Fraksi PDIP Soroti Infrastruktur Lampung
BANDAR LAMPUNG — Satu tahun kepemimpinan Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal dan Wakil Gubernur Jihan Nurlela menjadi momentum evaluasi serius arah pembangunan daerah. Ketua Fraksi PDI Perjuangan sekaligus Anggota Komisi IV DPRD Lampung, Lesty Putri Utami, menegaskan sektor infrastruktur menjadi indikator paling nyata untuk menguji realisasi janji politik dan disiplin fiskal pemerintah.
“Pembangunan bukan soal banyaknya proyek, melainkan seberapa besar dampaknya bagi masyarakat. Infrastruktur menjadi arena paling terang untuk menilai keseriusan pemerintah dalam mengelola anggaran secara disiplin dan berpihak pada rakyat,” ujar Lesty, Jumat (20/2/2026).
Menurutnya, tahun pertama pemerintahan Mirza–Jihan merupakan fase krusial dalam meletakkan fondasi pembangunan. Target 85 persen jalan mantap dinilainya sebagai ukuran konkret keberhasilan pemerintah menjawab kebutuhan dasar masyarakat.
Data terbaru menunjukkan capaian jalan mantap di Lampung baru mencapai 78,80 persen. Pemerintah menargetkan peningkatan sekitar 4 persen melalui dukungan pinjaman daerah sebesar Rp1 triliun dari Bank BJB. Namun, Lesty mengingatkan agar kualitas pembangunan tetap menjadi prioritas utama.
“Infrastruktur tidak boleh dikerjakan dengan orientasi jangka pendek. Setiap rupiah dalam APBD adalah uang rakyat dan harus kembali kepada rakyat dalam bentuk manfaat jangka panjang,” tegasnya.
Ia juga menekankan pentingnya kehati-hatian dalam pengelolaan pinjaman Rp1 triliun tersebut agar tidak menjadi beban fiskal di masa mendatang. “Pinjaman ini harus melahirkan proyek yang benar-benar berdampak nyata, bukan sekadar proyek seremonial tanpa manfaat signifikan,” katanya.
Terkait hubungan legislatif dan eksekutif, Lesty menyebut dinamika komunikasi merupakan hal wajar dalam sistem pemerintahan. Menurutnya, relasi DPRD dan pemerintah daerah tetap berjalan normal dengan tujuan bersama mendorong kemajuan Lampung.
Menutup evaluasinya, Lesty menegaskan pembangunan infrastruktur, pendidikan, dan kesehatan masih menjadi pekerjaan rumah utama yang harus dituntaskan secara kolaboratif.
REDAKSI








