Lima Tahun Merger Pelindo:  Ujian Kedewasaan Hubungan Industrial Indonesia

Lima Tahun Merger Pelindo:   Ujian Kedewasaan Hubungan Industrial Indonesia
Foto (Istimewa)

Pada tanggal 1 oktober selain diperingati sebagai hari Kesaktian Pancasila pekerja PT Pelabuhan Indonesia juga memperingati Hari Jadi Merger Pelabuhan. Lima tahun pasca merger Pelindo I, II, III, dan IV menjadi PT Pelabuhan Indonesia (Persero) pada 1 Oktober 2021, publik disuguhi narasi keberhasilan. Aset terkonsolidasi, digitalisasi melesat, dan efisiensi logistik diklaim membaik. 

Oleh : Djusman H Umar *)

*)Praktisi Ketenagakerjaan

Sebagai praktisi ketenagakerjaan yang mengamati proses ini sejak awal, saya menilai merger ini layak diapresiasi secara korporasi. sementara jika menggunakan lensa hubungan industrial, merger ini masih menghadapi pekerjaan rumah yang besar yang perlu diselesaikan. 

Merger Pelindo adalah laboratorium terbesar hubungan industrial di Indonesia dalam satu dekade terakhir. Bayangkan dengan menggabungkan  puluhan ribu pekerja dari empat budaya perusahaan yang berbeda, empat struktur pengupahan yang berbeda, dan empat tradisi  serikat yang berbeda, menjadi satu entitas.

Secara teori, ini adalah resep sempurna untuk konflik industrial yang besar dan berkepanjangan. Namun faktanya, konflik besar itu tidak terjadi. Mengapa? Jawabannya bukan pada banyaknya direksi dan komisaris canggihnya alat bongkar muat pelabuhan atau moderennya system digitalisasi melainkan pada kedewasaan Serikat Pekerja Pelabuhan Indonesia Bersatu (SPPI Bersatu). 

Dalam literatur hubungan industrial, kita mengenal dua tipe serikat adversarial yang selalu konfrontatif, dan cooperative yang mengedepankan kemitraan. SPPI Bersatu mengambil jalan ketiga yang langka: critical cooperative. Mereka mendukung merger sebagai keniscayaan bisnis, tetapi dengan catatan syarat yang cukup lugas. 

Peran SPPI Bersatu Pada fase pra-merger dan awal merger.

SPPI Bersatu berhasil membangun komitmen terhadap kelangsungan hidup perusahan dan perlindungan hak hak pekerja, selanjutnya pada fase pasca merger tahun 2021 sampai saat ini tahun kelima merger, mereka menjadi ”katup pengaman sosial” yang memastikan masa transisi sampai masa adaptasi berjalan tanpa gejolak bahkan mogok kerja di pelabuhan. Ini adalah modal sosial yang luar biasa mahal dan tidak bisa dibeli dengan konsultan termahal sekalipun.

Dalam lima tahun merger SPPI Bersatu mengambil peran yang paradox, di satu sisi sebagai penopang utama keberhasilan merger berjalan kondusif tanpa gejolak disisi yang lain eksistensinya dianggap tidak penting karna merger telah berhasil. 

Lima tahun lahirnya pelindo bersatu adalah bukti bahwa menggabungkan perusahan adalah saat transisi paling rawan sekalipun. peran serta seluruh elemen termasuk serikat pekerja yang mampu meredam gejolak meyakinkan anggot tetap menjaga kelangsungan operasional dan perlindungan pekerja.  Secara procedural hubungan industrial cukup kondusif berhasil namun secara substansi belum sepenuhnya berkeadilan.