Israel - Palestina: Rekayasa Teologis dan Polemik Sejarah

Israel - Palestina: Rekayasa Teologis dan Polemik Sejarah
Foto (Istimewa)

Saya harus berkata jujur, meski mungkin tidak nyaman atau bahkan menyakitkan bagi sebagian kita. Keberadaan Kristen zionisme adalah skandal memalukan dalam dunia kekristenan khususnya, dan dunia keagamaan secara umum. 

Oleh : Dominggus Oktavianus *)

Kristen zionis telah melakukan, atau terjebak pada, rekayasa teologis dan psikologis untuk menormalisasi kekejian paling menjijikkan, terang-terangan, dan berkepanjangan di era modern ini. Atau setidaknya kristen zionis telah berpura-pura tidak melihat kenyataan dehumanisasi itu, di saat peradaban manusia sedang ingin menaklukkan langit. 

Skandal memalukan seperti itu memang bukan sesuatu yang baru dan bisa terjadi pada agama apa pun. Tapi kristen zionis tampak ‘istimewa’ karena telah hidup dan terus berkembang selama lebih dari dua abad. Ajaran ini menjangkau dan mempengaruhi hampir seperlima dari penduduk bumi. 

Seorang sejarawan Yahudi, Yakov Rabkin, mencatat awal kemunculan aliran teologis kristen zionis setidaknya pada awal abad ke-19 di Inggris. Mulanya hanya gereja kecil dan puritan. Tapi di akhir abad ke-19, zionisme muncul sebagai gerakan politik yang dipelopori oleh Theodor Herzl, seorang Yahudi sekuler. 
Mereka mengusung panji “a land without nation for a nation without land” (sebuah tanah tanpa bangsa untuk bangsa yang tak bertanah). Sejak itu aliran teologi ini pun berkembang sangat pesat, baik cabang-cabangnya maupun jumlah pengikutnya. Menurut Rabkin, di Amerika Serikat saja jumlah pengikutnya mencapai 50 juta orang.

Persoalannya, aliran teologis ini tidak mungkin ‘netral’ secara politik. Di Eropa sejak Abad ke-19 hingga setelah Perang Dunia II, ayat-ayat Kitab Suci telah ditafsirkan secara literal sesuai kehendak dan kepentingan politik dari (1) orang-orang Eropa kolonialis dan rasis yang memang ingin mengusir etnis Yahudi dari benua biru itu, sekaligus ingin memanfaatkan mereka sebagai alat di tanah kolonial; (2) orang-orang Yahudi yang merasa teraniaya di Eropa, sebagai akibat meluasnya sentimen anti Yahudi.

Belakangan ini, Amerika sebagai pewaris kolonialisme Inggris, memperlakukan Israel modern sebagai sekutu terpercaya untuk menjaga kepentingan ekonomi-politiknya di wilayah Asia Barat. Kristen zionis telah menyerahkan diri untuk dijadikan instrumen budaya (soft power) kolonialisme dengan narasi yang seolah tak boleh dibantah: nubuat kedatangan Mesias untuk kedua kalinya. 

Terlepas dari keyakinan teologis, adalah tidak waras untuk memaksa orang lain menerima konsekuensi dari keyakinan pribadi kita atas nubuat itu; bahwa ada bangsa yang diberi otoritas untuk membunuh bangsa-bangsa lain; laki-laki, perempuan, bayi, anak-anak, dan orang tua. Terserah mau membunuh dengan cara apapun, kau diizinkan, karena kau orang-orang pilihan, dan pastinya, tuhanmu akan membelamu lewat kekuatan militer berbiaya paling mahal dan paling berbahaya di dunia bernama Amerika Serikat.

Pada titik ini kita diingatkan untuk kembali menjadi manusia yang utuh. Kita perlu mengingat Gus Dur dan nasihatnya agar “agama jangan jauh dari kemanusiaan”. Sebuah nasihat yang muncul di permulaan reformasi, ketika keberingasan atas nama agama merajalela di bumi Pertiwi ini. Wejangan yang kemudian menjadi perisai bagi siapapun, terutama bagi kaum minoritas, ketika merasa haknya beribadah secara damai terancam. 

Sekarang, lagi-lagi atas nama agama, kaum minoritas ini menggunakan standar ganda; agama tidak boleh digunakan untuk menurunkan nilai kemanusiaan umat Kristen, tapi umat Kristen boleh menggunakan agama untuk mengabaikan nilai kemanusiaan kaum tertentu. Ini pandangan yang ambigu, inkonsisten, bahkan hipokrit.

Polemik sejarah dan nubuat Alkitab

Tentu masih banyak hal yang perlu dijernihkan terkait narasi sejarah. Saya coba mengambil penjelasan Monique Rijkers yang banyak dijadikan rujukan pendukung zionisme di Indonesia. Dalam sebuah penjelasannya, Monique sengaja melompati atau menyelewengkan fase-fase krusial dari sejarah tersebut. 

Misalnya, ia mengatakan pasca pemberontakan Yahudi atas Romawi yang gagal abad pertama Masehi, orang Yahudi masih menjadi mayoritas di tanah Palestina hingga datangnya bangsa-bangsa Arab di abad ke-7. Pernyataan ini bertentangan dengan penelitian arkelog dan sejarawan yang umum diterima. 

Michael Avi-Yonah, arkelog dan sejarawan Yahudi klasik, menjelaskan bahwa pemberontakan Bar Kokhba 132-135 Masehi menimbulkan bencana demografi bagi orang Yahudi. Populasi mereka terus menurun, baik karena pembantaian, terusir, maupun wabah penyakit, hingga menjadi minoritas pada abad ke-4. Di abad tersebut populasi kristen tumbuh sebagai mayoritas di bawah kekuasaan Bizantium atau Romawi Timur. Keberadaan populasi Kristen sebagai mayoritas baru tergantikan oleh Islam setelah jatuhnya Bizantium di abad ke-12. Orang Yahudi tetap ada sebagai minoritas yang terintegrasi dengan etnis lain di Palestina. 

Monique sengaja melompati fakta itu dengan tujuan (trik) sederhana; agar tampak seolah kelompok “muslim Arab” yang mengusir kaum Yahudi dari Palestina. Dengan demikian, logikanya, dapat dimaklumi Yahudi pendatang membalaskan dendam dengan mengusir “muslim Arab” dari Palestina. Padahal, sejak Umar Bin Khattab menaklukkan Yerusalem di tahun 635 M hingga abad ke-12, mayoritas populasi masih beragama Kristen meski perlahan mulai terjadi konversi ke Islam. 

Monique juga sering mengabaikan peran aktif kolonial Inggris--yang mewarisi kekuasaan Ottoman atas tanah Palestina--dalam misi politik zionisme. Deklarasi Balfour tahun 1917 mendorong orang Yahudi untuk memiliki tanah airnya sendiri yang lokasinya mereka tentukan: Palestina. Kesepakatan ini melibatkan salah satu oligark terbesar dunia, Lord Walter Rothschild, yang memberi dukungan keuangan bagi pendudukan orang Yahudi pendatang. Pengabaian ini membuat Monique memotret setiap perlawanan rakyat Palestina sebagai tindakan terorisme. 

Ketika itu Inggris adalah imperium dunia. Luas koloninya adalah seperempat daratan dunia.  Tapi kenapa pilihan jatuh pada wilayah Palestina dan bukan tanah jajahan yang lain? Tentu ada pertimbangan sejarah dan kebudayaan. Karena dari situ dapat diciptakan narasi yang membuat tindakan kriminal perampokan dan pemusnahan massal tampak seperti nubuat yang diperlukan. Ini operasi kolonial pada level soft power-nya. 

Perangkat kerasnya? Kolonial Inggris juga membentuk, melatih, serta mempersenjatai milisi Yahudi pendatang. Mereka terorganisir secara tertutup. Namanya Haganah, yang secara harfiah berarti pertahanan. Tugasnya adalah menghadapi perlawanan orang-orang Palestina ketika tanahnya dirampas atau diduduki. Milisi Haganah ini yang kemudian berperan sentral dalam rencana dan eksekusi pengusiran 750.000 orang Palestina dan pembakaran ratusan desa dalam Peristiwa Nakba tahun 1948. Milisi Haganah ini juga yang kemudian bertransformasi menjadi Israel Defence Forces (IDF). 

Apakah Saudara sungguh-sungguh melihat fakta sejarah ini sebagai bagian dari nubuat? Bila ya, maka nurani kemanusiaan dan nalar keadilan bisa kita bekukan di sini. 

Lantas bagaimana? Tidak ada solusi yang mudah. Tapi identifikasi terhadap akar persoalan teologis yang tercemari kepentingan kolonialisme dapat menjadi sudut pandang yang lebih adil. Perlu diakui kenyataan negara Israel modern sebagai hasil pencangkokkan paksa oleh kolonialisme membawa watak yang beracun. Bukan hanya pada level negara yang bersikap rasis dan agresif terhadap rakyat Palestina, mayoritas populasi Israel modern pun membenarkan, bahkan turut melakukan, pengusiran serta tindakan kejam lainnya. Sikap Yahudi pendatang dari Eropa ini berbeda dengan minoritas Yahudi Palestina yang selama ratusan tahun hidup berdampingan secara damai dengan saudara-saudaranya Arab Palestina. 

Israel sebagai entitas politik ‘normal’ mungkin dapat diizinkan hidup karena berbagai keterlanjuran. Tapi Israel sebagai entitas politik apharteid harus dihapuskan. Tidak mungkin dua negara hidup berdampingan sementara yang terus satu bernafsu untuk mengusir tetangga yang lain. Bila konsep dan praktik apartheid itu dapat dihapuskan, maka tidak menutup kemungkinan terjadinya rekonsiliasi di masa depan; berbagai etnis dan agama di Tanah Suci itu dapat hidup rukun di bawah solusi satu negara: Palestina. 

*) Mantan Sekjend Partai Prima