Panas Tiket Jelang Bhayangkara vs Persib, Suporter Lokal Minta Diprioritaskan

Panas Tiket Jelang  Bhayangkara vs Persib,  Suporter Lokal Minta Diprioritaskan
Foto (Istimewa)

BANDAR LAMPUNG — Jelang laga panas antara Bhayangkara Presisi Lampung FC kontra Persib Bandung di Stadion Sumpah Pemuda PKOR Way Halim, Kamis (30/4/2026) pukul 19.00 WIB, polemik distribusi tiket memicu kegelisahan di kalangan suporter.

Isu utama mencuat terkait alokasi tiket bagi suporter tim tamu, yang disebut-sebut mencapai sekitar 3.000 lembar. Kondisi ini dinilai berpotensi mengurangi jatah pendukung tuan rumah, di tengah kapasitas stadion yang terbatas, sekitar 7.790 kursi.

Sejumlah suporter menilai mekanisme distribusi tiket sarat kepentingan di luar sepak bola. Kritik pun mengarah pada dugaan adanya “lobi tingkat atas” yang berpotensi menabrak regulasi.

“Harusnya distribusi tiket lebih transparan dan melibatkan komunitas suporter lokal. Jangan sampai sepak bola dicampuradukkan dengan kepentingan lain,” ujar salah satu suporter, Kamis (23/4/2026).

Di sisi lain, muncul harapan agar komunitas suporter Viking Persib Club dan Bobotoh di Lampung dapat dilibatkan sebagai pengendali distribusi tiket suporter tamu, guna memastikan pengawasan lebih baik terhadap arus kedatangan pendukung dari luar daerah.

Sementara itu, Ketua Sikambara, Junaedi, mengaku terkejut dengan besarnya alokasi tiket untuk tim tamu. Ia menilai hal ini bertolak belakang dengan harapan manajemen yang ingin dukungan maksimal bagi tuan rumah.

“Kalau tribun berimbang, tentu atmosfernya berbeda. Harapan kita kan kandang benar-benar jadi keuntungan,” ujar Ketua Pajero Indonesia Chapter Krakatau yang juga CEO Rumah Makan Minang Indah Grup ini.

Meski demikian, sebagian pihak memaklumi langkah tersebut sebagai strategi mendongkrak pemasukan dari pertandingan besar. Laga melawan tim populer seperti Persib dinilai memiliki nilai komersial tinggi.

Terlepas dari polemik, seluruh pihak sepakat bahwa faktor keamanan dan kondusivitas harus menjadi prioritas utama. Suporter diimbau menahan diri dan menjaga sportivitas, mengingat tingginya tensi pertandingan.

“Apapun hasilnya, jangan sampai ada kerusuhan atau perusakan. Nama baik Lampung harus dijaga,” kata salah satu perwakilan suporter.

Hingga kini, kepastian teknis penjualan tiket, termasuk harga dan skema distribusi resmi, masih dinantikan. Bahkan, muncul kekhawatiran laga bisa digelar tanpa penonton jika izin keamanan tidak terpenuhi, sebagaimana terjadi di beberapa daerah lain.

Dengan dinamika yang terus berkembang, laga ini tak hanya menjadi ujian di atas lapangan, tetapi juga ujian kedewasaan suporter dalam menjaga marwah sepak bola dan ketertiban daerah.