El Nino Ekstrem Diprediksi Hantam Lampung
Fenomena El Nino ekstrem diprediksi menghantam Lampung mulai Mei 2026. Produksi pangan terancam, pemerintah daerah diminta siaga untuk mencegah dampak meluas ke ekonomi nasional.
BANDARLAMPUNG — Ancaman serius terhadap ketahanan pangan nasional mulai terlihat seiring prediksi kemunculan fenomena El Nino ekstrem atau “Godzilla” pada pertengahan 2026.
Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal, mengingatkan seluruh pemerintah kabupaten/kota untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi dampak luas fenomena tersebut, terutama terhadap sektor pertanian yang menjadi tulang punggung ekonomi daerah.
“Fenomena El Nino ini akan sangat mempengaruhi produksi pangan kita. Karena itu, langkah mitigasi harus dilakukan sejak dini,” tegasnya dalam Rapat Koordinasi Mitigasi El Nino di Bandarlampung, Jumat (10/4/2026).
Berdasarkan data Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika, sebagian besar wilayah Lampung akan memasuki musim kemarau mulai Mei, dengan puncak kekeringan diperkirakan terjadi pada Juli hingga September. Kondisi ini berpotensi memicu gagal panen pada komoditas utama seperti padi, jagung, dan singkong.
Sebagai salah satu lumbung pangan nasional, gangguan produksi di Lampung dinilai tidak hanya berdampak lokal, tetapi juga berpotensi mengganggu pasokan pangan ke berbagai wilayah di Indonesia.
Gubernur Mirza mencontohkan, penurunan produksi jagung dapat memicu kenaikan harga pakan ternak yang berujung pada lonjakan harga ayam dan telur di pasar.
“Jika produksi terganggu, efeknya akan berantai, dari petani hingga harga kebutuhan pokok masyarakat,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Wakil Gubernur Lampung, Jihan Nurlela, yang menilai fenomena El Nino kali ini berpotensi berdampak lintas sektor, mulai dari pangan hingga kesehatan masyarakat.
Selain ancaman kekeringan dan krisis air bersih, risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta peningkatan penyakit seperti ISPA juga diprediksi meningkat.
Untuk mengantisipasi hal tersebut, pemerintah daerah didorong memperkuat infrastruktur sumber daya air, seperti optimalisasi pompa, sumur bor, embung, serta perbaikan jaringan irigasi. Di sektor pertanian, petani diminta menerapkan pola tanam adaptif dan menggunakan varietas tahan kekeringan.
Tak hanya itu, langkah percepatan masa tanam sebelum musim kemarau serta penguatan cadangan pangan juga menjadi strategi kunci dalam menjaga stabilitas produksi.
Dengan capaian produksi padi Lampung yang meningkat dari 2,73 juta ton GKG pada 2024 menjadi 3,25 juta ton pada 2025, pemerintah menilai capaian tersebut harus dijaga agar tidak tergerus dampak El Nino ekstrem.
Jika mitigasi tidak dilakukan secara serius, ancaman El Nino “Godzilla” dikhawatirkan tidak hanya menekan produksi pangan, tetapi juga memicu gejolak harga dan memperlambat pertumbuhan ekonomi, baik di Lampung maupun secara nasional.
REDAKSI










