Kompetensi Guru Lampung Baru 50 Persen

Kualitas guru di Lampung jadi sorotan setelah pemetaan menunjukkan kompetensi rata-rata masih 50 persen. Pemprov dan pusat siapkan langkah percepatan peningkatan SDM pendidikan.

Kompetensi Guru Lampung Baru 50 Persen
Foto: Istimewa

BANDARLAMPUNG — Kualitas tenaga pendidik di Lampung menjadi perhatian serius setelah hasil pemetaan menunjukkan kompetensi guru rata-rata baru mencapai sekitar 50 persen.

Temuan ini memicu dorongan percepatan peningkatan kapasitas sumber daya manusia di sektor pendidikan.

Data tersebut diungkap dalam Rapat Koordinasi Implementasi Program Prioritas Pendidikan 2026 yang melibatkan pemerintah pusat dan daerah.

Kepala Balai Guru dan Tenaga Kependidikan (BGTK) Lampung, Hendra Apriawan, menyebut pemetaan terhadap 33 ribu guru menjadi dasar evaluasi besar-besaran.

“Kompetensi guru masih perlu ditingkatkan signifikan agar kualitas pembelajaran ikut terdongkrak,” ujarnya, Senin (13/4/2026).

Menanggapi hal itu, Wakil Gubernur Lampung Jihan Nurlela menegaskan bahwa peningkatan kualitas guru menjadi kunci utama pembangunan manusia.

Menurutnya, tanpa SDM unggul, potensi daerah tidak akan berkembang optimal.

“Pendidikan adalah fondasi. Kalau kualitas guru tidak ditingkatkan, sulit menciptakan SDM yang kompetitif,” tegasnya.

Pemerintah Provinsi Lampung bersama Kementerian Pendidikan menyiapkan berbagai langkah strategis, mulai dari percepatan sertifikasi guru, peningkatan kualifikasi akademik hingga S1/D4, hingga pelatihan berbasis kebutuhan riil di lapangan.

Selain itu, pemerintah juga akan mempercepat redistribusi guru agar lebih merata, serta menyelesaikan persoalan tenaga pendidik non-ASN yang selama ini menjadi kendala di banyak daerah.

Di sisi lain, berbagai program inovatif juga didorong untuk menjawab kesenjangan pendidikan, seperti distribusi guru ke daerah terpencil, penguatan vokasi, hingga pemanfaatan teknologi pembelajaran berbasis digital dan kecerdasan buatan (AI).

Meski Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Lampung menunjukkan tren meningkat, pemerintah mengakui masih banyak tantangan, mulai dari kesenjangan akses pendidikan hingga tingginya angka anak tidak sekolah.

Kondisi ini menegaskan bahwa reformasi pendidikan di Lampung tidak bisa ditunda, terutama dalam meningkatkan kualitas guru sebagai ujung tombak pembelajaran.