Lampung Ekspor Perdana Tapioka ke Tiongkok

Gubernur Lampung melepas ekspor 3.300 ton tapioka senilai Rp26 miliar ke Tiongkok, memperkuat hilirisasi singkong dan membuka peluang pasar global bagi petani lokal.

Lampung Ekspor Perdana Tapioka ke Tiongkok
Foto: Istimewa

BANDARLAMPUNG — Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal, melepas ekspor perdana 3.300 ton tepung tapioka ke Tiongkok dengan nilai mencapai Rp26 miliar di Pelabuhan Panjang, Bandarlampung, Selasa (5/5/2026).

Ekspor ini menjadi tonggak penting dalam penguatan hilirisasi komoditas singkong sekaligus memperluas akses pasar internasional bagi petani dan pelaku usaha di daerah.

Pelepasan tersebut juga menegaskan posisi Lampung sebagai lumbung singkong nasional serta pusat industri tapioka yang terus berkembang.

Gubernur Mirza menegaskan bahwa singkong telah menjadi bagian dari sejarah panjang masyarakat Lampung sejak masa kolonial. Sebelum beras menjadi makanan utama, masyarakat setempat mengandalkan umbi-umbian seperti singkong, sagu, dan sorgum.

Secara geografis, Lampung dinilai memiliki kondisi ideal untuk pengembangan komoditas tersebut.

“Hampir 20 persen wilayah Lampung ditanami singkong. Dari sinilah tumbuh industri tapioka yang kini menjadi salah satu tulang punggung ekonomi daerah,” ujarnya.

Ia menyebutkan, pada 2025 sekitar 70 persen produksi tapioka nasional berasal dari Lampung, menjadikan provinsi ini sebagai pemain utama di tingkat nasional hingga Asia.

Meski demikian, tantangan masih dihadapi, terutama fluktuasi harga singkong yang sempat turun hingga Rp400–Rp500 per kilogram pada 2025 dan berdampak pada pendapatan petani.

Sebagai langkah strategis, pemerintah daerah bersama pemerintah pusat mendorong kebijakan penghentian impor tapioka untuk melindungi pasar domestik.

“Kalau ingin memakmurkan petani, industrinya juga harus didorong. Kita ingin berjalan bersama, bukan saling melemahkan,” tegas Mirza.

Selain itu, Pemprov Lampung juga menggagas pembentukan Lampung National Cassava Center bekerja sama dengan Universitas Lampung untuk menghasilkan bibit unggul dan meningkatkan produktivitas serta kualitas singkong.

Sementara itu, Plt Deputi Bidang Karantina Tumbuhan Badan Karantina Indonesia, Drama Panca Putra, menyebutkan bahwa singkong merupakan komoditas strategis dengan potensi hilirisasi tinggi.

“Tepung tapioka memiliki pemanfaatan luas, mulai dari industri makanan, farmasi, tekstil hingga kertas. Ini menunjukkan nilai tambah yang besar,” jelasnya.

Ia menambahkan, pasar ekspor utama tapioka Indonesia saat ini masih didominasi Tiongkok, disusul Filipina, Selandia Baru, dan Taiwan. Sepanjang 2025, ekspor mencapai sekitar 22.500 ton dengan nilai lebih dari Rp130 miliar.

Namun, ia mengingatkan pentingnya menjaga kualitas dan kontinuitas produk agar mampu memenuhi standar pasar global.

“Kunci keberhasilan ekspor adalah kualitas dan kepercayaan,” ujarnya.

Di sisi lain, CEO Intan Group, Jeremy Gozal, mengungkapkan ekspor perdana ini merupakan hasil dorongan kuat Pemerintah Provinsi Lampung dalam membuka pasar internasional.

Pengiriman dilakukan ke Pelabuhan Xiamen, Fujian, Tiongkok, dengan total sekitar 180 kontainer.

“Ini tonggak sejarah bagi kami. Tiongkok merupakan pasar potensial, dan ke depan kami juga membuka peluang ke Korea Selatan dan Bangladesh,” katanya.

Menurut Jeremy, ekspor menjadi solusi untuk meningkatkan harga singkong di tingkat petani sekaligus memperkuat daya saing produk lokal di pasar global.