KNPI Lampung: Kritik Jangan Dibalas Caci Maki
Pengurus KNPI Lampung mengajak seluruh elemen masyarakat menjaga ruang publik yang sehat dengan menghormati perbedaan pendapat. Kritik dinilai harus dijawab dengan argumentasi dan data, bukan penghinaan atau pelabelan.
BANDAR LAMPUNG – Pengurus Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Lampung, Jamal, mengingatkan pentingnya menjaga etika dalam ruang publik di tengah meningkatnya polarisasi dan saling serang di media sosial maupun ruang diskusi.
Menurut Jamal, demokrasi yang sehat tidak hanya diukur dari kebebasan menyampaikan pendapat, tetapi juga dari kemampuan masyarakat menghargai perbedaan pandangan.
Ia menyoroti munculnya narasi yang, menurutnya, cenderung merespons kritik dengan ajakan agar pihak yang berbeda pendapat meninggalkan Indonesia atau melontarkan sebutan bernada menghina kepada jurnalis, aktivis, akademisi, maupun masyarakat yang menyampaikan kritik.
"Kondisi seperti ini tidak boleh dianggap sebagai hal yang biasa. Demokrasi membutuhkan ruang dialog yang sehat, bukan ruang yang dipenuhi caci maki, pelabelan, dan penghinaan," kata Jamal dalam keterangan tertulis, Jumat (24/7/2026).
Menurutnya, kritik merupakan bagian dari mekanisme demokrasi dan memiliki peran penting dalam mengawal jalannya pemerintahan serta pembangunan agar tetap berpihak kepada kepentingan masyarakat.
Jamal menilai setiap perbedaan pendapat seharusnya dijawab melalui argumentasi, data, dan diskusi yang konstruktif, bukan dengan serangan terhadap identitas pribadi maupun penghinaan.
"Apabila ada kritik yang dianggap keliru, bantahlah dengan fakta dan penjelasan yang objektif. Jangan sampai perbedaan pandangan berubah menjadi serangan terhadap identitas pribadi atau penghinaan yang dapat memperkeruh suasana," ujarnya.
Ia menambahkan kebebasan berpendapat merupakan hak konstitusional setiap warga negara. Namun, pelaksanaannya juga harus disertai tanggung jawab serta penghormatan terhadap hak orang lain.
Jamal mengajak seluruh elemen masyarakat menjaga ruang publik yang sehat dengan mengedepankan etika, sikap saling menghormati, dan budaya diskusi yang santun.
Menurutnya, perbedaan pandangan seharusnya menjadi ruang untuk melahirkan solusi dan memperkuat demokrasi, bukan memicu perpecahan di tengah masyarakat.
REDAKSI











