Investasi Hijau Rp400 M Masuk Lampung
Lampung resmi mendapat investasi ekonomi hijau melalui kerja sama Pemprov dengan PT Nusantara Plastik Energi. Proyek ini mencakup pengolahan sampah menjadi energi, biomassa, hingga PLTS dengan nilai investasi awal 25 juta euro dan potensi pengembangan skala besar.
BANDAR LAMPUNG – Pemerintah Provinsi Lampung kembali menarik investasi strategis di sektor ekonomi hijau melalui penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) dengan PT Nusantara Plastik Energi di Ruang Kerja Gubernur, Rabu (17/6/2026).
Kerja sama ini menandai masuknya investasi pengembangan pengolahan sampah dan energi terbarukan di Lampung dengan nilai awal sekitar 25 juta euro, serta potensi ekspansi ke skala industri yang lebih besar di masa mendatang.
Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal bersama Direktur Utama PT Nusantara Plastik Energi Muhammad Dani SM Rabbani menegaskan bahwa proyek ini tidak hanya berorientasi pada pengelolaan sampah, tetapi juga pada penciptaan nilai ekonomi baru melalui konsep ekonomi sirkular.
Ruang lingkup kerja sama meliputi pembangunan fasilitas pengolahan sampah, pengembangan energi terbarukan, serta pembentukan ekosistem kawasan industri hijau di Provinsi Lampung.
Teknologi yang akan diterapkan mencakup sistem pengolahan sampah menjadi energi (waste-to-energy), produksi bahan bakar biomassa, pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), serta Pembangkit Listrik Tenaga Air skala kecil (micro hydro).
Pada tahap awal, proyek ini akan membangun fasilitas pengolahan sampah plastik berkapasitas 15.000 ton per tahun yang diperkirakan menyerap sekitar 40 tenaga kerja lokal. Sistem yang digunakan bersifat modular sehingga dapat diperluas secara bertahap hingga mencapai kapasitas 200.000 ton per tahun.
Selain mengurangi beban sampah daerah, fasilitas ini juga akan menghasilkan produk turunan bernilai ekonomi seperti minyak pirolisis, Refuse Derived Fuel (RDF), serta bahan baku daur ulang yang memiliki nilai jual di pasar industri.
Keunggulan lain dari proyek ini adalah potensi tambahan pendapatan melalui skema kredit karbon, seiring dengan pengurangan emisi dan penerapan energi bersih dalam proses pengolahan.
Pemilihan Lampung sebagai lokasi pilot project didasarkan pada posisi strategis, kesiapan infrastruktur, serta dukungan pemerintah daerah dalam mendorong transformasi menuju ekonomi hijau.
Dengan masuknya investasi ini, Lampung diproyeksikan menjadi salah satu model pengembangan ekonomi sirkular di Indonesia yang tidak hanya menyelesaikan persoalan sampah, tetapi juga menciptakan lapangan kerja baru dan memperkuat daya saing daerah di sektor energi bersih.
Pemerintah Provinsi Lampung menegaskan bahwa kerja sama ini merupakan bagian dari strategi jangka panjang untuk mempercepat transisi menuju pembangunan berkelanjutan berbasis energi terbarukan.
REDAKSI










