Banjir Kembali Terjang Bandarlampung, Sistem Drainase Disorot
Hujan lima jam melumpuhkan Bandarlampung. Respons cepat pemkot dipuji, namun persoalan klasik drainase kembali jadi sorotan utama.
BANDARLAMPUNG – Hujan deras selama lima jam yang mengguyur Kota Bandarlampung, Selasa (14/4/2026), kembali mengungkap persoalan lama: lemahnya sistem drainase perkotaan. Sejumlah wilayah, termasuk Kecamatan Tanjungkarang Pusat, terdampak luapan sungai dan gorong-gorong yang tak mampu menampung debit air.
Luapan air terjadi setelah hujan sejak pukul 18.00 hingga 23.00 WIB, memicu genangan di permukiman warga, khususnya di Kelurahan Penengahan. Kondisi ini mempertegas bahwa persoalan banjir masih menjadi pekerjaan rumah serius bagi pemerintah kota.
Wali Kota Bandarlampung, Eva Dwiana, turun langsung meninjau lokasi terdampak. Pemerintah kota mengerahkan satgas serta tim dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) untuk mempercepat penanganan, termasuk penyedotan air dan pengerukan sedimentasi di saluran drainase.
Langkah cepat tersebut sempat meredakan dampak di lapangan. Aliran air mulai surut dan pasokan listrik yang sempat padam berhasil dipulihkan. Sejumlah warga mengapresiasi respons cepat tersebut, meski tetap menyoroti masalah yang terus berulang setiap hujan deras terjadi.
“Air cepat surut karena gorong-gorong dibersihkan, tapi kalau hujan lama pasti banjir lagi,” kata Amin (44), warga setempat.
Pemerintah Kota Bandarlampung menyatakan telah melakukan percepatan normalisasi sungai dan drainase di berbagai titik. Penataan bangunan di bantaran sungai, seperti di kawasan Tanjung Senang, juga mulai dilakukan untuk mengurangi penyempitan aliran air.
Namun, kejadian berulang ini menegaskan bahwa langkah responsif belum cukup tanpa pembenahan sistemik. Normalisasi sungai dan pembersihan sedimentasi disebut masih menjadi prioritas, tetapi efektivitasnya dipertanyakan jika tidak dibarengi dengan perencanaan tata kota yang lebih ketat dan berkelanjutan.
REDAKSI










