Pemkot Metro Sebut Miliki Cadangan Pangan
METRO - Asisten II
Setda Kota Metro, Lampung, Yerry Ehwan, menyebut
bahwa bahwa saat ini Pemerintah Kota Metro telah memiliki cadangan pangan yang
di simpan di gudang Bulog melalui perjanjajian kerja sama sejak 2011 lalu.
Hal itu dia ungkapkan saat memimpin rapat pembahasan
pengelolaan cadangan pangan dan Koordinasi Sistem Peringatan Dini Kerawanan
Pangan dan Gizi (SKPG) Food Security and Vulnerability Atlas (FSVA) Kota Metro 2023,
yang berlangsung di OR Setda setempat, Selasa (12/9/2023).
“Karena seluruh pemerintah daerah termasuk pemerintah pusat
di minta untuk menyiapkan cadangan pangan untuk berjaga-jaga apabila
sewaktu-waktu terjadi bencana alam, kerawanan pangan, gejolak kenaikan harga
ekstrim hingga 25 persen ke atas dalam waktu 1 minggu, sehingga dapat memicu
peningkatan angka kemiskinan, rawanan pangan kronis maupun transient,â€
terangnya.
Hal itu, tercantum dalam Peraturan Walikota No.11 Tahun 2021
tentang Pengelolaan Cadangan Pemerintah Kota Metro untuk penyaluran cadangan
pangan.
“Rapat hari ini
adalah untuk menyamakan persepsi pemahaman terkait informasi-informasi yang
akan disampaikan, yang salah satu arahannya yaitu membantu masyarakat yang
memang betul-betul memungkinkan untuk di bantu dari cadangan pangan ini,â€
tandasnya.
Sementara itu, Kepala DKP3 Kota Metro Heri Wiratno juga
menyampaikan, bahwa SKPG, jika di lihat kilas baliknya tentang Peta Rawan
Pangan di Kota Metro, ada cadangan pemerintah yang ada di Bulog.
“Dasar pelaksanaannya adalah UUD tahun 1945, dimana pangan
merupakan kebutuhan dasar manusia. Pemenuhannya dijamin oleh undang-undang
1945, ketahanan pangan adalah kunci utamanya dari kesehatan, aktif, produktif,
dan berkelanjutan,†ungkapnya.
Menurutnya, peta kerawanan pangan juga harus dapat di lihat
dari sisi data penting karena ini merupakan bagian dari OPD-OPD selaku pemangku
kebijakan yang berkaitan dengan penyelenggaraan pangan dan ketahanan pangan.
“Saya berharap nanti kita bisa lebih memperjelas lokus-lokus
melalui pemilahan data dengan melakukan sistem monitoring ke tahanan dan
kerentanan rawan pangan,†jelasnya.
Selain itu kata Hery, pendekatan rawanan pangan kronis dan
transien memiliki cara yang berbeda-beda dalam menyelesaikan permasalahannya.
“Khusus transien
penanganannya adalah dengan memberikan bantuan, sementara kronis masih
memerlukan beberapa langkah sehingga kerawanan pangan ini dapat teratasi
contohnya dengan peningkatan kapasitas penganekaragaman pangan, penyediaan
lapangan kerja, jaringan infrastruktur dan lain sebagainya,†pungkasnya.