Panen Padi Lampung Tengah Tembus 11,2 Ton per Hektare
Pemprov Lampung dan Kementan mendorong pertanian modern melalui PM-AAS. Demfarm 100 hektare di Lampung Tengah menghasilkan potensi produktivitas rata-rata 11,2 ton padi per hektare.
LAMPUNG TENGAH — Pemerintah Provinsi Lampung bersama Kementerian Pertanian (Kementan) mendorong penerapan sistem pertanian modern untuk meningkatkan produktivitas padi. Hasil demfarm Pertanian Modern-Advanced Agricultural System (PM-AAS) di Lampung Tengah mencapai potensi rata-rata 11,2 ton per hektare.
Capaian tersebut diperoleh dari demfarm PM-AAS seluas 100 hektare di Desa Rama Nirwana, Kecamatan Seputih Raman, Lampung Tengah, yang dipanen pada Kamis (20/8/2026).
Pengukuran menggunakan metode ubinan menunjukkan produktivitas pada tiga titik masing-masing mencapai 10,6 ton, 11,46 ton, dan 11,7 ton per hektare. Rata-rata produktivitas dari tiga titik tersebut mencapai sekitar 11,2 ton per hektare.
Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal mengatakan hasil tersebut menunjukkan penerapan PM-AAS dalam tahap percontohan di Lampung memberikan hasil positif.
“Pemodelan PM-AAS yang dilaksanakan di Lampung hari ini telah memasuki tahap panen. Hasil pengukuran melalui metode ubinan juga sangat menggembirakan, dengan potensi produktivitas mencapai rata-rata 11,2 ton per hektare,” kata Mirza.
Menurut Mirza, Pemprov Lampung selanjutnya akan mendorong perluasan penerapan PM-AAS ke lahan persawahan di berbagai wilayah Lampung.
Lampung mendapat target penerapan PM-AAS seluas 35 ribu hektare hingga akhir 2026. Untuk mencapai target tersebut, Pemprov Lampung akan memperkuat kolaborasi dengan Kementan.
“Jika penerapan PM-AAS diperluas dan indeks pertanaman terus meningkat, produksi padi Lampung pada tahun depan berpeluang mencapai 4 juta ton,” ujarnya.
Pemprov Lampung juga mendorong peningkatan pengairan dan indeks pertanaman (IP) sebagai bagian dari strategi meningkatkan produksi padi.
Mirza mengatakan target produksi padi Lampung pada 2026 diperkirakan mencapai sekitar 3,5 juta ton. Peningkatan produktivitas tersebut diharapkan berdampak langsung terhadap kesejahteraan petani.
“Semua ini untuk memakmurkan petani. Kalau petani makmur, insyaallah Provinsi Lampung juga akan makmur,” katanya.
Sementara itu, Plh Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementan Tin Latifah mengapresiasi dukungan Pemprov Lampung terhadap penerapan PM-AAS, termasuk melalui dukungan Pupuk Hayati Cair (PHC).
Menurut Tin, Lampung merupakan salah satu daerah penyangga produksi pangan nasional dan termasuk lima besar provinsi yang memberikan kontribusi besar terhadap produksi pangan.
“Apabila produksi di Lampung mengalami penurunan, tentu capaian produksi nasional juga akan ikut terdampak,” kata Tin.
Ia menilai hasil demfarm di Seputih Raman menunjukkan teknologi pertanian, benih unggul, pengelolaan budidaya, serta kolaborasi dapat mendorong peningkatan produktivitas.
Kepala Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) Lampung Endro Gunawan mengatakan hasil panen demfarm tersebut menjadi salah satu indikator potensi penerapan pertanian modern di Lampung.
“Capaian ini merupakan hasil yang luar biasa, terlebih di tengah kondisi kemarau dan fenomena El Nino,” ujar Endro.
Menurutnya, keberhasilan tersebut tidak terlepas dari peran petani, pendampingan penyuluh, penerapan teknologi PM-AAS, serta dukungan PHC.
Pemprov Lampung dan Kementan selanjutnya akan memperluas penerapan PM-AAS sebagai bagian dari upaya meningkatkan produktivitas padi, memperkuat ketahanan pangan, dan meningkatkan kesejahteraan petani.
REDAKSI











