Arief Poyuono: ADHARA, Reformasi Logistik Harus Dimulai dari Perubahan Sistem, Bukan Sekadar Membangun Infrastruktur

Arief Poyuono menilai reformasi logistik nasional harus dimulai dari perubahan sistem, bukan sekadar pembangunan infrastruktur. Ia memperkenalkan konsep ADHARA, platform integrasi supply chain yang menghubungkan logistik, data, pembiayaan, produksi, dan perdagangan untuk meningkatkan efisiensi serta daya saing ekonomi Indonesia.

Arief Poyuono: ADHARA, Reformasi Logistik Harus Dimulai dari Perubahan Sistem, Bukan Sekadar Membangun Infrastruktur
Komisaris PT Pelindo (Persero), Arief Poyuono | Foto: Istimewa

JAKARTA– Reformasi logistik nasional tidak bisa lagi dipahami sebatas pembangunan pelabuhan, jalan tol, atau gudang. Yang jauh lebih penting adalah membangun sistem rantai pasok (supply chain) yang terintegrasi, berbasis data, dan terhubung dengan ekosistem pembiayaan nasional maupun global.

Pandangan tersebut disampaikan Komisaris PT Pelindo (Persero), Arief Poyuono secara santai pada hari senin (27/07/2026), saat menjelaskan konsep besar yang ia sebut sebagai reformasi arsitektur logistik Indonesia. 
Menurut Arief, biaya logistik Indonesia yang masih berada di kisaran 23–24 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) menunjukkan bahwa persoalan utama bukan lagi terletak pada infrastruktur fisik.

"Masalah utama bukan infrastruktur fisik, melainkan dwelling time, administrasi kepabeanan, dan kepastian delivery. Dalam supply chain modern, keterlambatan pengiriman jauh lebih mahal dibanding tarif logistik yang tinggi karena industri global hidup dengan sistem just in time production," ujarnya.

Ia menegaskan bahwa reformasi logistik sesungguhnya harus dimulai dari pembenahan sistem, dan bagaimana kita integrasikan para stake holder dalam rantai pasok logistik ini sehingga mendorong perbaikan ekonomi nasional kita

"Reformasi logistik yang sebenarnya bukan proyek fisik, tetapi reformasi arsitektur sistem. Mulai dari pre-clearance customs, pertukaran data logistik nasional, sistem penjadwalan truk, bonded logistic hub, hingga kepastian waktu pengiriman." urainya

Distribusi Modern Berbasis Informasi
Dalam wawancara tersebut, Arief menjelaskan bahwa paradigma distribusi telah berubah secara fundamental.
Jika sebelumnya distribusi hanya dipahami sebagai proses memindahkan barang, kini distribusi telah menjadi sistem koordinasi informasi ekonomi secara real time.

"Aliran barang saat ini dikendalikan oleh aliran informasi. Demand, inventory, production planning, hingga pembiayaan harus berada dalam satu ekosistem yang saling terhubung." tuturnya

Menurutnya, negara yang mampu menguasai sistem logistik otomatis memiliki kendali terhadap rantai perdagangan global.
Indonesia Masih Bergantung pada Asing

Sebagai contoh, Arief menyoroti industri gas nasional.
Indonesia, katanya, masih menjadi eksportir sekaligus importir gas karena belum memiliki kemampuan logistik yang memadai untuk menjadi offtaker.

"Mengapa kita tidak bisa menjadi offtaker? Karena untuk menjadi offtaker harus memiliki kemampuan logistik. Gas adalah komoditas yang berisiko tinggi sehingga membutuhkan teknologi logistik yang sangat maju." jelasnya

Hal serupa juga terjadi pada ekspor batubara dan nikel.
"Sebagian besar ekspor kita masih melalui Singapura karena Indonesia belum memiliki perusahaan logistik berskala dunia. Akibatnya, walaupun neraca perdagangan surplus, neraca jasa tetap defisit." ungkapnya

Menurut Arief, pengelolaan logistik internasional saat ini telah menjadi bagian dari ekosistem keuangan global.
"Pemilik perusahaan logistik besar terhubung dengan lembaga hedge fund yang mengendalikan supply chain dunia." paparnya

Belajar dari Sistem Pertanian China
Lebih jauh Arief Poyuono kemudian membandingkan kondisi Indonesia dengan China yang telah membangun pusat logistik pertanian di setiap kabupaten. Di sana, kata dia, petani tidak hanya menyimpan hasil panennya, tetapi juga memperoleh akses pembiayaan dari resi gudang yang dapat dijaminkan ke bank.

"Petani mendapatkan informasi harga internasional secara online. Mereka bisa menjaminkan barangnya ke bank sebelum produk terjual." lanjutnya

Dampaknya, industri pengolahan berkembang pesat karena pasokan bahan baku selalu tersedia.
"Tidak ada tengkulak, tidak ada permainan harga saat panen. Petani menjadi penentu harga berdasarkan harga internasional."jelasnya

Sebaliknya di Indonesia, menurut Arief, belum adanya ekosistem logistik nasional menyebabkan ekonomi kehilangan efisiensi.
"Akibat tidak adanya ekosistem logistik ini terjadi pemborosan sekitar 20 hingga 25 persen dari PDB. Yang dirugikan adalah petani." paparnya

Tiga Agenda Besar Reformasi Logistik Nasional
Dalam pandangannya, Indonesia harus segera menjalankan tiga agenda utama reformasi logistik.

Pertama , memperbaiki indeks logistik nasional melalui pengembangan angkutan massal seperti kereta api dan kapal laut, memperbanyak pelabuhan pengumpan, serta membangun pusat logistik terpadu di setiap pulau.
"Kalau bisa satu pulau satu pusat logistik yang terintegrasi dengan sistem stokis dan logistik berbasis e-commerce." tuturnya

Kedua , mengubah orientasi pembangunan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK).
"KEK sebaiknya dibangun berdasarkan lingkungan strategis perdagangan dunia, bukan sekadar potensi ekonomi wilayah." jelasnya

Ketiga , meningkatkan investasi pada riset dan teknologi.
"Biaya riset bisa didukung pemerintah apabila terbukti meningkatkan produktivitas industri." harapnya

ADHARA, Platform Integrasi Supply Chain Logistik Nasional
Sebagai solusi konkret, Arief memperkenalkan konsep platform digital yang ia beri nama ADHARA.
Platform tersebut dirancang menjadi penghubung seluruh rantai pasok Logistik nasional dengan sistem pembiayaan perbankan.

"Mari kita mulai dengan sebuah platform yang bertugas memberikan solusi rantai pasok logistik untuk seluruh pembiayaan ekspor komoditas." ajaknya

Dalam konsep tersebut, setiap transaksi ekspor akan memperoleh dukungan pembiayaan, jaminan pembayaran, hingga pengawasan produksi secara real time.
"User hanya membutuhkan satu orang karyawan untuk mengelola seluruh proses ekspor karena seluruh supply chain sudah terintegrasi." jelasnya

Menurutnya, model tersebut akan menciptakan sistem produksi nasional yang jauh lebih efisien.

Supply Chain Logistik Menentukan Daya Saing Bangsa
Menutup pemaparannya, Arief menegaskan bahwa daya saing sebuah negara tidak lagi ditentukan oleh murahnya tenaga kerja.
"Cara yang tepat mengukur daya saing manufaktur bukan membandingkan biaya tenaga kerja, melainkan membandingkan kualitas supply chain."ungkapnya

Ia optimistis Indonesia mampu menjadi pusat manufaktur dunia apabila memiliki sistem rantai pasok yang efisien dan terintegrasi.
"Membangun harus dilakukan dengan desain yang jelas dan fokus pada hasil. Saya yakin hanya masalah waktu Indonesia akan menjadi lebih hebat dibanding negara mana pun." Pungkasnya.

Arief Poyuono mengungkapkan bahwa Detailnya,  apa dan bagaimana ADHARA secara teknis dummy sedang dikordinasikan dengan para stake holder terkait dengan implementasi ini sehingga saat Kick off nti tinggal Run Off untuk akselerasi perbaiki ekonomi  Nasional wabil Khusus bidang logistik – distribusi produksi nasional kita