Potret Pendidikan: Ketika Kepala Sekolah Harus Menjemput Murid

Di pelosok Mesuji, Lampung, seorang kepala sekolah rela menempuh perjalanan dua jam setiap hari dan mendatangi rumah-rumah warga demi memastikan tak ada anak yang kehilangan kesempatan mengenyam pendidikan.

Potret Pendidikan: Ketika Kepala Sekolah Harus Menjemput Murid
Foto: Ahmad Fauzi/monologis.id

MESUJI – Matahari belum sepenuhnya meninggi ketika suara mesin sepeda motor memecah sunyi jalan perkebunan di Kabupaten Mesuji, Lampung. Debu beterbangan di antara hamparan sawit dan karet yang membentang sejauh mata memandang. Di atas kendaraan itu, Dedi Sukoco memulai rutinitas yang telah dijalaninya selama bertahun-tahun.

Perjalanan menuju tempat kerjanya bukan perkara dekat. Setiap hari, Kepala SMA Negeri 1 Panca Jaya itu harus menghabiskan waktu sekitar dua jam untuk mencapai sekolah yang berdiri di Desa Mukti Karya, Kecamatan Panca Jaya.

Namun, perjalanan panjang itu hanyalah bagian kecil dari perjuangannya.

Di balik tugas sebagai kepala sekolah, Dedi memikul tanggung jawab lain yang tak tercantum dalam buku administrasi. Ia bersama para guru memilih turun langsung ke lapangan, mengetuk pintu rumah demi rumah, berbincang dengan orang tua, dan meyakinkan mereka agar anak-anak tetap melanjutkan pendidikan ke jenjang SMA.

"Kalau kami hanya menunggu siswa datang, mungkin banyak anak yang akhirnya tidak melanjutkan sekolah," ujar Dedi, Rabu (22/7/2026).

Langkah "jemput bola" itu lahir dari kondisi geografis yang tidak mudah. SMAN 1 Panca Jaya berdiri jauh dari permukiman warga, dikelilingi kebun sawit dan karet. Bagi sebagian keluarga, jarak menjadi alasan untuk mengurungkan niat menyekolahkan anak.

Alih-alih menyerah pada keadaan, Dedi justru mengubah tantangan menjadi strategi. Bersama wali kelas dan guru bimbingan konseling, ia menyusun cara agar sekolah tetap hadir di tengah masyarakat, meski masyarakat belum tentu bisa dengan mudah datang ke sekolah.

Usaha itu perlahan membuahkan hasil.

Sekolah yang berdiri pada 24 Juni 2014 itu kini menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. Jika pada awal berdiri hanya memiliki sekitar 45 siswa, kini jumlah peserta didiknya mencapai 170 orang.

Pada tahun ajaran 2026/2027, sebanyak 45 siswa baru bergabung. Angka itu mungkin terlihat biasa bagi sekolah di perkotaan, tetapi bagi sekolah yang berada di tengah perkebunan, setiap siswa baru adalah hasil dari perjuangan panjang.

Di balik pertambahan jumlah peserta didik, tersimpan cerita tentang kunjungan ke rumah-rumah warga, percakapan sederhana di beranda rumah, hingga keyakinan bahwa pendidikan mampu mengubah masa depan anak-anak desa.

Selama sekitar tiga setengah tahun memimpin sekolah, Dedi tidak hanya menjalankan fungsi administratif. Ia ikut memastikan sekolah tetap hidup dan menjadi harapan bagi masyarakat sekitar.

Dedikasinya juga tercermin dalam upaya meningkatkan kualitas pembelajaran. Sejumlah penelitian akademik mengenai SMAN 1 Panca Jaya mencatat kepemimpinannya berkontribusi terhadap peningkatan kinerja guru melalui supervisi yang konsisten. Namun, penelitian yang sama juga mencatat tantangan yang masih dihadapi sekolah, mulai dari keterbatasan fasilitas hingga minimnya waktu dan sumber daya.

Kondisi tersebut menjadi gambaran bahwa perjuangan pendidikan di daerah terpencil belum sepenuhnya selesai. Semangat para pendidik sering kali harus mengisi ruang yang belum mampu dijangkau oleh sistem.

Meski demikian, Dedi memilih tetap berjalan.

Baginya, setiap anak yang berhasil duduk di bangku sekolah adalah alasan untuk terus menyalakan mesin sepeda motornya setiap pagi.

Di tengah jalan tanah yang panjang, perkebunan yang sunyi, dan keterbatasan yang masih membayangi, perjuangan itu menjadi pengingat bahwa pendidikan bukan sekadar ruang kelas dan buku pelajaran. Ia hidup dari ketulusan orang-orang yang percaya bahwa masa depan seorang anak layak diperjuangkan, sejauh apa pun jaraknya.