Pemprov Lampung Kerahkan OMC Tekan Karhutla dan Atasi Kekeringan
Pemprov Lampung mengerahkan Operasi Modifikasi Cuaca hingga 30 Agustus 2026 untuk membantu mengatasi kekeringan, membasahi wilayah rawan karhutla, mengisi sumber air, dan mendukung sektor pertanian.
LAMPUNG SELATAN — Pemerintah Provinsi Lampung mengerahkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk menekan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sekaligus mengatasi kekeringan yang mulai berdampak pada waduk dan lahan pertanian di sejumlah wilayah.
Wakil Gubernur Lampung Jihan Nurlela mengatakan pelaksanaan OMC merupakan tindak lanjut arahan Presiden Prabowo Subianto untuk mengantisipasi dampak kekeringan dan potensi karhutla di Lampung.
“Pada kesempatan hari ini, kita bisa meluncurkan OMC di Provinsi Lampung ini, atas arahan dan atensi Bapak Presiden untuk bisa melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca di Provinsi Lampung,” ujar Jihan di Posko Pengamatan Cuaca Bandara Radin Inten II, Rabu (26/8/2026).
Kick off OMC dilakukan Jihan bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lampung dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Operasi menyasar wilayah yang mengalami kekeringan dan memiliki titik panas. Namun, pelaksanaan penyemaian awan tetap bergantung pada kondisi pertumbuhan awan yang berpotensi menghasilkan hujan.
Jihan mengatakan OMC tidak hanya ditujukan untuk membantu mengendalikan karhutla, tetapi juga meningkatkan ketersediaan air bagi sektor pertanian.
“Semoga apa yang kita lakukan hari ini bisa membawa manfaat, selain membantu membasahi lahan-lahan kita yang berpotensi terjadi hotspot, juga bisa membantu komoditas kita, khususnya pertanian yang hari ini memang perlu pembasahan atau air,” katanya.
Menurut Jihan, lokasi penyemaian tidak dapat ditentukan semata berdasarkan wilayah yang membutuhkan hujan. Tim harus menyesuaikan dengan perkembangan awan serta keberadaan hotspot.
“Menyesuaikan dengan keadaan hotspot-nya dan berdasarkan yang paling utama, berdasarkan pertumbuhan awannya,” ujarnya.
Sorti Pertama Menyasar Lampung Timur
Pada sorti pertama, pesawat OMC diarahkan ke wilayah Lampung Timur dan sebagian wilayah yang berbatasan dengan Lampung Selatan.
Pemantauan citra satelit BMKG menunjukkan adanya sejumlah hotspot dengan tingkat kepercayaan sedang hingga tinggi di kawasan tersebut.
Prakirawan BMKG Iqbal mengatakan pelaksanaan OMC menghadapi tantangan berupa terbatasnya pertumbuhan awan hujan.
“Memang dari kondisi sirkulasi saat ini, sangat sulit mencari awan yang berpotensi menghasilkan hujan. Selagi terdapat potensi awan yang cukup bagus dan daerah tersebut ada hotspot, semaksimal mungkin disemai agar membasahi daerah tersebut,” kata Iqbal.
BMKG juga memantau potensi pertumbuhan awan di Lampung Barat, Tanggamus, Lampung Tengah hingga Lampung Utara untuk pelaksanaan sorti berikutnya.
Sasaran penyemaian akan terus disesuaikan dengan perkembangan awan dan lokasi hotspot.
OMC Berlangsung hingga 30 Agustus
Kepala BPBD Provinsi Lampung Rudy Sjawal Sugiarto mengatakan OMC akan dimaksimalkan selama sekitar lima hari hingga 30 Agustus 2026.
Fokus operasi adalah meningkatkan tutupan air di wilayah yang mengalami kekeringan, termasuk waduk dan kawasan pertanian yang menjadi lumbung pangan.
“Sampai dengan tanggal 30 ada kurang lebih lima hari, kita bisa memaksimalkan ikhtiar kita ini untuk meningkatkan tutupan air di wilayah Provinsi Lampung, terutama di waduk-waduk yang memang ada beberapa laporan sudah mengalami kekeringan dan daerah-daerah pertanian yang menjadi lumbung pangan,” ujar Rudy.
Selain OMC, Pemprov Lampung menyiapkan operasi water bombing untuk menangani titik api yang telah muncul. Dua armada udara didatangkan untuk mendukung operasi tersebut, masing-masing untuk misi pemadaman dan patroli.
Tim water bombing sebelumnya telah melaksanakan satu sorti pemadaman di kawasan Taman Nasional Way Kambas (TNWK). Operasi diarahkan untuk memadamkan hotspot sekaligus mencegah api meluas ke kawasan lain.
Pemprov Lampung juga memperkuat koordinasi antara BPBD, BMKG, BNPB, tim OMC, tim water bombing, dan unsur terkait di lapangan.
Kepala BPBD diminta memastikan air hujan hasil OMC dapat ditampung dan dimanfaatkan apabila turun di wilayah yang membutuhkan.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya menghadapi ancaman hidrometeorologi kering yang diperkirakan masih berlangsung hingga September dan Oktober.
Dengan menggabungkan OMC untuk meningkatkan pembasahan dan water bombing untuk pemadaman, pemerintah berharap risiko karhutla dapat ditekan sekaligus menjaga ketersediaan air bagi pertanian dan masyarakat.
REDAKSI











