3 Bocah Thalasemia, Kisah Haru Lamsel

Perjuangan seorang ibu tunggal di Lampung Selatan merawat tiga anak penderita thalasemia membuka sisi lain persoalan penyakit kronis anak dan pentingnya dukungan negara terhadap keluarga rentan.

3 Bocah Thalasemia, Kisah Haru Lamsel
Foto: Istimewa

LAMPUNG SELATAN – Kasus tiga anak penderita Thalasemia di Kabupaten Lampung Selatan menyoroti beratnya beban keluarga dalam menghadapi penyakit kronis sejak usia dini, sekaligus pentingnya intervensi negara dalam menjamin keberlangsungan hidup pasien.

Ketiga anak tersebut, Almeira Azzahra Alfatun Nisa (8), Abhan Sultanul Alam (7), dan Amara Zea Pelangi (5), harus menjalani transfusi darah rutin setiap dua minggu akibat kondisi hemoglobin yang tidak stabil. Penyakit ini membuat mereka bergantung pada layanan kesehatan jangka panjang dengan risiko komplikasi serius.

Ibu mereka, Desi Rohilah (29), harus menanggung beban perawatan seorang diri sebagai orang tua tunggal. Selain memastikan pengobatan rutin, ia juga menghadapi tekanan ekonomi dan kebutuhan gizi anak-anaknya yang tidak ringan.

Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan melalui dinas terkait disebut telah memberikan dukungan berupa fasilitas transportasi pengobatan ke rumah sakit serta jaminan pembiayaan melalui program BPJS Kesehatan. Bantuan tersebut menjadi faktor krusial dalam menjaga keberlangsungan terapi anak-anak tersebut.

Ketua Tim Penggerak PKK Lampung Selatan, Zita Anjani, yang melakukan kunjungan langsung ke kediaman keluarga di Kalianda, menegaskan pentingnya dukungan sosial terhadap keluarga dengan penyakit kronis.

Dalam kunjungan tersebut, Zita tidak hanya memberikan bantuan sembako dan santunan, tetapi juga menyoroti pentingnya semangat dan dukungan psikologis bagi anak-anak.

“Anak-anak harus tetap semangat dan punya cita-cita,” ujarnya.

Kasus ini mencerminkan tantangan yang dihadapi banyak keluarga di Indonesia dalam menangani penyakit genetik seperti thalasemia, yang membutuhkan perawatan jangka panjang, biaya tinggi, serta dukungan sistem kesehatan yang berkelanjutan.

Selain aspek medis, persoalan lain yang mengemuka adalah ketahanan keluarga, akses layanan kesehatan, hingga peran lingkungan sekitar, termasuk sekolah, dalam mendukung kondisi anak.

Pakar kesehatan menyebut, tanpa intervensi yang kuat dan berkelanjutan, pasien thalasemia berisiko mengalami penurunan kualitas hidup secara signifikan.

Kisah keluarga ini menjadi pengingat bahwa di balik program jaminan kesehatan nasional, masih ada keluarga yang berjuang keras mempertahankan hidup anak-anak mereka di tengah keterbatasan.