Dari Jalanan ke Istana: Ketika Mantan Aktivis 98 Mengubah Pola Perjuangan
Jakarta – Gelombang kritik mahasiswa terhadap sejumlah mantan aktivis gerakan reformasi yang kini berada di lingkaran kekuasaan semakin menguat. Dalam beberapa forum diskusi publik, mahasiswa secara terbuka mempertanyakan konsistensi idealisme para eks aktivis yang dahulu dikenal sebagai simbol perlawanan terhadap rezim, namun kini menjadi bagian dari pemerintahan.
Puncak ketegangan terjadi dalam sejumlah diskusi yang menghadirkan Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan (BP Taskin) Budiman Sudjatmiko dan sejumlah mantan aktivis lainnya. Di Semarang, Jawa Tengah, mahasiswa mempertanyakan sikap politik Budiman yang dinilai telah menjauh dari cita-cita perjuangan reformasi. Situasi serupa kembali terjadi dalam forum diskusi di Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, yang berakhir tidak kondusif setelah mahasiswa melontarkan kritik keras kepada para mantan aktivis tersebut.
Bagi sebagian mahasiswa, bergabungnya mantan aktivis ke dalam pemerintahan dianggap sebagai bentuk pengingkaran terhadap semangat perjuangan yang dulu mereka gaungkan. Namun tudingan itu dibantah tegas oleh Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono.
Mantan Ketua Umum Partai Rakyat Demokratik (PRD) tersebut menegaskan bahwa substansi perjuangan para aktivis tidak berubah, hanya medan perjuangannya yang berbeda.
"Gak ada yang berubah, arenanya saja yang berubah. Dulu di jalanan, sekarang di kekuasaan. Justru kekuasaan itulah kita jadikan alat untuk memperjuangkan apa yang dulu kita teriakkan di jalanan, Indonesia yang berdikari, adil, makmur," kata Agus Jabo Priyono seperti dikutip dari Republika, pada Selasa (16/6/2026).
Menurut Agus, kritik dan perbedaan pandangan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan demokrasi. Karena itu, ia menilai setiap perbedaan semestinya diselesaikan melalui dialog dan musyawarah.
"Ya kalau ada perbedaan pandangan dan sikap, lebih baik dialog, musyawarah, untuk mencari jalan keluar terbaik, kepentingan rakyat harus ditempatkan lebih tinggi dari kepentingan politik maupun kelompok," ujarnya.
Sikap serupa juga disampaikan Budiman Sudjatmiko. Mantan aktivis yang pernah menjadi ikon perlawanan terhadap rezim Orde Baru itu menyayangkan aksi penghentian diskusi yang dilakukan mahasiswa dalam forum di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) UGM.
Budiman menegaskan dirinya tidak menolak kritik dan justru siap berdialog secara terbuka dengan mahasiswa. Namun menurutnya, forum diskusi harus tetap berjalan dalam suasana yang kondusif.
"Seharusnya kita bisa berdialog dengan sehat dan lancar. Saya mau kok berdiskusi dengan mahasiswa, tapi tadi sayangnya kondisinya sudah tidak kondusif," kata Budiman yang dilansir dari republika pada selasa (16/06/2026).
Di sisi lain, mahasiswa memiliki pandangan berbeda. Ketua Serikat Mahasiswa UGM (Sema UGM), Mesa, menyebut kemarahan mahasiswa tidak muncul tanpa alasan. Menurutnya, berbagai kebijakan pemerintah dinilai belum mampu menjawab persoalan riil yang dihadapi masyarakat, mulai dari tekanan ekonomi, kemiskinan, hingga menyempitnya ruang kritik.
Dalam aksi tersebut, Budiman menjadi sasaran kritik paling tajam. Sosok yang dahulu menjadi inspirasi gerakan mahasiswa justru dianggap telah meninggalkan nilai-nilai perjuangan yang pernah diperjuangkannya.
"Budiman Sudjatmiko merupakan simbol pengkhianat. Dia dulunya adalah inspirasi, sekarang dia justru mengkhianati adik-adiknya, kami," kata Mesa.
Mahasiswa juga menilai paparan yang disampaikan para narasumber dalam forum lebih banyak menonjolkan keberhasilan pemerintah, namun tidak mencerminkan kondisi yang dirasakan masyarakat di lapangan.
"Datanglah ke Universitas Gajah Mada, tapi jangan menggunakan atau membawa data-data yang direkayasa, yang dipilih-pilih supaya terlihat positif," ujarnya.
Mesa menegaskan bahwa realitas yang dihadapi masyarakat saat ini justru menunjukkan meningkatnya tekanan ekonomi yang dirasakan hingga tingkat rumah tangga.
Perdebatan antara mahasiswa dan para mantan aktivis ini memperlihatkan adanya jurang persepsi mengenai makna perjuangan di era demokrasi. Bagi para mantan aktivis yang kini berada dalam pemerintahan, kekuasaan dipandang sebagai instrumen untuk mewujudkan cita-cita perubahan. Sementara bagi sebagian mahasiswa, kedekatan dengan kekuasaan justru dianggap telah menjauhkan mereka dari semangat keberpihakan kepada rakyat yang dahulu menjadi identitas utama gerakan reformasi.
Konflik gagasan tersebut tampaknya akan terus menjadi perdebatan publik: apakah masuk ke dalam sistem merupakan strategi perjuangan yang lebih efektif, atau justru menjadi titik di mana idealisme perlahan kehilangan arah.










