Way Rilau Pastikan Pasokan Air Masih Aman
Perumda Air Minum Way Rilau memastikan pasokan air bersih di Bandar Lampung masih aman meski musim kemarau. Distribusi bantuan air terus dilakukan ke wilayah terdampak kekeringan.
BANDAR LAMPUNG – Perumda Air Minum Way Rilau memastikan pasokan air bersih bagi pelanggan di Bandar Lampung masih dalam kondisi relatif aman meski memasuki musim kemarau.
Kepala Bagian Produksi Perumda Air Minum Way Rilau, Kurniawan, mengatakan instalasi yang dikelola langsung oleh Perumda saat ini masih memproduksi sekitar 500 liter per detik. Sementara itu, Instalasi Pengolahan Air (IPA) Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU) di Tegineneng tetap beroperasi dengan kapasitas sekitar 400 liter per detik.
Selain menjaga pasokan bagi pelanggan, Perumda juga terus menyalurkan bantuan air bersih kepada masyarakat yang mengalami kesulitan memperoleh air akibat dampak musim kemarau.
"Warga yang membutuhkan bantuan dapat mengajukan permohonan melalui surat pengantar dari ketua RT atau pamong setempat," ujar Kurniawan, Senin (3/8/2026).
Ia menjelaskan distribusi dilakukan menggunakan mobil tangki yang mengambil pasokan air dari Instalasi Pengolahan Air Sumber Putri maupun Reservoir Rajabasa yang telah dilengkapi jalur pengisian khusus.
Menurut Kurniawan, sejumlah wilayah mulai membutuhkan bantuan air bersih, di antaranya Way Laga, Teluk Betung Timur, serta beberapa kawasan menuju Panjang dan Batu Suluh.
"Rata-rata distribusi bantuan air bersih saat ini mencapai empat hingga enam mobil tangki per hari. Sumber airnya berasal dari Instalasi Pengolahan Air Sumber Putri," katanya.
Perumda Way Rilau juga berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Dinas Pemadam Kebakaran untuk mengantisipasi meningkatnya kebutuhan air bersih selama musim kemarau.
Terkait potensi penurunan debit air baku, Kurniawan mengatakan Perumda belum akan menerapkan penggiliran distribusi apabila penurunan masih berada di kisaran 15 persen.
Namun, jika debit air turun lebih dari 40 persen, pengurangan jam alir akan dipertimbangkan, terutama di wilayah dataran tinggi dan daerah yang berada jauh dari jaringan distribusi agar pelayanan tetap merata.
Ia mengakui Perumda mewaspadai kemungkinan musim kemarau berlangsung hingga akhir 2026. Berdasarkan pengalaman sebelumnya, penurunan debit air dapat mencapai 30 hingga 40 persen sehingga pengaturan jadwal distribusi sempat diterapkan di sejumlah wilayah.
Meski demikian, Perumda memastikan akan terus mengoptimalkan pengelolaan pasokan dan distribusi agar kebutuhan air bersih masyarakat tetap terpenuhi selama musim kemarau.











