Bantuan Alsintan Tak Maksimal, Petani Mesuji Lebih Pilih Pengusaha Lokal
Brigade Pangan di Mesuji, Lampung, mengaku kesulitan menjangkau petani meski telah menerima bantuan alsintan dari pemerintah. Ketua brigade, Solihin, menyebut petani masih terikat kemitraan lama dengan pengusaha lokal.
MESUJI — Pemanfaatan bantuan alat mesin pertanian (alsintan) di Kabupaten Mesuji, Lampung, belum berjalan optimal. Brigade Pangan (BP) Merah Putih Desa Tanjung Serayan mengungkap masih terbatasnya kemitraan dengan petani setempat.
Ketua Brigade Pangan Merah Putih, Solihin, mengatakan dari total 200 hektare lahan binaan, baru sekitar 50 hektare yang memanfaatkan alsintan milik brigade untuk pengolahan lahan pascapanen.
Menurutnya, rendahnya pemanfaatan tersebut bukan disebabkan keterbatasan alat, melainkan karena sebagian besar petani telah lebih dulu menjalin kerja sama dengan pengusaha lokal.
“Petani sudah terikat komitmen dengan pengusaha setempat yang menyediakan alsintan, seperti traktor, combine, rotavator, hingga mesin tanam,” ujar Solihin, Minggu (26/4/2026).
Brigade Pangan Merah Putih sendiri merupakan kelompok penerima bantuan alsintan dari Kementerian Pertanian Republik Indonesia. Brigade ini beranggotakan 15 orang dan diharapkan menjadi motor penggerak mekanisasi pertanian serta mendukung ketahanan pangan daerah.
Namun di lapangan, pola kemitraan tradisional antara petani dan pemilik modal masih menjadi tantangan utama dalam optimalisasi penggunaan bantuan tersebut.
Hingga kini, baru seperempat dari total lahan binaan yang dapat dilayani oleh brigade. Pihaknya mengakui perlu pendekatan bertahap untuk mengajak petani beralih atau menjalin kerja sama baru.
“Kami terus berupaya merangkul petani lain, tetapi memang butuh waktu karena mereka sudah punya pola kemitraan lama,” katanya.
Pemerintah melalui Kementerian Pertanian sebelumnya berharap Brigade Pangan dapat mempercepat modernisasi pertanian sekaligus menciptakan kemitraan yang lebih efisien dan menguntungkan bagi petani.
AHMAD FAUZI










