Mengenal BPI Danantara Sebagai Mesin Ekonomi Indonesia

Mengenal BPI Danantara Sebagai Mesin Ekonomi Indonesia
Foto (Istimewa)

Sejak kemunculan resminya di dunia investasi pada tahun 2025 , dana kekayaan negara atau sovereign wealth funds  di Indonesia diberi yang  nama  Danantara  telah disambut dengan campuran rasa ingin tahu dan kekhawatiran yang wajar. Hal ini dapat dimaklumi. Bagaimanapun, Danantara dengan aset berkapitalisasi raksasa  yang berasal dari BUMN  dan  berorientasi pada maksimalisasi imbal hasil dicurigai tidak transparan dan badan pemerintah tertutup yang diam-diam digunakan untuk memajukan agenda negara.

Ditulis Oleh Arief Poyuono 
Komisaris PT Pelindo


Seperti langkah penyelamatan besar-besaran terhadap bank-bank Barat seperti Citi, Merrill Lynch, UBS, dan Morgan Stanley selama krisis keuangan 2008 merupakan investasi kolektif demi mengejar imbal hasil lebih tinggi dari pasar atau sekadar tindakan oportunisme geopoliti juga kesepakatan infrastruktur-untuk-sumber daya di Afrika yang dilakukan oleh China Investment Corporation bertujuan untuk menjamin keamanan sumber daya tak terbarukan atau untuk memperluas pengaruh geopolitik?

Terlepas dari teori konspirasi dan manuver politik yang menentukan, Danantara  kini tak diragukan lagi menjadi pilar utama dalam lanskap investasi global bagi  Indonesia . Sebagai kelas aset, Danantara akan  tumbuh secara eksponensial dalam hal ukuran, jumlah, dan relevansi; hal ini tercermin dari nilai aset kelolaan Danantara yang mengelola 844 BUMN dengan nilai aset tembus hingga rp16.508 triliun. Jika dipandang sebagai manajer aset murni, Danantara  memiliki tujuan investasi yang beragam pada gilirannya memengaruhi perilaku investasi, komposisi portofolio, dan tolok ukur keberhasilan mereka.

Tulisan ini akan memperkenalkan pembaca pada Danantara sebagai  dana kekayaan negara sebagai sebuah kelas aset, termasuk "kategori tujuan," strategi investasi, tren terkini, serta strategi alokasi aset mereka yang terus berkembang.Danantara (Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara) adalah badan pengelola investasi strategis milik negara Indonesia yang berfungsi mengonsolidasikan dan mengoptimalkan aset serta investasi BUMN untuk mendukung pertumbuhan ekonomi nasional dan Melalui pendekatan terintegrasi, Danantara Indonesia memastikan aset negara dikelola secara efektif, dioptimalkan, dan diinvestasikan kembali demi kemajuan bangsa dan Danantara mengemban mandat ganda untuk memberikan hasil berkelanjutan yang meningkatkan kekayaan antargenerasi, sekaligus menciptakan dampak ekonomi positif dan memastikan ketahanan nasional.

Danantara juga memulai dengan mewujudkan program-program strategis nasional melalui investasi yang menghasilkan imbal hasil positif. Dengan mendiversifikasi portofolio dan meningkatkan investasi global,juga memiliki program kerja Danantara mirip dengan sovereign wealth fund seperti Temasek di Singapura atau Norges Bank Investment Management di Norwegia. Sebagaimana yang sudah disebutkan, tujuan utama dibentuknya lembaga ini untuk mengelola aset dan investasi negara di luar Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), serta mengoptimalkan potensi aset-aset milik pemerintah agar lebih terkoordinasi dan strategis.

Pemerintah berharap, dengan didirikannya Danantara dapat membantu meningkatkan leverage aset nasional sekaligus untuk memperkuat posisi ekonomi Indonesia, sehingga investasi asing akan semakin tertarik untuk berinvestasi di Indonesia. Danantara juga diharapkan dapat menciptakan sinergi antara aset-aset negara yang sebelumnya tersebar di berbagai kementerian dan Badan Usaha Milik Negara (BUMN)

Sebagai badan pengelola investasi, Danantara nantinya akan melakukan pengelolaan aset negara untuk membiayai proyek-proyek berkelanjutan di berbagai sektor strategis seperti energi terbarukan, pengembangan industri manufaktur, hilirisasi sumber daya alam, hingga ketahanan pangan. Diharapkan seluruh proyek tersebut dapat berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi nasional hingga 8 persen per tahun.

Pembentukan Danantara diharapkan memberikan kualitas pengelolaan BUMN yang lebih profesional. Selama ini, saat BUMN mengalami kerugian, selalu ada pihak yang disalahkan. Dengan kondisi tersebut, banyak pihak lantas menuduh hal itu menjadi kriminalisasi. Padahal, kerugian BUMN tersebut bisa jadi merupakan kejadian bisnis yang memang berpotensi untuk salah dan rugi. Seringkali dari kejadian ini kemudian dianggap korupsi karena kebijakan yang dia ambil kemudian merugikan negara.

Dengan Undang-undang BUMN yang baru atau Business Judgement Rule (BJR), apabila BUMN mengalami kerugian dan kebijakan diambil secara benar melalui tata kelola yang baik dan tidak terjadi conflict of interest, maka pengambil kebijakan atau direksi BUMN tidak dipersalahkan. Namun sebaliknya, pengambil kebijakan atau direksi BUMN tetap bisa diproses secara hukum ketika dalam pengambilan keputusan terjadi conflict of interest dan tidak melakukan tata kelola yang baik.

Dengan demikian dengan adanya Danantara, Pemerintah Indonesia tidak lagi sekadar menjaga kekayaan negara, tetapi mengubahnya menjadi motor penggerak ekonomi dengan model pengelolaan yang profesional. Danantara adalah simbol pengelolaan aset negara yang modern, produktif, dan menguntungkan, dengan manfaat jangka panjang bagi pembangunan Indonesia yang berkelanjutan.

Sejarah Sovereign Wealth Fund  Atau Dana Kekayaan Negara
Sovereign Wealth Fund  pertama bermula pada tahun 1953 sebagai sarana investasi yang produktif bagi negara-negara yang memiliki surplus anggaran dan surplus pendapatan ekspor. Lembaga pertama dari jenis ini adalah  Kuwait Investment Authority  (KIA), yang didirikan untuk menginvestasikan kelebihan pendapatan minyak mentah Kuwait sekaligus mendiversifikasi perekonomian negara agar tidak bergantung pada satu sumber daya saja. Dua tahun kemudian, Republik Kiribati sebuah negara berdaulat di wilayah tengah Samudra Pasifik membentuk  Sovereign Wealth Fund atau dana kekayaan negara kedua di dunia, yaitu Revenue Equalization Reserve Fund , untuk menyimpan dan mengembangkan cadangan mata uang asingnya.

Tidak banyak perkembangan baru yang terjadi hingga tahun 1976, 1981, dan 1990, saat Abu Dhabi Investment Authority, Government of Singapore Investment Corporation, dan Government Pension Fund Norwegia masing-masing didirikan. Sejak saat itu, jumlah dan nilai aset dana kekayaan negara telah melonjak pesat hingga mencapai lebih dari 120 entitas saat ini, namun dengan konsentrasi aset yang sangat tinggi. Secara khusus, 10 Dana Kekayaan Negara terbesar menguasai 80% dari total dana kelolaan (assets under management  atau AUM) secara global,ada 20 Sovereign Wealth Funds terbesar menguasai 90%, di mana Tiongkok dan Singapura menguasai lima dari sepuluh kumpulan dana kekayaan negara terbesar tersebut.

Investasi Sovereign Wealth Funds Di Dunia
Danantara  berinvestasi baik pada aset riil maupun aset keuangan, mulai dari saham, obligasi, real estat, logam mulia, dan infrastruktur fisik, hingga investasi alternatif seperti ekuitas swasta (private equity),hedge fund, dan dana ventura. Meskipun pada prinsipnya memiliki wawasan global, Danantara  juga melakukan investasi di dalam negeri, terutama dalam konteks dana kekayaan negara yang berfokus pada pembangunan strategis. 

Sebagian besar dana kekayaan negara didunia berdomisili di negara-negara pengekspor minyak atau di Asia Timur. Dengan demikian, ditinjau dari aspek sumber permodalan, dana kekayaan negara terbagi menjadi dua kategori pertama dana kekayaan negara berbasis komoditas, dan kedua non-komoditas,dana kekayaan negara berbasis komoditas didanai dari hasil ekspor komoditas yang tidak dapat diperbarui (minyak, gas, logam mulia); dana ini meningkatkan basis aset kelolaan (assets under management atau AUM) saat harga komoditas tinggi, namun dapat mengguncang perekonomian dan anggaran negara asalnya saat harga rendah. Di sisi lain, dana non-komoditas umumnya didanai dari cadangan devisa atau surplus transaksi berjalan, yang didorong oleh tingkat tabungan perusahaan maupun rumah tangga.

Dari perspektif teori ekonomi, penting untuk dipahami bahwa dana kekayaan negara merupakan bagian dari total basis modal nasional suatu negara. Total modal nasional didefinisikan sebagai gabungan dari aset keuangan neto, total stok modal fisik (misalnya real estat, mesin, infrastruktur), lingkungan yang belum dimanfaatkan, modal manusia, serta sumber daya alam yang belum dieksploitasi. Jika mengambil contoh negara penghasil minyak dan mengacu pada Hartwick’s Rule  mengenai keadilan antargenerasi yang bersifat *zero-sum maka ekstraksi dan penjualan sumber daya yang tidak dapat diperbarui akan menguras basis modal nasional, kecuali jika penerimaan kas tersebut diinvestasikan kembali sepenuhnya ke dalam salah satu faktor modal (keuangan, fisik, lingkungan, atau manusia) yang telah disebutkan tadi.

Dengan demikian—dan mengesampingkan perhitungan sederhana terkait cadangan devisa sebagai tabungan riil negara penghasil minyak akan bernilai negatif secara neto jika sumber daya mereka yang dapat habis itu tidak diinvestasikan kembali. Berlandaskan logika inilah negara-negara kaya minyak di dunia mulai membentuk dana kekayaan negara pada masa-masa awal kemunculannya.

Jenis-Jenis Sovereign Wealth Fund di dunia
Semua dana kekayaan negara memiliki kesamaan dalam hal sumber dan bentuk, namun beragam dalam hal tujuan; tujuannya sering kali mencerminkan kondisi, prioritas kebijakan, dan struktur kewajiban negara asalnya. Terdapat tiga kategori prioritas utama yang sering ditetapkan oleh negara terhadap dana kekayaan mereka:

(1) stabilisasi ekonomi, (2) maksimalisasi modal, dan (3) pembangunan strategis.

Selanjutnya, terdapat lima golongan besar dana kekayaan negara  untuk mewujudkan agenda-agenda tersebut: (1) dana stabilisasi (prioritas stabilisasi), (2) dana tabungan dan generasi mendatang (prioritas maksimalisasi modal), (3) dana cadangan pensiun dan kewajiban masa depan lainnya (prioritas maksimalisasi modal), (4) dana investasi cadangan (prioritas maksimalisasi modal), dan (5) dana kekayaan negara berupa BUMN untuk pembangunan strategis (prioritas pembangunan strategis).

Tujuan dan Maksud didirikan Sovereign Wealth Fund (Danantara)
Berfungsi untuk Dana stabilisasi: yang Sering disebut sebagai "dana cadangan masa sulit" (rainy day funds), dana stabilisasi merupakan instrumen fiskal yang bersifat kontra-siklikal. Dana ini dibentuk untuk melindungi atau meredam dampak guncangan ekonomi baik internal maupun eksternal terhadap perekonomian negara. Guncangan semacam itu mencakup fluktuasi tajam harga komoditas (yang paling berdampak pada negara-negara penghasil minyak) serta siklus  boom-bust (ekspansi dan kontraksi) ekonomi global maupun domestik. Sebagai contoh, Rusia adalah eksportir minyak dan gas bumi berskala besar yang memiliki dana stabilisasi minyak yang efektif.

Mandat dana ini adalah memitigasi dampak penurunan harga minyak dan gas bumi terhadap anggaran domestik dan nilai tukar mata uang. Berfungsi untuk Dana tabungan dan generasi mendatang: Dana ini dibentuk untuk menciptakan keadilan antargenerasi, serta memfasilitasi tabungan dan transfer kekayaan dengan cara mengubah sumber daya alam yang tidak dapat diperbarui menjadi aset keuangan yang lebih berkelanjutan dan berjangka panjang.  Alaska Permanent Fund milik Amerika Serikat dan Alberta Heritage Savings Trust Fund  milik Kanada adalah dua contoh dana tabungan dan generasi mendatang yang menghasilkan imbal hasil.

Sebagai Dana cadangan pensiun dan kewajiban masa depan lainnya: Dana cadangan pensiun dirancang untuk mendukung kebutuhan pendanaan sistem kesejahteraan sosial dan pensiun publik suatu negara, khususnya di tengah kondisi populasi lanjut usia yang meningkat dan tingkat kelahiran yang rendah (yang berakibat pada menyusutnya angkatan kerja).Seperti Government Pension Investment Fund (GPIF) milik Jepang merupakan salah satu dana sejenis yang terbesar dan paling efektif, dengan nilai aset mencapai US$1,1 triliun.

Dana pensiun hanyalah salah satu bentuk kewajiban publik di masa depan; dengan demikian, dana cadangan pensiun merupakan bagian dari kategori yang lebih luas, yaitu dana untuk kewajiban masa depan. Pada tingkat yang paling mendasar, fungsi dana kewajiban masa depan adalah menjaga nilai riil modal guna memenuhi kewajiban masa depan yang bersifat kontinjensi (bergantung pada kejadian tertentu).

Sebagai Dana investasi Cadangan yang berbeda dengan jenis dana lainnya, dana investasi cadangan secara khusus mengelola sebagian atau seluruh cadangan devisa suatu negara. Strategi investasinya mencakup penempatan dana pada aset jangka panjang dengan imbal hasil lebih tinggi, disertai mandat sekunder untuk mengurangi biaya negative carry yang timbul akibat penyimpanan cadangan tersebut.Seperti China Investment Corporation dan Government of Singapore Investment Corporation (GIC) ini adalah dua contoh sovereign wealth fund global terbesar dalam kategori ini, dengan nilai kelolaan masing-masing sebesar US$813 miliar dan US$360 miliar.

Danantara  Adalah Sovereign wealth fund  untuk pengembangan strategis BUMN  yang digunakan untuk mendukung prioritas pembangunan strategis, ekonomi, dan/atau nasional, sembari menghasilkan imbal hasil positif yang disesuaikan dengan risiko atas alokasi dananya. Tujuan-tujuan tersebut dapat mencakup pengembangan infrastruktur fisik maupun non-fisik di dalam negeri (misalnya infrastruktur transportasi, pengelolaan limbah, dan energi, atau investasi yang menciptakan lapangan kerja), pelaksanaan kebijakan industri untuk diversifikasi ekonomi terutama bagi negara yang ekonominya bergantung pada komoditas sumber daya alam  atau pelaksanaan mandat pemanfaatan sumber daya, di mana Danantara melaui BUMN  mengakuisisi kepemilikan langsung pada perusahaan global untuk menjamin penyerapan sumber daya strategis dalam negeri.

Strategi Investasi Dana Kekayaan Negara (Sovereign Wealth Funds)
Sejak Dana Kekayaan Negara ini mulai terbentuk pada awal tahun 2000-an, total dana kelolaan (AUM) yang dikuasai oleh Dana Kekayaan Negara telah tumbuh dengan tingkat pertumbuhan tahunan majemuk sebesar 20%, dari US$650 miliar pada tahun 2002 menjadi US$7,4 triliun (per tahun 2017). Pertumbuhan ini didorong oleh kombinasi imbal hasil investasi, namun lebih banyak disebabkan oleh surplus neraca pembayaran dan hasil ekspor komoditas yang melonjak selama masa supercycle komoditas dan tahun-tahun pesatnya pertumbuhan ekonomi Tiongkok.

Secara historis, Dana Kekayaan Negara  berinvestasi dalam jenis aset riil dan keuangan secara global maupun domestik untuk mendapatkan keuntungan finansial dan mendukung pembangunan ekonomi.Diantaranya Saham (Equities) dengan Pembelian kepemilikan di perusahaan publik maupun privat untuk mengejar keuntungan (capital gain) dan dividen, Obligasi dan Pendapatan Tetap (Fixed Income) seperti  Surat utang pemerintah atau korporasi yang memberikan imbal hasil bunga tetap, Investasi pada gedung perkantoran, properti komersial, lahan, atau infrastruktur fisik, Aset Strategis / Infrastruktur dalam Pembiayaan proyek strategis nasional seperti jalan tol, pelabuhan, energi, atau konsolidasi aset Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Ekuitas Swasta (Private Equity) sebagai penyertaan modal langsung pada perusahaan yang belum melantai di bursa,dan Dana Lindung Nilai (hedge funds) sebagai strategi investasi agresif untuk mencari imbal hasil tinggi di berbagai kondisi pasar

Untuk memahami alokasi aset dan komposisi portofolio historisnya, karena itu Danantara   perlu diklasifikasikan berdasarkan prioritas ekonomi dan struktur kewajiban, yang pada gilirannya menentukan profil risiko, cakrawala investasi, dan strategi alokasi asetnya dengan tujuan 
Dimana Danantara sebagai sarana stabilisasi ekonomi yang  memiliki mandat khusus untuk melindungi ekonomi negara dari guncangan makroekonomi dan menstabilkan arus pendapatan pemerintah. Oleh karena itu, dana ini cenderung memiliki cakrawala investasi jangka pendek dan berorientasi pada likuiditas tinggi karena adanya kebutuhan untuk menyediakan likuiditas dalam waktu singkat. Parameter-parameter ini sebagian besar membatasi cakupan investasi dana stabilisasi pada kas dan setara kas, obligasi jangka pendek dan panjang, serta instrumen pasar uang (sekuritas pendapatan tetap), dengan lindung nilai mata uang yang tepat untuk mengimbangi potensi kewajiban. Secara tradisional, dana stabilisasi mengalokasikan 15% modalnya pada ekuitas global, 40% pada kas dan setara kas, dan sisanya pada instrumen pendapatan tetap berisiko rendah 

Danantara sebagai sebagai Dana maksimalisasi modal yang mencakup dana tabungan dan dana antargenerasi, cadangan dana pensiun, serta dana untuk kewajiban masa depan lainnya yang harus berada pada ujung ekstrem spektrum  untuk maksimalisasi imbal hasil". Untuk generasi dan dimandatkan .Dengan alokasi portofolionya cenderung memberikan bobot lebih besar (overweight) pada ekuitas global dan kelas investasi alternatif secara agresif demi mengejar imbal hasil di atas rata-rata pasar. 

Pengembangan Strategis Danantara
Terakhir, Danantara yang mandatnya mencakup prioritas seperti pembangunan sosial, diversifikasi ekonomi, dan penguatan infrastruktur domestik harus menginvestasikan hingga 50% asetnya di dalam negeri, sementara sisanya disebar secara global ke dalam sekuritas pendapatan tetap, ekuitas publik dan setara kas, serta investasi pasar privat.

Meskipun tidak termasuk dalam kategori "prioritas ekonomi", perlu dicatat bahwa berbagai dana kekayaan negara Danantara  harus mengambil sikap kontrarian khususnya dengan bergerak secara kontra-siklikal terhadap sentimen pasar yang sedang berlaku. Contoh terbaik dari hal ini adalah investasi besar-besaran mereka pada institusi keuangan luar negeri , saat investor lain justru menarik diri dari sektor perbankan, asuransi, dan keuangan khusus.

Tren ini penting karena untuk  menjadikan Danantara memiliki modal besar sebagai "penyedia dana terakhir" (financier of last resort) di berbagai kelas aset dan negara. Dimana Sovereign Wealth Fund didunia banyak menginvestasikan pada industri teknologi menjadi pihak yang paling diuntungkan oleh suntikan modal melalui kesepakatan-kesepakatan profil tinggi yang melibatkan perusahaan seperti Uber, Didi, Noon, Xiaomi, dan Jawbone; masing-masing perusahaan tersebut menerima dukungan vital atau penguatan valuasi pada saat-saat yang krusial.

Namun belakangan ini, dana kekayaan negara seperti halnya semua kelas aset lainnya menghadapi lingkungan moneter yang tidak lazim. Lingkungan ini, yang ditandai dengan suku bunga tinggi , tekanan inflasi yang lemah, harga komoditas yang tertekan, dan tingkat pertumbuhan global yang rendah, terus bertahan meskipun ada kebijakan pelonggaran kuantitatif (quantitative easing) dan kebijakan moneter longgar. Akibatnya, terjadi pergeseran nyata dalam alokasi portofolio.

Sehingga dalam Tren utama dalam hal ini adalah beralihnya investasi dana kekayaan negara  dari aset pendapatan tetap tradisional yang dianggap aman (safe-haven), seperti obligasi pemerintah, menuju ekuitas dan aset alternatif yang kurang likuid namun menawarkan imbal hasil lebih tinggi. Meskipun tren ini bermula pada tahun 2002, krisis tahun 2007 memicu percepatan pergeseran ke aset alternatif, yang ditandai dengan perpindahan alokasi secara signifikan ke pasar privat. Bahkan setelah adanya sedikit upaya pengurangan risiko (de-risking) antara tahun 2024 dan 2025, dimana dua pertiga aset tetap diinvestasikan pada aset berisiko lebih tinggi, dengan ekuitas publik tetap menjadi kelas aset terbesar.

Menurut State Street Global Advisors, divisi manajemen investasi dan riset dari State Street Corp. (manajer aset terbesar ketiga di dunia), mengemukakan tiga alasan di balik pergeseran ini. Pertama, realokasi portofolio merupakan konsekuensi langsung dari kebijakan pelonggaran kuantitatif. Secara khusus, laporan tersebut menyatakan bahwa "siklus pasar kebijakan kenaikan suku bunga  di negara-negara industri telah menyebabkan instrumen pendapatan tetap memiliki nilai guna yang lebih rendah bagi investor jangka panjang," sehingga memicu perpindahan besar-besaran keluar dari instrumen tersebut.

Kedua,Danantara sebagai  Sovereign Wealth Fund  memiliki mandat eksplisit untuk memaksimalkan imbal hasil, yang mendorong pergeseran menjauhi sekuritas pendapatan tetap dengan imbal hasil rendah.
Ketiga,Danantara yang memiliki mandat lebih seimbang harus mengembangkan kematangan kelembagaan serta keahlian untuk dapat percaya diri merambah kelas aset yang lebih tidak konvensional. Hal ini diperkuat oleh fakta bahwa Sovereign Wealth Fund terbesar di dunia menunjukkan pergeseran alokasi yang lebih mencolok dibandingkan rekan-rekan mereka yang lebih kecil dan baru terbentuk.

Selera risiko yang lebih tinggi ini juga sebagian dapat dijelaskan oleh fakta bahwa dana yang lebih besar mampu memenuhi potensi kewajiban jangka pendek dengan nyaman, meskipun memiliki porsi kas atau aset pendapatan tetap yang secara proporsional lebih rendah dibandingkan dana yang lebih kecil.

Danantara Menuju Tahun 2030
Menatap masa depan, Danantara harus  terus mencermati empat tren besar global. Tren pertama, menurut riset pasar yang dilakukan oleh PricewaterhouseCoopers, bersifat "demografis" dan "sosial". Secara khusus, menjelang tahun 2030, diperkirakan bahwa 300 juta dari total 1,2 miliar penambahan populasi dunia akan berasal dari kelompok usia 60 tahun ke atas. Kenyataan ini menghadirkan tantangan signifikan terkait kewajiban kontinjensi, pensiun, dan jaminan sosial bagi negara-negara maju maupun berkembang.

Kemudian adanya tren besar kedua adalah urbanisasi. Saat ini, populasi perkotaan global bertambah sebanyak 1,5 juta jiwa setiap minggunya, yang telah memberikan tekanan luar biasa terhadap infrastruktur yang ada, terutama di negara-negara dengan tingkat pembangunan ekonomi yang lebih rendah. Pada tahun 2030, diperkirakan 5 miliar orang akan tinggal di kawasan perkotaan, meningkat dari 3,6 miliar saat ini. Sementara dua belas Sovereign Wealth Fund  telah dibentuk secara khusus di Afrika untuk tujuan pembangunan infrastruktur fisik (hard infrastructure) dan non-fisik (soft infrastructure), yang didirikan pada tahun 2020. Dan separuh dari seluruh dana tersebut menyatakan memiliki tujuan pembangunan ekonomi yang mencakup penguatan infrastruktur fisik, mulai dari jalan raya dan unit perumahan terjangkau hingga infrastruktur telekomunikasi dan ketenagalistrikan.

Tren besar ketiga berkaitan dengan pergeseran kekuatan global saat ini. Pada tahun 2040, tujuh dari 12 ekonomi terbesar dunia akan berasal dari negara-negara pasar berkembang saat ini; kelompok ekonomi yang disebut sebagai E7 ini meliputi: Tiongkok, India, Brasil, Meksiko, Rusia, Indonesia, dan Turki.
Tren besar terakhir berkisar pada perubahan iklim dan ancaman kelangkaan sumber daya di masa depan. Menurut teori  peak oil  (puncak produksi minyak)—yang meskipun pertama kali dicetuskan pada tahun 1950 dan sejauh ini terbukti tidak terbukti kebenarannya bumi diperkirakan hanya memiliki sisa pasokan cadangan terbukti untuk sekitar lima puluh tahun ke depan. Jika hal ini benar, kenyataan tersebut akan membawa implikasi besar bagi negara-negara yang ekonominya bergantung pada komoditas, bagi generasi mendatang di negara-negara tersebut, serta bagi posisi mereka di kancah global. 

Munculnya dana kekayaan negara seperti  Danantara merupakan perkembangan penting bagi pasar modal internasional dan lanskap investasi. Sebagai sebuah kelas aset, Danantara   memiliki posisi dan potensi untuk terus berkembang tidak hanya dalam hal nilai aset yang dikelola (AUM), tetapi juga dalam hal signifikansi dan pengaruhnya di masa mendatang. Terlepas dari berbagai kekhawatiran dan kecurigaan yang kerap muncul di masyarkat terhadap Danantara namun  Danantara terus membuktikan nilai serta perannya di kancah global  mulai nvestasi terkini di pangan ,sektor teknologi dan energi terbarukan. Danantara juga mampu menarik investasi swasta internasional (private capital) untuk mendanai proyek strategis nasional, seperti infrastruktur dan industrialisasi. Langkah ini berhasil mengurangi ketergantungan BUMN pada APBN dan utang konvensional luar negeri, meningkatkan kredibilitas fiskal Indonesia di mata lembaga pemeringkat kredit dunia.

Lalu guna memenuhi ekspektasi pasar keuangan internasional, Danantara menginisiasi konsolidasi dan merger perusahaan-perusahaan aset manajemen milik Bank BUMN. Langkah ini bertujuan untuk melahirkan satu entitas aset manajemen raksasa yang solid, kompetitif, dan memiliki standar produk keuangan global. 

Dengan ditetapkannya Prinsip-Prinsip Santiago yakni 24 prinsip dan praktik umum yang didukung secara sukarela oleh anggota International Forum of Sovereign Wealth Funds  Danantara terus mendorong transparansi, tata kelola yang baik, akuntabilitas, serta praktik investasi yang bijaksana dengan demikian Danantara  memiliki masa depan yang cerah dan berdampak besar, dengan masyarakat Indonesia yang  secara luas sebagai pihak yang pada akhirnya memperoleh manfaatnya.