PPA Kota Bandarlampung : Perlaku dan Mental Anak Kecaduan Game Online Sangat Mengkhawatirkan
Bandalampung - Monologis.id. Pemerintah kota Bandar Lampung melalui Dinas PPPA mengimbau seluruh orang tua untuk lebih memperketat pengawasan penggunaan gadget dan memastikan kehadiran emosional bagi anak-anak di dalam rumah.
Dari data Dinas PPPA Bandar Lampung melalui UPT PPA Bandar Lampung bahwa ditemukan satu kasus kecanduan roblox (game online) pada anak di bawah umur kembali mencuat di awal tahun 2026.
Seorang anak laki-laki (bocah) berusia sekitar 9-10 tahun di Bandar Lampung dilaporkan mengalami adiksi parah terhadap permainan Roblox hingga menunjukkan gejala gangguan mental dan perilaku yang mengkhawatirkan.
Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Kota Bandar Lampung, Maryamah, mengungkapkan bahwa kasus ini menjadi alarm keras bagi para orang tua.
Menurutnya, akar masalah dari penyimpangan perilaku anak seringkali bermula dari kondisi rumah tangga.
"Kuncinya adalah kerukunan dalam rumah tangga. Anak-anak butuh dilindungi dan disayang. Pelarian anak ke gadget salah satunya karena jauh dari kasih sayang dan kenyamanan di rumah, sehingga mereka mencari kebahagiaan di luar (dunia maya)," ujar Maryamah. Senin (2/3/2026)
Maryamah menekankan pentingnya mendidik anak agar bijak menggunakan teknologi di era digital. "Kita tidak bisa menghilangkan gadget karena ini zamannya, tapi penggunaan harus bijak dan anak harus dibuat mandiri," imbuhnya.
Sementara itu, Kepala UPT PPA Bandar Lampung, Prisnal, membeberkan fakta pilu di balik keseharian anak tersebut. Berdasarkan penelusuran, anak ini lahir dari orang tua yang menikah di usia dini (saat SMA) dan tanpa restu keluarga.
"Ayahnya menghilang sejak anak ini bayi setelah diusir oleh kakeknya. Sementara ibunya harus bekerja di luar kota demi tuntutan ekonomi. Jadi, anak ini masuk kategori broken dan diasuh oleh kakek serta neneknya," terang Prisnal.
Kurangnya kontrol dari kakek-nenek yang cenderung membebaskan cucunya bermain gadget agar "senang" dan tidak rewel, justru berujung petaka. Kini, anak tersebut sudah pada tahap tidak bisa mengontrol emosi.
Kondisi fisik dan psikologis anak tersebut saat ini sangat memprihatinkan. Prisnal menyebut sang anak tampak kehilangan kemampuan berinteraksi sosial secara normal.
" Dikasih hal lucu tidak tertawa, ditakut-takuti juga tidak respons. Benar-benar dingin, kayak robot. Kalau ditanya matanya kosong dan lebih suka menunduk. Dia lebih nyaman berinteraksi dengan layar daripada bertatap muka," ungkapnya.
Beberapa gejala kecanduan yang dialami anak tersebut antara lain, seperti gangguan Emosi: Mengamuk dan tantrum hebat jika gadget diambil,
Lalu, Gangguan Tidur Sering begadang hingga di atas jam 11 malam dan tidak pernah tidur siang.
Lalu, masalah akademik seperti, Tugas sekolah tidak pernah tuntas dengan alasan "lelah" dan sering tidur di kelas.
Dan pola makan buruk. "Hanya mau makan ayam geprek dan sangat kurang mengonsumsi sayuran,"kata Prisnal.
Saat ini, pihak UPT PPA telah menyerahkan kasus ini kepada psikolog, untuk menjalani terapi intensif. Menariknya, saat diajak ke pantai, anak tersebut menunjukkan ketertarikan pada aktivitas fisik seperti membangun istana pasir. Namun, keterikatannya pada ponsel masih sangat kuat.
"Begitu saya coba pinjam HP-nya, langsung dia sambar dan setel lagi. Ini yang sedang kita upayakan melalui terapi psikologi agar pelan-pelan bisa terkikis," pungkas Prisnal.
Untuk itu, Pemerintah Kota Bandar Lampung melalui Dinas PPPA mengimbau seluruh orang tua untuk lebih memperketat pengawasan penggunaan gadget dan memastikan kehadiran emosional bagi anak-anak di dalam rumah.








