Kemiskinan Lampung Turun, Pekerja Informal Naik
BPS Provinsi Lampung mencatat tingkat kemiskinan turun menjadi 9,31 persen pada Maret 2026. Ekonomi tumbuh 5,58 persen, inflasi terkendali, dan penyerapan tenaga kerja meningkat. Namun, indeks kedalaman kemiskinan serta proporsi pekerja informal masih mengalami kenaikan.
BANDAR LAMPUNG – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Lampung mencatat sejumlah indikator sosial ekonomi menunjukkan tren positif sepanjang 2026. Tingkat kemiskinan dan jumlah penduduk miskin menurun, ekonomi tetap tumbuh, inflasi terkendali, serta penyerapan tenaga kerja meningkat. Namun, kualitas kesejahteraan masyarakat dan ketenagakerjaan masih menjadi tantangan.
Kepala BPS Provinsi Lampung, Ahmadriswan Nasution, mengatakan tingkat kemiskinan Lampung pada Maret 2026 turun menjadi 9,31 persen atau berkurang 0,35 poin persentase dibandingkan September 2025. Jumlah penduduk miskin juga menurun sebanyak 28,24 ribu orang menjadi 831,89 ribu jiwa.
"Secara jangka panjang, tingkat kemiskinan Lampung terus menunjukkan tren penurunan dari 12,34 persen pada Maret 2020 menjadi 9,31 persen pada Maret 2026," kata Ahmadriswan dalam konferensi pers Berita Resmi Statistik di Bandar Lampung, Rabu (5/8/2026).
BPS mencatat tingkat kemiskinan di perdesaan masih lebih tinggi dibandingkan perkotaan. Pada Maret 2026, kemiskinan di perdesaan mencapai 10,41 persen, sedangkan di perkotaan sebesar 7,28 persen. Meski demikian, penurunan kemiskinan di wilayah perdesaan berlangsung lebih cepat dibandingkan perkotaan.
Garis Kemiskinan Provinsi Lampung pada Maret 2026 tercatat sebesar Rp657.467 per kapita per bulan atau naik 3,69 persen dibandingkan September 2025. Komponen makanan masih menjadi penyumbang terbesar pembentukan garis kemiskinan dengan kontribusi 75,23 persen.
Di sisi lain, BPS mencatat Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) meningkat dari 1,228 menjadi 1,267, sedangkan Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) naik dari 0,242 menjadi 0,257. Kondisi tersebut menunjukkan rata-rata pengeluaran penduduk miskin secara agregat masih semakin jauh dari garis kemiskinan dan ketimpangan pengeluaran di kelompok miskin meningkat.
Sementara itu, perekonomian Lampung pada Triwulan I 2026 tumbuh 5,58 persen secara tahunan yang didorong konsumsi rumah tangga dan aktivitas ekonomi. Inflasi tahunan pada Maret 2026 juga terkendali di angka 1,16 persen.
Di sektor ketenagakerjaan, jumlah penduduk bekerja terus meningkat. Pada Mei 2026, sebanyak 71 dari 100 penduduk usia kerja tercatat sebagai angkatan kerja dengan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) sebesar 3,97 persen.
Sektor pertanian masih menjadi penyerap tenaga kerja terbesar, disusul industri dan perdagangan. Namun, kualitas pekerjaan masih menjadi perhatian karena proporsi pekerja penuh menurun menjadi 57,17 persen, sementara tingkat setengah pengangguran meningkat menjadi 9,55 persen dan pekerja paruh waktu naik menjadi 33,28 persen.
BPS juga mencatat pekerja informal mencapai 69,17 persen dari total penduduk bekerja atau meningkat dibandingkan November 2025 yang sebesar 65,81 persen. Sebaliknya, pekerja formal hanya mencapai 30,83 persen.
Ahmadriswan menilai capaian tersebut menunjukkan perbaikan pada sejumlah indikator utama, namun peningkatan kualitas kesejahteraan masyarakat dan penciptaan lapangan kerja formal tetap perlu menjadi perhatian.
"Pengurangan jumlah penduduk miskin perlu diikuti dengan peningkatan kualitas kesejahteraan, sementara peningkatan jumlah penduduk bekerja harus didukung penciptaan lapangan kerja yang lebih produktif dan berkualitas," ujarnya.
REDAKSI











