Gubernur Lampung Bongkar Beban Berat TBC

Gubernur Lampung ungkap dampak serius TBC terhadap ekonomi dan layanan kesehatan. RSUD penuh rujukan, daerah didorong bergerak cepat tekan penularan.

Gubernur Lampung Bongkar Beban Berat TBC
Foto: Istimewa

BANDARLAMPUNG– Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal mengungkap besarnya tekanan yang ditimbulkan penyakit tuberkulosis (TBC) terhadap layanan kesehatan dan produktivitas masyarakat di daerah.

Dalam forum percepatan eliminasi TBC yang dihadiri pejabat pusat, Gubernur menegaskan bahwa TBC bukan sekadar isu kesehatan, melainkan ancaman nyata bagi stabilitas sosial dan ekonomi.

“TBC berdampak langsung pada produktivitas masyarakat dan menghambat pembangunan daerah,” tegas Mirza, Selasa (14/4/2026).

Ia memaparkan, tingginya beban layanan kesehatan terlihat dari membludaknya rujukan ke RSUD Abdul Moeloek yang mencapai hingga 700 pasien per hari.

Kondisi ini, menurutnya, menjadi indikator belum optimalnya deteksi dini di tingkat layanan dasar seperti puskesmas.

Untuk itu, Pemprov Lampung mendorong penguatan layanan kesehatan primer guna menekan lonjakan rujukan sekaligus mempercepat penanganan kasus sejak awal.

“Kalau deteksi dini berjalan baik, beban rumah sakit bisa ditekan,” ujarnya.

Di sisi lain, Gubernur juga menyoroti capaian positif sektor kesehatan. Standar Pelayanan Minimal (SPM) Lampung tercatat melampaui target, dari 103 persen pada 2024 menjadi 131 persen pada 2025.

Tingkat keberhasilan pengobatan TBC pun meningkat, dari 95 persen pada 2024 menjadi 98 persen pada 2025.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa angka keberhasilan tersebut belum cukup untuk menghentikan laju penularan jika tidak diimbangi dengan penemuan kasus secara agresif di masyarakat.

Karena itu, Gubernur mengajak seluruh elemen, mulai dari kader kesehatan hingga komunitas, untuk terlibat aktif dalam upaya eliminasi TBC.

“Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Ini butuh kolaborasi semua pihak,” tegasnya.

Langkah ini diperkuat dengan dukungan pemerintah pusat yang menggelontorkan anggaran tambahan serta mendorong strategi deteksi aktif, termasuk pemeriksaan terhadap keluarga pasien.

Gubernur menilai sinergi pusat dan daerah menjadi kunci untuk menekan TBC, sekaligus memastikan target besar Indonesia Emas 2045 tidak terganggu oleh persoalan kesehatan masyarakat.