak parah, ruas jalan Kasui–Air Ringkih di Kabupaten Way Kanan akhirnya mulai dibangun oleh Pemerintah Provinsi Lampung pada 2026.

Proyek ini dinilai krusial karena menyangkut konektivitas antarwilayah dan pergerakan ekonomi masyarakat.

Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal, turun langsung meninjau lokasi pada Rabu (8/4/2026), memastikan pembangunan berjalan sesuai standar kualitas yang ditetapkan.

Ruas sepanjang 26,295 kilometer itu sebelumnya hanya memiliki tingkat kemantapan 45,03 persen. Bahkan sebagian besar jalan belum pernah tersentuh aspal selama lebih dari 10 tahun, sehingga menghambat mobilitas warga dan distribusi hasil pertanian.

Pembangunan jalan ini disebut memiliki dampak strategis, terutama bagi wilayah Rebang Tangkas yang dikenal sebagai salah satu sentra produksi sawit di Way Kanan. Selama ini, kerusakan jalan menyebabkan tingginya biaya logistik dan risiko kecelakaan.

“Jalan ini adalah urat nadi ekonomi masyarakat. Ketika rusak, seluruh aktivitas ikut terganggu, mulai dari petani hingga pedagang,” ujar Kepala Kampung Gunung Sari, Malik Irsan.

Selain memperbaiki akses lokal, proyek ini juga diproyeksikan memperkuat konektivitas lintas provinsi. Jika tersambung hingga perbatasan Sumatera Selatan, jalur ini mampu memangkas waktu tempuh sekitar 1,5 jam dari Muara Dua menuju Bandar Lampung tanpa harus melalui Martapura.

Pada 2026, Pemprov Lampung mengalokasikan anggaran Rp172 miliar untuk perbaikan jalan di Way Kanan, yang mencakup 7 paket pekerjaan. Khusus ruas Kasui–Air Ringkih, dialokasikan Rp53,319 miliar untuk penanganan sepanjang 5,6 kilometer.

Peningkatan tidak hanya dilakukan pada kualitas permukaan jalan, tetapi juga pada dimensi dan konstruksi. Lebar jalan diperluas dari 3,5 meter menjadi 6 meter, ditambah bahu jalan masing-masing 1 meter di kedua sisi. Selain itu, metode konstruksi ditingkatkan dari aspal hotmix menjadi rigid pavement guna meningkatkan daya tahan.

Gubernur Mirza menegaskan bahwa proyek ini bukan sekadar pembangunan fisik, tetapi bagian dari upaya mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.

“Ini bukan hanya jalan, tapi akses masa depan masyarakat. Kualitas harus dijaga agar manfaatnya bisa dirasakan jangka panjang,” tegasnya.