Getaran Truk Proyek Geothermal Picu Keretakan Rumah Warga di Lampung Barat
Aktivitas kendaraan logistik proyek PT Star Energy Geothermal Suoh Sekincau (SEGSS) di Lampung Barat dikeluhkan warga karena diduga memicu keretakan sejumlah rumah yang berada di sepanjang jalur angkutan. Warga meminta pemerintah dan perusahaan melakukan pemeriksaan teknis independen serta memastikan adanya solusi dan kompensasi yang adil.
LAMPUNG BARAT — Aktivitas kendaraan berat pengangkut logistik proyek panas bumi PT Star Energy Geothermal Suoh Sekincau (SEGSS) dikeluhkan warga di Kecamatan Air Hitam, Kabupaten Lampung Barat. Getaran kendaraan yang melintas setiap hari disebut berdampak pada sejumlah bangunan warga yang berada di dekat jalur logistik proyek.
Salah satu warga terdampak adalah Tompel Simamora di Pekon (Desa) Semara Jaya. Rumah sekaligus bengkelnya yang baru dibangun kembali setelah sebelumnya terbakar, kini mulai menunjukkan sejumlah keretakan.
Retakan terlihat pada beberapa bagian bangunan, antara lain dinding ruang tamu, kamar tidur, plesteran tiang kolom beton, hingga lantai semen di bagian dasar bangunan.
Warga yang membantu mendata kerusakan menyebut terdapat sedikitnya enam titik retakan pada bangunan tersebut.
"Enam titik. Semua masih retak rambut. Belum pernah ditambal. Tapi munculnya hampir bersamaan, dalam waktu singkat," kata warga tersebut.
Bangunan Tompel sebelumnya habis terbakar sekitar dua tahun lalu. Setelah melalui proses panjang dan mengumpulkan kembali biaya untuk membangun rumah serta tempat usahanya, ia kini menghadapi persoalan baru akibat getaran kendaraan berat yang melintas di depan rumahnya.
Keluhan serupa disampaikan Alpian Ansori, warga Pekon Sri Menanti. Berbeda dengan Tompel, kerusakan rumah Alpian disebut telah mencapai bagian fondasi.
Rumah yang dibangun menggunakan hasil tabungan selama bertahun-tahun itu mengalami keretakan pada fondasi beton bagian luar. Dinding batako juga dilaporkan patah, sementara sebagian lantai mengalami penurunan.
"Fondasi saya belah. Padahal baru saja dibangun. Ini hasil kerja keras kami sekeluarga," ujar Alpian, Jumat (7/8/2026).
Alpian mengatakan rumahnya berada sangat dekat dengan jalan yang menjadi jalur kendaraan proyek. Jarak bangunan dengan bibir jalan diperkirakan sekitar 1,5 hingga 5 meter.
Ia juga mengaku keberatan ketika kondisi bangunannya justru dipersoalkan. Menurutnya, rumah tersebut dibangun sesuai kemampuan ekonomi keluarganya.
"Banyak yang mencemooh saya. Bilang bangunannya jelek. Tapi itulah kemampuan saya sebagai rakyat kecil. Beda dengan mereka yang punya modal lebih," katanya.
Warga Minta Pemeriksaan Teknis
Warga menduga intensitas kendaraan berat yang melintas menjadi salah satu faktor yang berkontribusi terhadap munculnya kerusakan bangunan. Namun, penyebab pasti keretakan tersebut masih memerlukan pemeriksaan teknis dan kajian independen.
Jalur yang menghubungkan Pekon Mutar Alam hingga Semara Jaya disebut merupakan ruas jalan kabupaten dengan kondisi permukiman warga yang cukup dekat dengan badan jalan.
Karena itu, warga meminta pemerintah daerah dan pihak perusahaan tidak hanya melakukan pemeriksaan secara visual, tetapi juga melakukan pengukuran getaran dan audit kondisi bangunan secara ilmiah.
Selain itu, mereka meminta adanya evaluasi terhadap penggunaan jalur logistik, termasuk pengaturan tonase, jam operasional kendaraan berat, serta langkah mitigasi untuk meminimalkan dampak terhadap permukiman warga.
Warga menegaskan tidak menolak keberadaan proyek geothermal maupun pembangunan daerah. Mereka hanya meminta aktivitas proyek tetap memperhatikan keselamatan dan hak masyarakat yang tinggal di sekitar jalur operasional.
Tompel, Alpian, dan warga terdampak berharap Pemerintah Kabupaten Lampung Barat bersama manajemen PT Star Energy Geothermal Suoh Sekincau segera membentuk atau melibatkan tim teknis independen.
Tim tersebut diharapkan dapat memeriksa kondisi struktur bangunan, mengukur tingkat getaran kendaraan yang melintas, mengevaluasi kondisi jalan dan pengaturan kendaraan berat, serta menentukan langkah perbaikan apabila kerusakan terbukti berkaitan dengan aktivitas proyek.
Bagi warga, persoalan tersebut bukan sekadar mengenai retakan pada dinding. Di balik setiap kerusakan terdapat rumah yang dibangun dengan tabungan bertahun-tahun dan menjadi tempat berlindung sekaligus sumber kehidupan keluarga.
Mereka berharap aktivitas pembangunan energi di Lampung Barat dapat berjalan beriringan dengan perlindungan terhadap masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan proyek.
REDAKSI











