Isu yang Menyerang Seskab Letkol Teddy Dinilai Bagian dari Strategi Intelijen Tingkat Tinggi
Jakarta - Publik belakangan dihebohkan oleh berbagai isu yang menyasar Sekretaris Kabinet (Seskab), Letkol Teddy. Namun, di balik derasnya narasi yang beredar, sejumlah pengamat menilai bahwa serangan tersebut tidak bisa dipandang sekadar sebagai dinamika politik biasa.
Pemerhati intelijen dan keamanan, Surya Fermana, melihat adanya pola yang mengarah pada operasi yang lebih sistematis. Ia menyebut serangan terhadap Letkol Teddy sebagai bagian dari strategi tidak langsung untuk memengaruhi pusat kekuasaan.
“Dalam dunia intelijen, ada pendekatan yang disebut indirect approach. Menyerang pemimpin secara langsung itu berisiko tinggi, sehingga yang disasar adalah orang-orang di sekitarnya,” ujar Surya dalam keterangannya kepada media secara tertulis pada Kamis (23/04/2026)
Menyerang Lingkar Dalam, Bukan Pucuk Pimpinan
Menurut Surya, posisi Letkol Teddy bukan sekadar administratif. Sebagai orang kepercayaan Presiden, ia memiliki peran strategis dalam menjaga ritme kerja pemerintahan.
“Penyerang menggunakan pola ‘strike the shepherd’ secara terbalik. Mereka tidak menyerang pemimpin, tetapi ‘penjaga gerbang’-nya untuk menciptakan gangguan di sekitar pusat kekuasaan,” jelasnya.
Dengan melemahkan kredibilitas Seskab, lanjut Surya, efektivitas kerja Presiden dapat terganggu tanpa harus melakukan konfrontasi langsung.
Isu Perselisihan dan Upaya Fragmentasi
Salah satu isu yang mencuat adalah dugaan perselisihan antara Letkol Teddy dengan Panglima Kopassus. Surya menilai narasi ini bukan sekadar rumor, melainkan bagian dari upaya menciptakan fragmentasi institusi.
“Ini berbahaya karena mencoba membenturkan loyalitas korps dengan loyalitas personal. Jika persepsi ini terbentuk, stabilitas dukungan terhadap pemerintah bisa terganggu,” kata Surya.
Ia menambahkan bahwa upaya semacam ini kerap digunakan untuk melemahkan solidaritas internal, khususnya dalam struktur yang melibatkan unsur militer dan sipil.
Target Perang Informasi
Lebih jauh, Surya menilai serangan terhadap Letkol Teddy masuk dalam kategori information warfare atau perang informasi. Sebagai Seskab, posisi Teddy sangat strategis karena berkaitan dengan pengelolaan informasi sensitif negara.
“Secara fungsi, sekretaris adalah penjaga rahasia. Dalam konteks ini, ia merupakan aset HUMINT yang sangat penting. Jika integritasnya diragukan, maka keputusan Presiden bisa ikut dipertanyakan,” ujarnya.
Dugaan Propaganda Hitam
Terkait isu pemukulan yang sempat beredar, Surya menyebutnya sebagai bentuk black propaganda.
“Informasi seperti ini biasanya tidak memiliki sumber jelas, tetapi dibuat seolah-olah berasal dari lingkaran dalam. Tujuannya bukan mencari kebenaran, melainkan menciptakan kebingungan publik,” tegasnya.
Ia menilai kondisi ini dapat memicu cognitive dissonance, di mana masyarakat menjadi ragu terhadap figur yang sebelumnya dipercaya.
Solusi Respons yang Disarankan: Solid dan Tenang
Menghadapi situasi tersebut, Surya menyarankan dua langkah utama: menunjukkan soliditas dan menjaga ketenangan.
“Pertama, penting ada solidarity display. Presiden harus menunjukkan bahwa kepercayaan terhadap stafnya tidak goyah,” ujarnya.
Selain itu, ia juga menekankan pentingnya strategic silence dalam merespons isu.
“Tidak semua tudingan perlu dijawab. Respons berlebihan justru bisa memperpanjang umur isu. Cara terbaik adalah tetap bekerja dan menunjukkan bahwa sistem pemerintahan berjalan normal,” kata Surya.
Menjaga Stabilitas dari Lingkar Terdalam
Surya menegaskan bahwa posisi Letkol Teddy saat ini berada di titik krusial dalam menjaga stabilitas pemerintahan.
“Menjaga integritasnya berarti menjaga stabilitas di lingkaran terdalam kekuasaan. Ini bukan hanya soal individu, tetapi soal sistem,” pungkasnya.
Di tengah derasnya arus informasi, publik diimbau untuk tetap kritis dan tidak mudah terpengaruh oleh narasi yang belum terverifikasi.
DEDI ROHMAN










