Tulisan Akademis Arief Poyuono : Dampak Pelaporan Keuangan Internet Pada Perilaku Investor
JAKARTA – Monologis.id. Arief Poyuono, mantan politisi dan komisaris PT Pelindo saat ini, telah menulis karya akademis yang berfokus pada komunikasi keuangan. Tulisan ini secara khusus lakukan penelitiannya dari tahun 2010 membahas dampak pelaporan keuangan internet sebagai media komunikasi terhadap sikap investor di pasar modal.
Tulisan akademis 135 halaman yang ditulis Arief Poyuono berdasarkan sumber publikasinya di https://www.academia.edu/31005549/THE_EFFECT_OF_INTERNET_FINANCIAL_REPORT_AS_COMMUNICATION_MEDIA_TO_THE_INVESTORS_ATTITUDE_IN_CAPITAL_MARKET telah dibaca 725 pembaca sampai berita ini dinaikan.
“Secara Global kita semua membutuhkan stabilitas ekonomi bahkan semampunya menguraangi ketergantungan pada utang luar negri” jelas Arief pada Sabtu (31/01/2026).
Berdasarkan abstraksi tulisan tersebut bahwa Globalisasi ekonomi yang telah membuka batas negara telah menyebabkan dunia usaha sedang berada dalam masa transisi dari era revolusi industri menuju era revolusi informasi.
Kecepatan penyebaran informasi yang berpotensi mempengaruhi baik perilaku individu maupun perilaku organisasi telah mengubah struktur konsumsi, produksi serta investasi di masa depan
“Globalisasi, Revolusi Industri hingga revolusi Informasi mendorong penyebaran informasi yang berpotensi mempengaruhi bahkan merubah perilaku Induvidu, organisasi bahkan mengubah struksi produksi konsumsi dan Investasi dimasa depan” terangnya
Interaksi dalam dimensi ruang dan waktu di antara berbagai variabel di belakang permintaan dan penawaran yang ditindaklanjuti dengan berbagai usaha untuk menyeimbangkan peningkatan kebutuhan dan proses pemenuhan kebutuhan.
Kemudian dampak selanjutnya terhadap pola investasi, telah mendorong terbentuknya suatu lingkungan pasar yang semakin penuh ketidakpastian, karena corak pasar bukan lagi lokal atau domestik akan tetapi sudah bersifat global.
“Berbagai interaksi kontradiksi ruang waktu dalam ragam variable yang menyertai permintaan penawaran dalam proses keseimbangannya, akhirnya berdampak pada pasar dan pola investasi yang bersifat local hingga globar” ujarnya.
Dalam penelitian ini Arief Poyuono menunjukkan bagaimana pelaporan keuangan berbasis internet memengaruhi perilaku dan sikap investor di pasar modal. Bahkan data menunjukkan bahwa investor sering mengandalkan situs web perusahaan, situs investasi, dan platform berita untuk informasi keuangan, dengan lebih sedikit yang menggunakan sumber resmi pemerintah.
Bahwa saat ini apa yang menjadi penelitian dari Thesis Arief Poyuono yang merupakan penelitian yang original dan genuine di dunia akademi menjadi peringatan bahwa pasar saham memerlukan sebuah transparansi dan Kejujuran agar investor bisa menginvestasikan dengan tepat dan tidak merasa ditipu.
Arief mengatakan bahwa laporan keuangan dalam bentuk Internet Finansial report dan prospektur emiten di Bursa saham banyak disajikan atau dilaporkan pada investor seperti dengan penulisan berita di media massa dibandingkan Kejujuran, fakta, kinerja emiten tersebut
Karena itu penelitian yang dilakukan arief poyuono sangat unik dan genuine dimana dia membedah laporan keuangan dari sisi Ilmu Komunikasi tidak dengan Ilmu Keuangan
Arief Poyuono pun di penelitian ini memaparkan bagaimana penggunaan pelaporan digital yang mudah diakses untuk meningkatkan transparansi dan kepercayaan di antara investor.
“Pola pola Penggunaan Internet sebagai platform Informasi pelaporan Keuangan akhirnya mempengaruhi perilaku para investor bahkan pasar, namun pelaporan berbasis internet pun akan mendorong transparansi serta kepercayaan dari Investor” Pungkasnya
Dampak Tulisan Arief Poyuono
Menyikapi situasi akhir akhir ini atas kondisi IHSG, BEI oleh MSCI. Arief Poyuono Menilai merujuk tulisan penelitiannya, bahwa Ini sebenar ada kesalahan OJK yang tidak melakukan control terhadap BEI Selama ini, sehingga MSCI tahu situasi di BEI.
“Merujuk pada penelitian dan tulisan saya tersebut, saya bisa menilai bahwa situasi yang menimpa BEI, IHSG karena OJK tidak melakukan kontrol yang proper selama ini hingga akhirnya situasi ini diketahui MSCI” tambahnya.
Salah satunya adalah bagaimana BEI mudah sekali melakukan proses IPO, hanya dengan mengunakan perusahaan cangkang yang tidak jelas kinerja keuangannya akhirnya mampu melantai di Bursa Efek Indonesia.
“Kita lihatlah selama ini proses IPO sebuah perusahaan di BEI itukan ijinya melalui OJK, dan OJK luput dalam menilai serta melakukan proses kontrol pada perusahaan-perusahaan tersebut hingga mudah untuk melantai di BEI” ungkapnya.
Dalam keadaan ini MSCI menilai bahwa para emiten yang terlibat dalam goren mengoreng saham ini melakukan laporan keuangan yang tidak transparan dan ini lolos di BEI, Sehingga MSCI meminta BEI saham para emiten free float minimal 15 % tidak tercapai. Seharusnya BEI bisa belajar dari kasus Jiwasraya Benny Cokro, yang merusak kepercayaan para investor di bursa saham.
“BEI terlalu kental dalam goreng mengoreng saham, mereka tidak belajar dari kasus jiwasraya. Akhirnya permintaan MSCI terkait minimum Free float saham para emiten tidak tercapai. inilah resiko tidak adanya transparansi laporan keuangan yang membuat IHSG Drop” tutupnya
DEDI ROHMAN








