Lampung Bersiap Jadi Pusat Bioetanol Nasional
Pemerintah pusat dan Pemprov Lampung mempercepat pembangunan industri bioetanol dengan meninjau lokasi calon pabrik dan kawasan budidaya sorgum. Proyek ini diproyeksikan menjadi motor hilirisasi pertanian, energi terbarukan, dan peningkatan kesejahteraan petani.
LAMPUNG SELATAN — Pemerintah pusat bersama Pemerintah Provinsi Lampung mempercepat pengembangan industri bioetanol melalui peninjauan langsung calon lokasi pembangunan pabrik bioetanol dan kawasan pengembangan bahan baku sorgum di Provinsi Lampung, Selasa (9/6/2026).
Kunjungan dipimpin Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi/Wakil Kepala BKPM RI, Todotua Pasaribu, bersama Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal, usai menghadiri Rapat Koordinasi dan Sinergitas Pembangunan Pabrik Bioetanol di Ruang VVIP Lounge Bandara Raden Inten II, Lampung Selatan.
Rombongan yang terdiri dari jajaran Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, Pertamina New & Renewable Energy (PNRE), Toyota Tsusho Corporation, Toyota Motor Manufacturing Indonesia, PTPN, akademisi, dan sejumlah pemangku kepentingan lainnya meninjau lokasi calon pembangunan pilot plant bioetanol di Kecamatan Tegineneng, Kabupaten Pesawaran, serta kawasan pengembangan budidaya sorgum di Kecamatan Rejosari, Kabupaten Lampung Selatan.
Peninjauan dilakukan untuk memastikan kesiapan lahan, ketersediaan bahan baku, dukungan infrastruktur, serta integrasi kawasan yang akan menjadi bagian dari ekosistem industri bioetanol di Lampung.
Dalam rapat koordinasi tersebut, Todotua Pasaribu menegaskan Lampung menjadi salah satu daerah prioritas pengembangan bioetanol nasional karena memiliki keunggulan strategis berupa ketersediaan bahan baku yang melimpah, infrastruktur yang memadai, dan dukungan kuat pemerintah daerah.
Menurutnya, kebutuhan bioetanol nasional akan terus meningkat seiring rencana penerapan program campuran E10 bioetanol pada bahan bakar bensin yang ditargetkan mulai berjalan secara bertahap pada 2028.
Karena itu, pemerintah mendorong percepatan pembangunan industri bioetanol sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil.
"Kita tidak boleh hanya berhenti pada perencanaan. Yang dibutuhkan sekarang adalah eksekusi agar manfaatnya segera dirasakan masyarakat," tegas Todotua.
Sementara itu, Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal menilai pembangunan industri bioetanol merupakan langkah strategis untuk mendorong hilirisasi sektor pertanian sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani.
Menurutnya, Lampung memiliki modal besar untuk menjadi pusat bioetanol nasional karena didukung produksi pertanian yang melimpah, mulai dari padi, jagung, ubi kayu, pisang, kopi, hingga berbagai komoditas perkebunan dan peternakan.
Ia menyebut hampir enam juta penduduk Lampung menggantungkan hidup pada sektor pertanian sehingga pembangunan industri pengolahan menjadi kebutuhan penting untuk meningkatkan nilai tambah komoditas daerah.
"Dengan produksi ubi kayu sekitar 7,5 juta ton per tahun, Lampung memiliki potensi besar menjadi pemasok utama bahan baku bioetanol nasional. Kehadiran industri bioetanol akan menciptakan pasar baru bagi petani, menjaga stabilitas harga, serta meningkatkan nilai tambah hasil pertanian Lampung," ujarnya.
Rahmat juga menegaskan bahwa Lampung memiliki potensi energi baru terbarukan yang besar, mulai dari tenaga surya, panas bumi, biomassa hingga bioenergi berbasis limbah pertanian dan industri yang dapat mendukung agenda transisi energi nasional.
Dari sisi industri, CEO Pertamina New & Renewable Energy (PNRE), John Anis, menjelaskan pengembangan bioetanol di Lampung dilakukan melalui kolaborasi dengan Toyota Tsusho Corporation dan Green Earth Institute (GEI) Jepang.
Menurutnya, selain memanfaatkan molases dan singkong sebagai bahan baku bioetanol generasi pertama, proyek ini juga akan mengembangkan bioetanol generasi kedua berbasis biomassa sorgum dan limbah perkebunan sawit.
"Salah satu fokus kami adalah mengembangkan teknologi yang mampu mengubah limbah pertanian menjadi energi bernilai tinggi sekaligus menciptakan ekonomi sirkular yang berkelanjutan," kata John.
PNRE saat ini tengah mempersiapkan pembangunan pilot plant bioetanol generasi kedua yang ditargetkan mulai beroperasi pada 2027. Perusahaan juga mengkaji reaktivasi fasilitas bioetanol eksisting dengan kapasitas produksi sekitar 60 ribu kiloliter per tahun.
Kawasan Tegineneng diproyeksikan menjadi lokasi fasilitas pengolahan bioetanol, sementara kawasan Rejosari akan dikembangkan sebagai sentra budidaya sorgum untuk mendukung pasokan bahan baku industri bioetanol generasi kedua.
Sebagai bagian dari penguatan rantai pasok, PNRE juga akan bekerja sama dengan Universitas Lampung dalam pelaksanaan uji tanam sorgum seluas 10 hektare sebagai tahap awal pengembangan komoditas tersebut di Lampung.
Melalui kolaborasi pemerintah pusat, Pemerintah Provinsi Lampung, dunia usaha, akademisi, dan mitra internasional, proyek ini diharapkan menjadi tonggak penting dalam menjadikan Lampung sebagai pusat hilirisasi pertanian dan energi terbarukan nasional, sekaligus menciptakan lapangan kerja, meningkatkan kesejahteraan petani, dan memperkuat ketahanan energi Indonesia.
Sebagai bentuk komitmen percepatan proyek, kegiatan tersebut ditutup dengan penandatanganan Joint Declaration antara Pemerintah Provinsi Lampung, Pertamina New & Renewable Energy (PNRE), Toyota Motor Manufacturing Indonesia, dan Toyota Tsusho Indonesia.
REDAKSI










