TWNC – Tambling Wildlife Nature Conservation Terima Kunjungan 21 Penerima Nobel

Tiga dekade perjalanan konservasi Tambling Wildlife Nature Conservation (TWNC) di Lampung mendapat perhatian dunia setelah 21 penerima Nobel, Turing Award, ilmuwan, akademisi, dan tokoh internasional mengunjungi kawasan tersebut. Di bawah pengelolaan Artha Graha Peduli dan komitmen Tommy Winata, Tambling menjadi contoh upaya menjaga hutan, keanekaragaman hayati, Harimau Sumatera, serta membangun kolaborasi antara masyarakat, sains, dan konservasi.

TWNC – Tambling Wildlife Nature Conservation Terima Kunjungan 21 Penerima Nobel
Foto (Istimewa)

Tanggamus — Tiga dekade bukan waktu yang singkat untuk menjaga hutan tetap menjadi hutan. Di tengah tekanan pembangunan, perubahan iklim, kebakaran hutan, serta konflik manusia dan satwa liar, kawasan Tambling Wildlife Nature Conservation (TWNC) di Lampung justru dipertahankan sebagai bentang alam yang berupaya menjaga ekosistemnya tetap alami.

Di balik perjalanan panjang tersebut terdapat sosok pengusaha sekaligus pendiri Artha Graha Peduli (AGP), Tommy Winata, yang selama puluhan tahun mendorong pengelolaan kawasan konservasi Tambling. Komitmen itu mendapat perhatian dunia ketika 21 penerima Nobel, Turing Award, ilmuwan, akademisi, dan tokoh internasional mengunjungi TWNC pada 27–28 Agustus 2026. Seeperti dikutip dari laman CNN Indonesia pada Jumat (11/09/2026).

Kunjungan tersebut bukan sekadar agenda wisata alam. Para tokoh dunia itu datang untuk melihat secara langsung bagaimana sebuah kawasan dengan hutan hujan tropis, mangrove, rawa, danau, kawasan pesisir hingga habitat satwa liar dipertahankan melalui perjalanan konservasi yang telah berlangsung selama sekitar 30 tahun. Mereka diterima oleh Ketua Komisi IV DPR RI Siti Hediati Soeharto, yang menjadi tuan rumah kegiatan tersebut.

Tommy Winata dan Pilihan Menjaga Alam

TWNC dikelola oleh Artha Graha Peduli sejak 1996 dan menjadi bagian dari program lingkungan AGP melalui kerja sama dengan Kementerian Kehutanan pada 2008. Kawasan tersebut memiliki luas sekitar 48.153 hektare hutan dan 14.089 hektare kawasan laut, dengan bentang alam yang terdiri atas hutan hujan tropis dataran rendah, hutan pantai, mangrove, danau, rawa air tawar, serta hutan sekunder.

Di tengah luasnya kawasan tersebut, tantangan konservasi tidak hanya soal menjaga pepohonan. Ada ekosistem yang harus dipertahankan, satwa liar yang harus dilindungi, masyarakat sekitar yang harus dilibatkan, sekaligus memastikan kawasan tersebut tidak kehilangan karakter alaminya.

Inilah yang kemudian membuat pengalaman Tommy Winata di Tambling menarik perhatian para tokoh dunia.

Peraih Nobel Perdamaian dan Presiden Timor-Leste José Ramos-Horta secara terbuka menyoroti aspek kepemimpinan dalam perjalanan konservasi Tambling.

“Satu hal yang bisa dipelajari adalah kepemimpinan. Ini adalah kepemimpinan Tomy Winata. Senang sekali bahwa pemerintah dan masyarakat memberikan tanggung jawab untuk mengurus kawasan ini selama 30 tahun.” ujarnya

Pernyataan Ramos-Horta tersebut memperlihatkan bahwa konservasi Tambling tidak hanya dilihat dari luas kawasan atau jumlah satwa yang berhasil diselamatkan, tetapi juga dari konsistensi kepemimpinan dan komitmen jangka panjang. Sebab, konservasi pada dasarnya bukan pekerjaan yang hasilnya dapat dinikmati dalam satu atau dua tahun.

Dari Hutan Tambling untuk Dunia

Bagi Siti Hediati Soeharto, pengalaman Tambling menunjukkan bahwa konservasi membutuhkan perspektif lintas generasi.

“Tambling memperkenalkan sesuatu yang sangat penting. Konservasi bukan sebuah proyek pendek, tetapi sebuah komitmen panjang untuk generasi ke depan.” ungkapnya

Ia bahkan melihat potensi Tambling untuk berkembang lebih jauh, bukan sekadar sebagai kawasan konservasi.

“Hari ini, saya percaya Tambling Wildlife Nature Conservation bisa menjadi sesuatu yang lebih besar. Tambling bisa menjadi laboratorium hidup, di mana alam bertemu dengan sains, teknologi, pendidikan dan hubungan internasional.” tambahnya.

Gagasan tersebut menjadi semakin relevan ketika para ilmuwan dari berbagai disiplin ilmu datang ke Tambling. Ada penerima Nobel Kimia, Fisika, Kedokteran, Ekonomi, dan Perdamaian. Hadir pula para ilmuwan komputer, pakar kriptografi, astrofisikawan, akademisi bidang pertanian dan lingkungan, hingga tokoh kemanusiaan. Keragaman latar belakang tersebut membuka peluang bagi Tambling untuk tidak hanya menjadi contoh konservasi Indonesia, tetapi juga ruang pertukaran pengetahuan internasional.

Artha Graha Group

Ramos-Horta: Masyarakat Bukan Penonton

Salah satu pesan penting yang muncul dari kunjungan tersebut adalah bahwa keberhasilan konservasi tidak mungkin hanya mengandalkan pagar, aturan, dan aparat. Masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan harus menjadi bagian dari proses. Ramos-Horta menegaskan hal itu.

“Anda tidak bisa melakukan apa-apa tanpa berhubungan (kolaborasi) dengan rakyat yang tinggal di sini. Mereka harus merasakannya, percaya padanya, dan kemudian mereka membuat pengalaman yang hebat. Mereka bukan penonton.” tuturnya

Pandangan tersebut sekaligus menjadi tantangan bagi setiap pengelola kawasan konservasi. Hutan tidak berada di ruang kosong. Di sekelilingnya ada masyarakat, aktivitas ekonomi, kebutuhan pembangunan, serta berbagai kepentingan yang harus dipertemukan. Karena itu, keberlanjutan konservasi sangat bergantung pada kemampuan membangun hubungan antara manusia dan alam.

Harimau Sumatera dan Ujian Konservasi

Salah satu pengalaman penting TWNC adalah upaya perlindungan Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) yang berstatus Critically Endangered. Pusat Rehabilitasi Harimau Sumatera di TWNC menangani dan memulihkan harimau yang mengalami konflik sebelum dikembalikan ke habitat alaminya.

Di titik inilah konservasi menjadi persoalan nyata. Menjaga harimau bukan sekadar menyelamatkan seekor satwa. Habitatnya harus tetap tersedia. Hutan harus sehat. Sumber air harus terjaga. Rantai makanan harus berjalan. Konflik dengan manusia harus diminimalkan. Dengan kata lain, menyelamatkan satu spesies pada akhirnya berarti menjaga keseluruhan ekosistem.

Hutan yang terjaga juga memiliki fungsi lain yang tidak kalah penting: menyimpan karbon, mengatur tata air, mengurangi tekanan ekologis, serta menjadi penyangga kehidupan masyarakat di sekitarnya. “Indonesia adalah Contoh untuk Seluruh Dunia”

Ramos-Horta melihat pengalaman Indonesia dalam menjaga alam sebagai pembelajaran penting bagi dunia.

“Indonesia sendiri adalah contoh untuk seluruh dunia.”

Pernyataan tersebut menjadi menarik karena Indonesia merupakan salah satu negara dengan kekayaan biodiversitas terbesar di dunia, tetapi sekaligus menghadapi tekanan lingkungan yang tidak ringan. Kebakaran hutan dan lahan, perubahan iklim, deforestasi, bencana alam, hingga konflik manusia dengan satwa merupakan tantangan yang membutuhkan pendekatan multidisiplin.

Karena itu, kedatangan para penerima Nobel dan ilmuwan dunia ke Tambling dapat menjadi momentum untuk mempertemukan pengalaman lokal dengan pengetahuan global. “Bukan Kebun Binatang, tetapi Ekosistem Alami”

Salah satu peserta kunjungan, Laura Anne, menggambarkan keunikan Tambling sebagai sesuatu yang berbeda dari kawasan konservasi yang sekadar menampilkan satwa.

“Tambling adalah tempat yang sangat unik. Ini bukan kebun binatang atau taman, tetapi ekosistem alami di mana satwa, burung, ikan dan seluruh kehidupan di dalamnya masih berjalan dalam keseimbangan.” katanya

Menurutnya, tantangan terbesar justru bagaimana mempertahankan keaslian tersebut.

“Tantangannya adalah menjaga keunikan ini tanpa kehilangan keasliannya. Saya percaya setiap negara membutuhkan tempat seperti ini, agar kita menghargai apa yang kita miliki sebelum kehilangan, karena mengembalikannya jauh lebih sulit daripada menjaganya sejak awal.” urainya

Pesan itu sejalan dengan filosofi yang selama ini dikembangkan dalam gerakan konservasi Tambling: menjaga alam sebelum kerusakan terjadi.

Dari Tommy Winata, Sebuah Pesan Sederhana

Kunjungan 21 tokoh dunia tersebut pada akhirnya membawa perhatian internasional kepada sebuah kawasan konservasi di ujung selatan Sumatera.

Namun, di balik berbagai penghargaan Nobel, teknologi, sains dan gagasan besar tentang masa depan planet, ada pesan yang sebenarnya sangat sederhana: alam harus dijaga karena kehidupan manusia bergantung kepadanya.

Perjalanan Tommy Winata bersama Artha Graha Peduli di Tambling memperlihatkan bahwa konservasi membutuhkan kesabaran, konsistensi dan keberanian untuk mempertahankan sesuatu yang hasilnya mungkin baru dirasakan oleh generasi berikutnya.

Selama tiga dekade, Tambling menjadi ruang tempat manusia mencoba hidup berdampingan dengan alam.

Kini, ketika para peraih Nobel dan ilmuwan dunia datang melihatnya secara langsung, Tambling berpotensi memasuki babak baru: dari sebuah kawasan konservasi di Lampung menjadi laboratorium hidup yang mempertemukan alam Indonesia dengan ilmu pengetahuan dan kolaborasi global.

Pada akhirnya, filosofi yang menjadi dasar perjalanan konservasi tersebut terasa semakin relevan:

“Kita jaga alam, alam jaga kita.”