148 Pelajar SMP Karya Bhakti Panaragan Tubaba Belajar di Gedung Nyaris Ambruk
Sebanyak 148 siswa SMP Karya Bhakti Panaragan, Kabupaten Tulang Bawang Barat (Tubaba), Lampung, masih harus menjalani proses belajar di ruang kelas yang mengalami kerusakan berat dan nyaris ambruk. Atap bocor, plafon rusak, hingga rangka kayu penyangga yang lapuk mengancam keselamatan para siswa dan guru.
TULANGBAWANG BARAT – Nyaris Ambruk, Kondisi bangunan ruang kelas SMP Karya Bhakti Panaragan, Kecamatan Tulangbawang Tengah, Kabupaten Tulang bawang Barat (Tubaba), Lampung, kini mengkhawatirkan.
Penelusuran media, sekolah swasta yang berdiri sejak tahun 1981, dan memiliki Bangunan Mandiri secara swadaya Yayasan dan masyarakat sejak tahun 2000 itu kini mengalami kerusakan berat, meski telah berulang kali diusulkan kepada pemerintah untuk mendapatkan bantuan rehab.
Atap ruang kelas yang bocor, plafon yang rusak, rangka kayu penyangga atap yang nyaris roboh, hingga kusen pintu dan jendela yang lapuk menjadi pemandangan sehari-hari yang harus dihadapi para siswa saat mengikuti kegiatan belajar mengajar.
Ironisnya, di tengah kondisi bangunan yang disebut tinggal menunggu ambruk tersebut, aktivitas pendidikan tetap berlangsung seperti biasa. Pihak sekolah mengaku terus berupaya menjaga semangat belajar para peserta didik meski dibayangi kekhawatiran akan keselamatan mereka.
Dikonfirmasi melalui sambungan telepon pada Kamis (30/7/2026), Kepala SMP Karya Bhakti Panaragan, Ananda Ruri Vianora, mengatakan bahwa proses belajar mengajar hingga kini masih berjalan dengan baik.
"Walaupun kondisi bangunan ruang kelas sangat memprihatinkan, pihaknya tetap berupaya agar kegiatan belajar mengajar berjalan sebagaimana mestinya. Semangat belajar mengajar guru dan anak-anak untuk tidak pernah surut," kata Ananda.
Ia menjelaskan, pada tahun ajaran 2026, SMP Karya Bhakti memiliki sebanyak 148 pelajar, didukung 11 Tanaga pendidik serta 9 tenaga ke pendidikan, operator dan pembina, sehingga total personel sekolah berjumlah 21 Orang, termasuk kepala sekolah.
Menurutnya, meski berstatus sekolah swasta, pihak yayasan sengaja tidak membebankan biaya pembangunan gedung kepada wali murid melalui iuran rutin.
"Kami memahami kondisi ekonomi sebagian besar orang tua siswa yang rata-rata berpenghasilan pas-pasan. Karena itu kami tidak ingin menambah beban mereka dengan menarik iuran pembangunan gedung," katanya.
Ananda Ruri mengungkapkan, usulan rehabilitasi ruang kelas telah berkali-kali disampaikan kepada pemerintah daerah. Bahkan, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Tubaba bersama tim konsultan telah beberapa kali meninjau langsung kondisi bangunan yang rusak.
"Pihak dinas dan konsultan sudah beberapa kali datang melihat bahkan mengukur kondisi bangunan. Mereka juga menyampaikan bahwa ruang kelas ini layak diprioritaskan karena kondisinya sudah membahayakan. Namun hingga sekarang belum juga terealisasi." Kata Ananda
Ia menambahkan, bantuan terakhir yang diterima sekolah berasal dari pemerintah pada tahun 2020 berupa pembangunan gedung perpustakaan dan laboratorium IPA. Sementara ruang kelas yang menjadi fasilitas utama pembelajaran belum pernah direhabilitasi.
Sejak 2025, lanjutnya, pihak sekolah kembali mengajukan proposal melalui program revitalisasi sekolah. Namun hingga pertengahan 2026 belum ada kepastian pelaksanaan pembangunan.
Sementara itu, Ketua Komite SMP Karya Bhakti Panaragan, Tarmindi, menilai rehabilitasi ruang kelas sudah menjadi kebutuhan yang sangat mendesak.
"Kalau hanya mengandalkan swadaya masyarakat atau iuran wali murid, tentu akan sangat lama. Karena itu kami berharap pemerintah segera memberikan perhatian terhadap kondisi sekolah ini sebelum terjadi hal-hal yang tidak diinginkan," tegasnya.
Menurut Tarmindi, keberadaan SMP Karya Bhakti Panaragan memiliki peran penting bagi masyarakat di tiga tiyuh, yakni Panaragan, Menggala Mas, dan Bandar Dewa bahkan dari luar tiyuh. Selama hampir setengah abad berdiri, sekolah tersebut telah meluluskan hampir 1800 Alumni, yang berasal dari wilayah tersebut.
Ia optimistis Yayasan Karya Bhakti akan terus berkomitmen mengembangkan sekolah, namun keterbatasan kemampuan finansial membuat rehabilitasi bangunan sulit dilakukan tanpa dukungan pemerintah.
"Kami berharap pemerintah segera turun tangan. Kondisi ruang kelas sudah sangat memprihatinkan dan harus segera direhabilitasi demi keselamatan anak-anak saat belajar," pungkasnya.











