TWNC – Tambling Wildlife Nature Conservation Terima Kunjungan 21 Penerima Nobel
Tiga dekade perjalanan konservasi Tambling Wildlife Nature Conservation (TWNC) di Lampung mendapat perhatian dunia setelah 21 penerima Nobel, Turing Award, ilmuwan, akademisi, dan tokoh internasional mengunjungi kawasan tersebut. Di bawah pengelolaan Artha Graha Peduli dan komitmen Tommy Winata, Tambling menjadi contoh upaya menjaga hutan, keanekaragaman hayati, Harimau Sumatera, serta membangun kolaborasi antara masyarakat, sains, dan konservasi.
Tanggamus — Tiga dekade bukan waktu yang singkat untuk menjaga hutan tetap menjadi hutan. Di tengah tekanan pembangunan, perubahan iklim, kebakaran hutan, serta konflik manusia dan satwa liar, kawasan Tambling Wildlife Nature Conservation (TWNC) di Lampung justru dipertahankan sebagai bentang alam yang berupaya menjaga ekosistemnya tetap alami.
Di balik perjalanan panjang tersebut terdapat sosok pengusaha sekaligus pendiri Artha Graha Peduli (AGP), Tommy Winata, yang selama puluhan tahun mendorong pengelolaan kawasan konservasi Tambling.
Kunjungan tersebut bukan sekadar agenda wisata alam. Para tokoh dunia itu datang untuk melihat secara langsung bagaimana sebuah kawasan dengan hutan hujan tropis, mangrove, rawa, danau, kawasan pesisir hingga habitat satwa liar dipertahankan melalui perjalanan konservasi yang telah berlangsung selama sekitar 30 tahun.
Tommy Winata dan Pilihan Menjaga Alam
TWNC dikelola oleh Artha Graha Peduli sejak 1996 dan menjadi bagian dari program lingkungan AGP melalui kerja sama dengan Kementerian Kehutanan pada 2008.
Di tengah luasnya kawasan tersebut, tantangan konservasi tidak hanya soal menjaga pepohonan. Ada ekosistem yang harus dipertahankan, satwa liar yang harus dilindungi, masyarakat sekitar yang harus dilibatkan, sekaligus memastikan kawasan tersebut tidak kehilangan karakter alaminya.
Inilah yang kemudian membuat pengalaman Tommy Winata di Tambling menarik perhatian para tokoh dunia.
Peraih Nobel Perdamaian dan Presiden Timor-Leste José Ramos-Horta secara terbuka menyoroti aspek kepemimpinan dalam perjalanan konservasi Tambling.
“Satu hal yang bisa dipelajari adalah kepemimpinan. Ini adalah kepemimpinan Tomy Winata. Senang sekali bahwa pemerintah dan masyarakat memberikan tanggung jawab untuk mengurus kawasan ini selama 30 tahun.” ujarnya
Pernyataan Ramos-Horta tersebut memperlihatkan bahwa konservasi Tambling tidak hanya dilihat dari luas kawasan atau jumlah satwa yang berhasil diselamatkan, tetapi juga dari konsistensi kepemimpinan dan komitmen jangka panjang.
Dari Hutan Tambling untuk Dunia
Bagi Siti Hediati Soeharto, pengalaman Tambling menunjukkan bahwa konservasi membutuhkan perspektif lintas generasi.
“Tambling memperkenalkan sesuatu yang sangat penting. Konservasi bukan sebuah proyek pendek, tetapi sebuah komitmen panjang untuk generasi ke depan.” ungkapnya
Ia bahkan melihat potensi Tambling untuk berkembang lebih jauh, bukan sekadar sebagai kawasan konservasi.
“Hari ini, saya percaya Tambling Wildlife Nature Conservation bisa menjadi sesuatu yang lebih besar. Tambling bisa menjadi laboratorium hidup, di mana alam bertemu dengan sains, teknologi, pendidikan dan hubungan internasional.” tambahnya.
Gagasan tersebut menjadi semakin relevan ketika para ilmuwan dari berbagai disiplin ilmu datang ke Tambling.
Ramos-Horta: Masyarakat Bukan Penonton
Salah satu pesan penting yang muncul dari kunjungan tersebut adalah bahwa keberhasilan konservasi tidak mungkin hanya mengandalkan pagar, aturan, dan aparat.
“Anda tidak bisa melakukan apa-apa tanpa berhubungan (kolaborasi) dengan rakyat yang tinggal di sini. Mereka harus merasakannya, percaya padanya, dan kemudian mereka membuat pengalaman yang hebat. Mereka bukan penonton.” tuturnya
Pandangan tersebut sekaligus menjadi tantangan bagi setiap pengelola kawasan konservasi.
Harimau Sumatera dan Ujian Konservasi
Salah satu pengalaman penting TWNC adalah upaya perlindungan Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) yang berstatus Critically Endangered.
Di titik inilah konservasi menjadi persoalan nyata.
Hutan yang terjaga juga memiliki fungsi lain yang tidak kalah penting: menyimpan karbon, mengatur tata air, mengurangi tekanan ekologis, serta menjadi penyangga kehidupan masyarakat di sekitarnya.
Ramos-Horta melihat pengalaman Indonesia dalam menjaga alam sebagai pembelajaran penting bagi dunia.
“Indonesia sendiri adalah contoh untuk seluruh dunia.”
Pernyataan tersebut menjadi menarik karena Indonesia merupakan salah satu negara dengan kekayaan biodiversitas terbesar di dunia, tetapi sekaligus menghadapi tekanan lingkungan yang tidak ringan.
Karena itu, kedatangan para penerima Nobel dan ilmuwan dunia ke Tambling dapat menjadi momentum untuk mempertemukan pengalaman lokal dengan pengetahuan global.
Salah satu peserta kunjungan, Laura Anne, menggambarkan keunikan Tambling sebagai sesuatu yang berbeda dari kawasan konservasi yang sekadar menampilkan satwa.
“Tambling adalah tempat yang sangat unik. Ini bukan kebun binatang atau taman, tetapi ekosistem alami di mana satwa, burung, ikan dan seluruh kehidupan di dalamnya masih berjalan dalam keseimbangan.” katanya
Menurutnya, tantangan terbesar justru bagaimana mempertahankan keaslian tersebut.
“Tantangannya adalah menjaga keunikan ini tanpa kehilangan keasliannya. Saya percaya setiap negara membutuhkan tempat seperti ini, agar kita menghargai apa yang kita miliki sebelum kehilangan, karena mengembalikannya jauh lebih sulit daripada menjaganya sejak awal.” urainya
Pesan itu sejalan dengan filosofi yang selama ini dikembangkan dalam gerakan konservasi Tambling: menjaga alam sebelum kerusakan terjadi.
Dari Tommy Winata, Sebuah Pesan Sederhana
Kunjungan 21 tokoh dunia tersebut pada akhirnya membawa perhatian internasional kepada sebuah kawasan konservasi di ujung selatan Sumatera.
Namun, di balik berbagai penghargaan Nobel, teknologi, sains dan gagasan besar tentang masa depan planet, ada pesan yang sebenarnya sangat sederhana: alam harus dijaga karena kehidupan manusia bergantung kepadanya.
Perjalanan Tommy Winata bersama Artha Graha Peduli di Tambling memperlihatkan bahwa konservasi membutuhkan kesabaran, konsistensi dan keberanian untuk mempertahankan sesuatu yang hasilnya mungkin baru dirasakan oleh generasi berikutnya.
Selama tiga dekade, Tambling menjadi ruang tempat manusia mencoba hidup berdampingan dengan alam.
Kini, ketika para peraih Nobel dan ilmuwan dunia datang melihatnya secara langsung, Tambling berpotensi memasuki babak baru: dari sebuah kawasan konservasi di Lampung menjadi laboratorium hidup yang mempertemukan alam Indonesia dengan ilmu pengetahuan dan kolaborasi global.
Pada akhirnya, filosofi yang menjadi dasar perjalanan konservasi tersebut terasa semakin relevan:
“Kita jaga alam, alam jaga kita.”
REDAKSI











