Makan Bergizi Gratis: Konsumsi atau Investasi Bangsa?

Makan Bergizi Gratis: Konsumsi atau Investasi Bangsa?
Foto (Istimewa)

Dalam teori ekonomi makro, produk domestik bruto (PDB) dihitung melalui rumus sederhana namun fundamental: PDB = C + I + G + (X – M). 

oleh : Arief Poyuono *)

Konsumsi rumah tangga (C), investasi (I), belanja pemerintah (G), serta ekspor neto menjadi komponen pembentuk pertumbuhan ekonomi. Rumus ini sering kita dengar di ruang kuliah, seminar kebijakan, maupun laporan resmi pemerintah. Namun jarang kita bertanya secara lebih mendalam.., bahwa di saat negara menggelontorkan anggaran besar untuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG), ia masuk kategori mana?

Apakah MBG sekadar belanja pemerintah (G), seperti bansos, gaji pegawai negeri, atau biaya operasional kantor? Ataukah ia sesungguhnya merupakan investasi (I) jangka panjang negara yang berdampak sistemik terhadap konsumsi, produktivitas, dan bahkan penerimaan pajak?

Pertanyaan ini bukan sekadar ujian akademik. Jawabannya menentukan bagaimana kita memandang masa depan ekonomi Indonesia.

Jika MBG dipahami hanya sebagai belanja rutin pemerintah, maka ia akan diperlakukan sebagai beban fiskal. Namun jika kita menempatkannya sebagai investasi negara dalam pembangunan manusia, maka perspektifnya berubah total: MBG menjadi instrumen strategis pertumbuhan ekonomi.

Investasi berbeda dari konsumsi sesaat. Investasi membentuk kapasitas produksi masa depan. Dalam konteks ini, MBG adalah investasi pada kualitas sumber daya manusia, pada kesehatan, kecerdasan, dan produktivitas generasi mendatang. Gizi yang cukup pada usia sekolah terbukti meningkatkan konsentrasi belajar, memperbaiki kehadiran di kelas, dan memperkuat perkembangan kognitif. Dalam jangka panjang, efek tersebut bermuara pada peningkatan produktivitas tenaga kerja.

Ketika produktivitas naik, pendapatan masyarakat meningkat. Ketika pendapatan meningkat, konsumsi (C) ikut terdorong. Dan ketika konsumsi menguat, roda ekonomi bergerak lebih cepat. Dengan demikian, investasi negara pada MBG bukan hanya memperbesar komponen “I” dalam rumus PDB, tetapi juga mendorong “C” secara simultan.

Lebih jauh lagi, peningkatan produktivitas dan konsumsi akan berdampak pada penerimaan pajak. Basis pajak yang lebih luas dan ekonomi yang lebih sehat akan meningkatkan penerimaan negara tanpa harus menaikkan tarif pajak. Artinya, MBG berpotensi memperkuat kapasitas fiskal negara itu sendiri.

Dalam kondisi ekonomi global yang lesu dan penuh ketidakpastian, instrumen domestik seperti MBG menjadi penting. Tanpa pengungkit internal yang kuat, pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa saja tertahan di bawah kisaran 4–5 %. Namun dengan dorongan konsumsi domestik dan peningkatan produktivitas akibat investasi pada gizi, pertumbuhan 2025 yang diproyeksikan di kisaran 5,39% menjadi lebih realistis.

Argumen ini tidak berdiri di ruang kedap. Sejumlah penelitian internasional menunjukkan bahwa investasi pada program makan bergizi di sekolah menghasilkan tingkat pengembalian yang sangat tinggi. UNICEF dan Bank Dunia mencatat bahwa setiap 1 dolar yang diinvestasikan dalam program makan sekolah dapat menghasilkan manfaat ekonomi antara 4 hingga 35 dolar melalui peningkatan kesehatan, pendidikan, dan produktivitas. Dalam beberapa kajian lintas negara, estimasi pengembalian ekonomi bahkan berada pada kisaran 16–35 dolar per 1 dolar investasi.

Angka tersebut bukan sekadar proyeksi teoritis. Penelitian terhadap sekitar 100 negara penyelenggara program makan sekolah menunjukkan dampak nyata terhadap ekonomi lokal. Program semacam ini meningkatkan permintaan terhadap produk pertanian lokal, mendukung usaha kecil, serta menciptakan lapangan kerja. Diperkirakan, setiap 100.000 anak yang dilayani oleh program makan sekolah dapat mendorong penciptaan sekitar 1.591 lapangan kerja baru.

Dampak berantai ini menunjukkan bahwa MBG tidak berhenti di ruang kelas. Ia menyentuh petani, nelayan, pelaku UMKM pangan, hingga sektor logistik. Dapur-dapur sekolah menjadi simpul ekonomi baru yang menghubungkan kebijakan publik dengan produksi lokal. Dalam konteks Indonesia yang memiliki basis pertanian dan UMKM luas, potensi multiplier effect ini sangat signifikan.

Pendanaan global untuk program makan gratis di sekolah pada 2024 mencapai sekitar 84 miliar dolar AS, dengan 99 % berasal dari anggaran pemerintah nasional masing-masing negara. Fakta ini penting: hampir seluruh negara menganggap program makan sekolah sebagai tanggung jawab negara dan sebagai investasi jangka panjang, bukan sekadar bantuan sosial temporer.

Selain dampak ekonomi makro, manfaat MBG di luar ruang kelas juga patut dicermati. Dari sisi pendidikan, program makan sekolah meningkatkan kehadiran dan konsentrasi siswa. Anak yang lapar sulit belajar optimal. Dengan nutrisi yang cukup, proses pembelajaran menjadi lebih efektif. Dari sisi kesehatan, MBG menyediakan asupan gizi esensial dan membentuk kebiasaan makan sehat sejak dini.

Program ini juga memiliki dimensi gender yang sering luput dari perhatian. Di banyak negara berkembang, program makan sekolah terbukti meningkatkan partisipasi anak perempuan di sekolah dan membantu menunda pernikahan dini serta kehamilan usia muda. Dengan demikian, MBG bukan hanya soal pangan, tetapi juga soal pemberdayaan perempuan dan pembangunan sosial.

Lebih jauh, jika dirancang dengan baik, MBG dapat memperkuat sistem pangan yang berkelanjutan dan cerdas iklim. Pengadaan berbasis lokal dapat mengurangi emisi rantai pasok yang panjang, mendorong praktik pertanian berkelanjutan, serta menciptakan sistem pangan yang lebih tangguh terhadap perubahan iklim. Integrasi antara kebijakan gizi dan kebijakan pertanian membuka ruang bagi transformasi struktural di sektor pangan.

Semua ini bermuara pada satu konsep besar, yakni: pembangunan human capital , yamg mencakup kesehatan, keterampilan, pengetahuan, pengalaman, dan kebiasaan suatu populasi. Negara dengan modal manusia kuat memiliki daya saing tinggi di era ekonomi berbasis pengetahuan dan teknologi. Sebaliknya, negara dengan kualitas gizi dan kesehatan rendah akan kesulitan memanfaatkan bonus demografi.

Indonesia saat ini berada pada momentum bonus demografi yang tidak akan terulang. Jika generasi muda tumbuh tanpa dukungan gizi yang memadai, bonus itu bisa berubah menjadi beban. Di sinilah MBG mengambil peran strategis sebagai instrumen investasi masa depan.

Tentu, program sebesar MBG memerlukan tata kelola yang disiplin dan akuntabel. Efisiensi anggaran, kualitas pangan, stabilitas rantai pasok, serta pengawasan yang ketat menjadi prasyarat mutlak. Tanpa manajemen yang baik, potensi investasi bisa tergerus oleh inefisiensi. Namun risiko tata kelola bukan alasan untuk mereduksi makna strategis program.

Pada akhirnya, pertanyaan tentang apakah MBG adalah “G” atau “I” bukan sekadar soal klasifikasi akuntansi. Ia adalah soal cara pandang terhadap masa depan bangsa. Jika kita melihatnya sebagai beban belanja, maka diskursus akan selalu berkutat pada angka anggaran. Namun jika kita memahaminya sebagai investasi dalam modal manusia, maka kita berbicara tentang fondasi pertumbuhan ekonomi jangka panjang.

Dalam situasi global yang tidak menentu, investasi domestik pada kualitas manusia adalah pilihan rasional. Setiap dolar yang ditanamkan hari ini untuk gizi anak bukan hanya menambah konsumsi sesaat, tetapi membangun produktivitas, memperluas basis pajak, memperkuat ekonomi lokal, dan meningkatkan daya saing nasional.

Dengan demikian, MBG bukan sekadar program makan gratis. Ia adalah strategi ekonomi. Ia adalah kebijakan pembangunan manusia. Dan dalam kerangka PDB, ia mungkin tercatat sebagai belanja negara, tetapi dalam makna yang lebih dalam, ia adalah investasi bangsa.

*) Komisaris Pelindo