Lampung Jadi Pilot Project Ekonomi Hijau

Provinsi Lampung resmi ditetapkan sebagai pilot project nasional pengembangan ekonomi hijau melalui teknologi pengolahan sampah dan energi terbarukan. Kerja sama antara Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal dan PT Nusantara Plastik Energi ini menargetkan pengembangan waste-to-energy, biomassa, hingga energi bersih berkelanjutan.

Lampung Jadi Pilot Project Ekonomi Hijau
Foto: Istimewa

BANDAR LAMPUNG – Provinsi Lampung resmi menjadi pilot project nasional dalam pengembangan ekosistem ekonomi hijau melalui pemanfaatan teknologi pengolahan sampah dan energi terbarukan.

Penetapan tersebut ditandai dengan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal dan Direktur Utama PT Nusantara Plastik Energi Muhammad Dani SM Rabbani di Ruang Kerja Gubernur, Rabu (17/6/2026).

Kerja sama ini menjadi langkah strategis Pemerintah Provinsi Lampung dalam menjawab tantangan pengelolaan limbah terintegrasi sekaligus mendorong pertumbuhan industri berbasis energi bersih. Melalui kemitraan ini, Lampung akan mengadopsi standar pengelolaan sampah yang telah diterapkan di Eropa selama lebih dari 30 tahun untuk menciptakan model pengelolaan sampah nasional yang berkelanjutan.

Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal menegaskan bahwa kolaborasi ini merupakan bagian dari akselerasi transformasi daerah menuju ekonomi hijau yang berdaya saing global.

Fokus kerja sama tersebut mencakup pengembangan fasilitas waste-to-energy yang mampu mengubah sampah menjadi sumber daya bernilai ekonomi, produksi bahan bakar biomassa (biomass fuel), serta pemanfaatan energi terbarukan melalui Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dan Pembangkit Listrik Tenaga Air skala kecil (micro hydro).

Pada tahap awal, investasi senilai 25 juta euro akan direalisasikan untuk pembangunan fasilitas pengolahan sampah plastik dengan kapasitas 15.000 ton per tahun. Proyek ini diperkirakan menyerap sekitar 40 tenaga kerja lokal.

Teknologi modular yang digunakan memungkinkan pengembangan kapasitas hingga mencapai 200.000 ton sampah per tahun di masa mendatang.

Selain mengurangi volume sampah, proyek ini juga akan menghasilkan produk turunan bernilai tambah seperti minyak pirolisis, Refuse Derived Fuel (RDF), serta potensi pendapatan tambahan melalui skema kredit karbon.

Pemilihan Lampung sebagai lokasi pilot project didasarkan pada posisi strategis serta kesiapan pemerintah daerah dalam mendukung transformasi menuju kawasan industri hijau.

Langkah ini diharapkan menjadi akselerasi nyata Pemerintah Provinsi Lampung dalam memperkuat ketahanan energi daerah sekaligus mewujudkan pembangunan yang ramah lingkungan dan berdaya saing tinggi.