Lampung Bidik 160 Sekolah Adiwiyata pada 2030
DLH Provinsi Lampung membina SMA Negeri 1 Ambarawa, Pringsewu, untuk memperkuat penerapan program Adiwiyata. Pemprov Lampung menargetkan 160 sekolah berbudaya lingkungan hingga 2030, dengan fokus pada pengelolaan sampah, konservasi energi dan air, serta pembentukan karakter peduli lingkungan.
PRINGSEWU – Pemerintah Provinsi Lampung menargetkan pembinaan sekolah berbudaya lingkungan melalui program Adiwiyata menjangkau 160 sekolah hingga 2030. Salah satu upaya dilakukan melalui pendampingan di SMA Negeri 1 Ambarawa, Kabupaten Pringsewu, Senin (19/10/2026).
Pembinaan yang dilakukan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Lampung tersebut diarahkan untuk memperkuat kepedulian lingkungan di kalangan warga sekolah, mulai dari pengelolaan sampah, penghematan energi dan air, hingga pemeliharaan keanekaragaman hayati.
Kepala Bidang Penataan dan Peningkatan Kapasitas Lingkungan Hidup DLH Lampung, Wawan Sah, yang mewakili Kepala DLH Riski Sofian, mengatakan Adiwiyata tidak sekadar mendorong sekolah menjadi bersih dan hijau, tetapi juga membangun kebiasaan ramah lingkungan dalam kehidupan sehari-hari.
“Atas arahan Bapak Gubernur Mirza dan Ibu Wagub Jihan, Adiwiyata adalah investasi karakter. Kita ingin mencetak generasi Lampung yang cerdas secara akademik, tetapi juga bertanggung jawab terhadap lingkungan,” kata Wawan saat memberikan pembinaan kepada siswa dan tenaga pendidik.
Dalam kegiatan yang disambut Kepala SMA Negeri 1 Ambarawa, Jahara Siregar, beserta dewan guru dan kader Adiwiyata tersebut, Wawan menjelaskan bahwa penilaian Adiwiyata mencakup empat aspek utama.
Aspek pertama adalah perencanaan Gerakan Peduli dan Berbudaya Lingkungan Hidup di Sekolah (GPBLHS), termasuk penyusunan rencana aksi, integrasi pendidikan lingkungan dalam pembelajaran, serta dukungan anggaran.
Kedua, pelaksanaan gerakan lingkungan yang mencakup konservasi energi dan air, pengelolaan sampah dengan prinsip reduce, reuse, recycle (3R), serta penanaman dan pemeliharaan pohon.
Ketiga, pembentukan perilaku ramah lingkungan di kalangan seluruh warga sekolah. Keempat, publikasi kegiatan dan pengembangan kemitraan dengan pemerintah, masyarakat, serta dunia usaha.
Wawan menegaskan, pelaksanaan program perlu didukung dokumentasi dan pelaporan sesuai ketentuan yang berlaku. Data kegiatan juga harus diunggah melalui Sistem Informasi Adiwiyata (SIDIA).
Menurutnya, keberhasilan program tidak cukup diukur dari kondisi fisik sekolah ketika penilaian berlangsung. Kebiasaan mengurangi sampah plastik, memilah sampah, menghemat listrik, dan merawat tanaman harus menjadi bagian dari keseharian siswa maupun tenaga pendidik.
Ia juga mengajak para siswa mengambil peran melalui tindakan sederhana yang dapat dilakukan tanpa menunggu kebijakan atau instruksi dari pihak sekolah.
“Bawa tumbler, jangan membeli air kemasan plastik. Bawa kotak bekal, kurangi sampah kantin, pilah sampah, matikan lampu kelas jika sudah selesai, serta tanam satu pohon dan rawat hingga besar,” pesannya.
Rangkaian pembinaan diakhiri dengan peninjauan bank sampah, kebun pembibitan siswa, dan instalasi pengolahan air limbah (IPAL) komunal di lingkungan sekolah.
Pihak SMA Negeri 1 Ambarawa menyatakan kesiapan untuk meningkatkan capaian program dan menargetkan kenaikan peringkat menuju Adiwiyata tingkat provinsi dan nasional pada penilaian 2027.
Melalui pembinaan tersebut, Pemprov Lampung berharap semakin banyak sekolah menerapkan pengelolaan lingkungan secara berkelanjutan sekaligus membentuk generasi muda yang memiliki kepedulian terhadap kelestarian alam.
REDAKSI











