Lestarikan Budaya Lampung, Lomba Cawa Bubalah Digelar

Tradisi lisan Cawa Bubalah diangkat ke era digital lewat lomba video kreatif. Ajang ini menyasar generasi muda untuk menjaga budaya sekaligus tampil di ruang digital.

Lestarikan Budaya Lampung, Lomba Cawa Bubalah Digelar
Foto: Istimewa

BANDAR LAMPUNG — Upaya pelestarian budaya Lampung kini mulai menyasar ruang digital. Tradisi lisan Cawa Bubalah diangkat menjadi konten kreatif melalui lomba video yang menyasar generasi muda.

Program ini digelar oleh Mighrul Lampung Bersatu sebagai langkah adaptasi budaya lokal agar tetap relevan di era modern.

Ketua Umum DPP Mighrul Lampung Bersatu, Dwita Ria Gunadi, menegaskan bahwa transformasi ini penting untuk menjaga keberlangsungan tradisi.

“Cawa Bubalah bukan hanya budaya lisan, tapi nilai musyawarah dan kearifan lokal yang harus terus hidup, terutama di kalangan generasi muda,” ujarnya.

Melalui lomba ini, peserta diminta memproduksi video berdurasi 3–5 menit yang mengangkat nilai budaya Lampung, mulai dari adat istiadat, kuliner khas, hingga potensi pariwisata daerah.

Kompetisi ini terbuka untuk usia 16 hingga 35 tahun, dengan format tim beranggotakan dua hingga empat orang. Penilaian tidak hanya menitikberatkan pada kreativitas visual, tetapi juga kedalaman pesan budaya yang disampaikan.

Langkah ini dinilai sebagai strategi baru dalam pelestarian budaya, dengan memanfaatkan platform digital sebagai medium penyebaran nilai-nilai lokal.

Selain menjadi ajang kompetisi, kegiatan ini juga berfungsi sebagai edukasi publik untuk menghidupkan kembali tradisi musyawarah dan komunikasi khas Lampung yang mulai jarang dipraktikkan.

Pendaftaran lomba dibuka hingga 27 April 2026, dengan batas pengumpulan karya pada 30 April 2026 sebelum masuk tahap penilaian.

Melalui inisiatif ini, penyelenggara berharap generasi muda tidak hanya menjadi penikmat budaya, tetapi juga kreator yang aktif menjaga dan mempromosikan identitas daerah di tengah arus globalisasi.