Mirza: Tanpa Pesantren, IPM Lampung Bisa ‘Jeblok’ dan Kemiskinan Naik
Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal menegaskan pondok pesantren menjadi penyelamat ribuan anak putus sekolah di Lampung. Tanpa pesantren, puluhan ribu lulusan SMP berpotensi kehilangan akses pendidikan setiap tahun.
BANDAR LAMPUNG – Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal menyoroti peran strategis pondok pesantren dalam menyelamatkan puluhan ribu anak dari ancaman putus sekolah sekaligus menjaga Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di Provinsi Lampung.
Menurut Mirza, keberadaan pesantren menjadi penyangga utama sistem pendidikan di tengah keterbatasan daya tampung sekolah menengah di daerah tersebut.
“Saya tidak bisa membayangkan jika tidak ada pesantren di Provinsi Lampung. Mungkin IPM kita akan semakin jeblok dan angka kemiskinan bertambah,” kata Mirza dalam acara silaturahmi dan buka puasa bersama Ketua MPR RI, ulama, umara, serta tokoh masyarakat Lampung di Rumah Dinas Gubernur Mahan Agung, Bandar Lampung, Jumat (6/3/2026).
Berdasarkan data Pemerintah Provinsi Lampung, setiap tahun terdapat sekitar 130.000 lulusan SMP di daerah tersebut. Namun, ketersediaan bangku SMA hanya sekitar 90.000 kursi, sehingga puluhan ribu siswa terancam tidak dapat melanjutkan pendidikan.
Sekitar 20.000 lulusan SMP yang tidak tertampung akhirnya melanjutkan pendidikan di pondok pesantren yang tersebar di berbagai kabupaten dan kota di Lampung.
Saat ini tercatat sekitar 1.400 pondok pesantren beroperasi di Lampung dan berperan penting dalam membentuk generasi muda yang berpendidikan sekaligus berakhlak, serta membantu menekan angka kemiskinan.
Sebagai bentuk dukungan, Pemerintah Provinsi Lampung menyalurkan bantuan dana hibah tahun anggaran 2026 kepada 20 pondok pesantren dan lembaga pendidikan keagamaan. Bantuan tersebut diserahkan langsung oleh Gubernur Lampung dalam acara tersebut.
Dalam kesempatan yang sama, Ketua MPR RI Ahmad Muzani juga menyoroti daya saing lulusan SMA Lampung di tingkat nasional. Ia menyebut hanya sekitar 20–25 persen putra daerah yang mampu memenuhi standar kelulusan Fakultas Kedokteran Universitas Lampung (Unila).
Menurut Muzani, peningkatan kualitas pendidikan menjadi kunci utama untuk memperbaiki masa depan bangsa. Pemerintah pusat saat ini juga tengah menggulirkan sejumlah program prioritas seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), Sekolah Rakyat bagi keluarga kurang mampu, serta Sekolah Garuda untuk siswa berprestasi.
“Pendidikan adalah cara terbaik memperbaiki kualitas bangsa untuk masa depan,” ujar Muzani.
Selain pendidikan, penguatan sektor ekonomi agraris juga menjadi fokus pembangunan di Lampung. Muzani mengapresiasi langkah pemerintah daerah dalam menjaga stabilitas harga komoditas unggulan seperti singkong yang mencapai Rp1.350 per kilogram dan jagung sekitar Rp6.500 per kilogram.
Menurutnya, kekuatan ekonomi Lampung bertumpu pada sektor pertanian.
“Kekayaan orang Lampung bukan dari tambang, tetapi dari beras, jagung, dan singkong,” katanya.
Pemerintah Provinsi Lampung saat ini juga tengah menyiapkan skema hilirisasi komoditas pertanian guna menarik investasi di sektor industri pengolahan seperti cokelat, kopi, dan produk pangan lainnya.
Di tengah dinamika ekonomi global dan meningkatnya tensi geopolitik, Muzani juga mengingatkan pentingnya menjaga stabilitas keamanan dan kerukunan masyarakat agar pembangunan daerah tetap berjalan lancar.
Acara silaturahmi tersebut ditutup dengan tausiah dan doa bersama yang dipimpin oleh KH Buchori Muslim, sebagai simbol kolaborasi antara ulama dan umara dalam menjaga stabilitas sosial serta mendorong pembangunan daerah.
REDAKSI










