Mirza Bongkar Masalah UMKM Lampung: 70% Masih Jual Mentah
Gubernur Lampung mengungkap lemahnya hilirisasi UMKM yang masih didominasi penjualan bahan mentah. Pemprov kini dorong transformasi lewat AI, penguatan SDM, dan akses pasar global.
BANDARLAMPUNG — Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal, mengungkap persoalan mendasar yang masih membelit sektor UMKM di daerahnya: dominasi penjualan komoditas mentah yang mencapai 70 persen.
Kondisi ini dinilai menjadi penghambat utama peningkatan nilai tambah dan daya saing produk lokal di pasar nasional maupun global.
“Sebagian besar masih dijual dalam bentuk mentah. Padahal jika diolah, nilainya bisa naik berkali lipat,” ujar Mirza dalam pelatihan pengembangan kapasitas UMKM di Gedung Pusiban, Senin (20/4/2026).
Dengan jumlah sekitar 498 ribu pelaku usaha, UMKM disebut sebagai tulang punggung ekonomi Lampung. Namun, lemahnya hilirisasi, keterbatasan akses pasar, serta minimnya penguasaan teknologi menjadi tantangan serius yang belum teratasi.
Pemprov Lampung kini mulai menggeser pendekatan dari sekadar pembinaan menjadi transformasi ekosistem UMKM secara menyeluruh. Salah satu langkah yang didorong adalah pemanfaatan teknologi digital hingga kecerdasan buatan (AI) untuk meningkatkan efisiensi dan kualitas produk.
Program pelatihan bertema “AI untuk UMKM: Lebih Efisien dan Lebih Untung” ini digelar bekerja sama dengan PT Permodalan Nasional Madani sebagai upaya mempercepat adaptasi teknologi di kalangan pelaku usaha kecil.
Mirza juga menyoroti persoalan klasik lain, yakni UMKM yang masih berjalan sendiri tanpa dukungan ekosistem yang terintegrasi, mulai dari permodalan hingga pemasaran.
“Tidak boleh lagi UMKM berjuang sendiri. Ini yang akan kita desain ulang, agar ada sistem yang menopang dari hulu ke hilir,” tegasnya.
Lampung sendiri memiliki komoditas unggulan seperti singkong, jagung, dan pisang yang selama ini banyak diolah menjadi produk sederhana seperti keripik. Namun, potensi ekspor dinilai belum tergarap optimal akibat lemahnya manajemen usaha dan branding produk.
Di sisi lain, peluang pasar dinilai sangat besar. Data Pemprov mencatat kunjungan wisatawan ke Lampung mencapai 24,7 juta orang sepanjang 2025, yang seharusnya bisa menjadi pasar langsung bagi produk UMKM lokal.
“Wisatawan datang, tapi belum semuanya membeli produk UMKM kita. Ini peluang yang harus ditangkap,” ujarnya.
Gubernur menilai penguatan UMKM dapat menjadi solusi cepat untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dibanding menunggu investasi industri besar. Dengan peningkatan kualitas SDM dan inovasi, sektor ini diyakini mampu memberikan dampak signifikan dalam waktu relatif singkat.
Sebanyak 220 pelaku UMKM mengikuti pelatihan ini dan diharapkan menjadi motor penggerak perubahan, terutama dalam mendorong hilirisasi produk, ekspansi pasar, serta pemanfaatan teknologi modern.
Pemprov Lampung menargetkan, melalui transformasi ini, UMKM dapat menjadi pilar utama dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah hingga 8 persen, sekaligus meningkatkan daya saing produk lokal di pasar global.
REDAKSI










