IIPG Lampung Tengah Bidik UMKM Perempuan Naik Kelas
IIPG Lampung Tengah menggandeng Universitas Teknokrat Indonesia untuk meningkatkan kapasitas perempuan pelaku UMKM melalui pelatihan digital marketing, branding, pengelolaan keuangan, hingga affiliate marketing.
LAMPUNG TENGAH — Ikatan Istri Partai Golkar (IIPG) Lampung Tengah memperkuat pemberdayaan perempuan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dengan mendorong peningkatan kemampuan pemasaran dan pengelolaan usaha.
Langkah tersebut dilakukan melalui rencana kerja sama dengan Universitas Teknokrat Indonesia untuk menggelar pelatihan bagi perempuan pelaku UMKM di Lampung Tengah. Program itu ditargetkan mulai berjalan pada November 2026.
Rencana kerja sama dibahas Ketua IIPG Lampung Tengah drg. Yuniar Musa Ahmad bersama Wakil Rektor III Universitas Teknokrat Indonesia Auliya Rahman Isnain di kampus setempat, Senin (5/10/2026).
Yuniar mengatakan pemberdayaan perempuan tidak cukup hanya mengajarkan keterampilan membuat produk. Pelaku UMKM juga perlu dibekali kemampuan untuk membangun merek, memasarkan produk, dan mengelola keuangan usaha.
"Jangan sampai kita hanya mengajarkan bagaimana membuat produknya, tetapi setelah produk jadi, mereka bingung mau dijual ke mana dan bagaimana cara memasarkannya," ujar Yuniar.
Pelatihan yang dirancang IIPG dan Universitas Teknokrat Indonesia nantinya mencakup digital marketing, administrasi dan pengelolaan keuangan, affiliate marketing, branding, serta labeling produk.
Menurut Yuniar, kemampuan tersebut penting agar produk UMKM tidak hanya beredar di lingkungan sekitar, tetapi mampu menjangkau konsumen yang lebih luas melalui platform digital.
"Sekarang pasar tidak lagi terbatas pada lingkungan tempat kita tinggal. Dengan digital marketing, produk dari Lampung Tengah bisa diperkenalkan kepada masyarakat di berbagai daerah," katanya.
Yuniar juga menilai branding dan labeling menjadi bagian penting dalam meningkatkan daya saing produk. Kemasan, identitas merek, informasi produk, dan strategi pemasaran perlu diperhatikan agar produk UMKM terlihat lebih profesional.
"UMKM harus naik kelas. Kita ingin ibu-ibu tidak hanya bisa menghasilkan produk, tetapi juga memahami bagaimana membuat produk itu terlihat profesional, memiliki branding, memiliki label, kemudian mampu menjualnya secara konsisten," jelasnya.
Dia berharap kerja sama dengan perguruan tinggi dapat menghadirkan pelatihan yang tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga memberikan keterampilan yang dapat langsung diterapkan pelaku UMKM.
Sementara itu, Wakil Rektor III Universitas Teknokrat Indonesia Auliya Rahman Isnain menyambut baik rencana kolaborasi tersebut.
Menurut Auliya, perguruan tinggi memiliki peran dalam meningkatkan kapasitas masyarakat, termasuk melalui pendidikan dan pelatihan yang berkaitan dengan pengembangan usaha.
"Kami sangat senang bisa ikut terlibat dalam kerja sama ini. Mudah-mudahan apa yang nantinya diberikan dalam pelatihan benar-benar dapat bermanfaat dan bisa diterapkan oleh para peserta," ujar Auliya.
Auliya berharap kerja sama tersebut tidak berhenti pada pelaksanaan pelatihan, tetapi dapat berlanjut dalam berbagai program pemberdayaan masyarakat dan penguatan UMKM.
DENI FERNANDO











