Erupsi Krakatau Naik, Sekolah Lampung Kembali Daring

Pemprov Lampung kembali menerapkan pembelajaran jarak jauh pada 9–10 September 2026 setelah erupsi Gunung Anak Krakatau meningkat dan arah angin berpotensi membawa abu vulkanik ke daratan Lampung.

Erupsi Krakatau Naik, Sekolah Lampung Kembali Daring
Foto: Istimewa

BANDAR LAMPUNG — Pemerintah Provinsi Lampung kembali menerapkan pembelajaran jarak jauh (PJJ) atau daring bagi seluruh satuan pendidikan pada 9–10 September 2026.

Keputusan tersebut diambil setelah aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) kembali meningkat pada Selasa (8/9/2026) sore. Arah angin juga berpotensi membawa sebaran abu vulkanik ke wilayah daratan Lampung.

Keputusan itu disampaikan Wakil Gubernur Lampung Jihan Nurlela didampingi Sekretaris Daerah Provinsi Lampung Marindo Kurniawan dalam konferensi pers di Ruang Command Center BPBD Provinsi Lampung, Selasa malam.

Jihan mengatakan status Gunung Anak Krakatau hingga pukul 18.00 WIB masih berada pada Level III atau Siaga.

Sejak pagi, tercatat empat kali erupsi dengan durasi kurang dari 20 detik. Namun, aktivitas vulkanik kembali meningkat pada pukul 17.56 WIB dengan durasi erupsi mencapai 31 detik dan amplitudo seismogram 54 milimeter.

“Yang menjadi stressing point kami adalah adanya erupsi susulan yang kemudian durasinya lebih panjang, kemudian arah anginnya menuju wilayah Provinsi Lampung,” kata Jihan.

Atas perkembangan tersebut, Pemprov Lampung membatalkan rencana penyesuaian pembelajaran tatap muka yang sebelumnya sempat diwacanakan pada Selasa siang.

“Kami memutuskan untuk menyesuaikan kembali kebijakan tersebut di mana kegiatan belajar mengajar pada Rabu dan juga Kamis, yaitu 9 dan 10 September 2026, tetap dilaksanakan secara daring atau pembelajaran jarak jauh,” ujarnya.

Kebijakan PJJ diberlakukan sebagai langkah antisipasi untuk melindungi peserta didik dari potensi paparan abu vulkanik.

Pemprov Perkuat Penanganan

Selain sektor pendidikan, Pemprov Lampung memperkuat penanganan dampak aktivitas Gunung Anak Krakatau melalui koordinasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), serta Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).

Pemerintah juga menyiapkan opsi Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Pelaksanaannya masih dievaluasi dengan mempertimbangkan pertumbuhan awan potensial di wilayah Lampung.

Distribusi masker kepada masyarakat, penyiraman sejumlah jalur transportasi untuk mengurangi debu, serta pengujian laboratorium terhadap sampel abu vulkanik juga terus dilakukan.

Jihan turut menyampaikan keprihatinan atas hilangnya satu unit speedboat yang membawa lima jurnalis dan tiga awak kapal di perairan perbatasan Selat Sunda saat menjalankan tugas peliputan aktivitas vulkanik.

“Kami turut mendoakan dan berharap seluruh jurnalis dan juga awak kapal ditemukan secara selamat dengan keadaan sehat dan selamat,” kata Jihan.

Menurutnya, peristiwa tersebut menjadi pengingat bahwa aktivitas di sekitar Gunung Anak Krakatau memiliki risiko yang harus diperhitungkan.

Ia meminta keselamatan menjadi prioritas, termasuk bagi jurnalis yang menjalankan tugas di lapangan.

Warga Diminta Waspada

Pemprov Lampung kembali mengingatkan masyarakat agar tidak memasuki radius bahaya tiga kilometer dari kawah aktif Gunung Anak Krakatau.

Warga juga diminta menggunakan masker, menutup ventilasi rumah ketika terjadi paparan abu vulkanik, serta menyiapkan tas siaga bencana.

Masyarakat diminta tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi dan mengikuti perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau melalui sumber resmi pemerintah.

Selain itu, Pemprov Lampung mengajak masyarakat menggelar doa bersama dan Salat Istisqa pada Kamis (10/9/2026) pukul 09.00 WIB di Lapangan Korpri, Kompleks Kantor Gubernur Lampung.

Ajakan tersebut disampaikan sebagai tindak lanjut tausiah Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Tetap tenang masyarakat sekalian, tetap waspada, saling menjaga, dan pastikan informasi yang kita terima berasal dari sumber resmi,” ujar Jihan.