Pemuda Tulangbawang Setubuhi Anak Dibawah Umur di Kebun Sawit

Pemuda Tulangbawang Setubuhi Anak Dibawah Umur di Kebun Sawit
Foto: Yanto Susilo Anwar/monologis.id

TULANGBAWANG - Seorang pemuda bernisial DS (18), warga Kampung Kecubungraya, Meraksaaji, Tulangbawang, Lampung, ditangkap polisi karena menyetubuhi paksa anak dibawah diumur.

"Pelaku ditangkap pada Jumat (04/12) sore di rumah saudaranya yang tidak jauh dari rumah pelaku," ujar Kapolsek Gedung Aji Ipda Arbiyanto mewakili Kapolres Tulangbawang AKBP Andy Siswantoro, Sabtu (05/12).

Arbiyanto menjelaskan, terungkapnya perbuatan bejat pelaku karena ibu kandung dari korban melihat perubahan yang mencolok pada anaknya, korban suka melamun dan seperti orang ketakutan.

Saat ditanyakan apa penyebabnya, korban lalu bercerita kalau dirinya sering diancam oleh pelaku, karena pelaku telah berhasil menyetubuhi korban sebanyak dua kali di areal perkebunan sawit yang ada di Kecubungraya.

Mendapatkan cerita tersebut, ibu kandung korban langsung naik pitam dan melaporkan peristiwa pilu yang dialami oleh anak perempuannya ke Mapolsek Gedungaji.

"Peristiwa tersebut terjadi pada Juli 2020, untuk hari dan tanggalnya korban lupa. Saat itu korban diajak pelaku untuk bertemu di sebuah warung, kemudian pelaku mengajak korban berjalan ke areal perkebunan sawit. Disanalah pelaku memaksa korban melakukan persetubuhan sebanyak dua kali," jelas Arbiyanto.

Korban sempat menolak, tetapi pelaku ngancam kalau korban tidak mau mengikuti apa maunya, kakak kandung korban akan di bunuh oleh pelaku sehingga dengan berat hati terpaksa korban melepas kesuciannya.

Usai pelaku melakukan aksi bejatnya, pelaku selalu mengancam korban kalau sampai ada orang lain yang tahu, pelaku akan menyebarkan video saat pelaku menyetubuhi korban di areal perkebunan sawit. Padahal video yang dimaksud oleh pelaku ini tidak pernah ada.

“Pelaku saat ini masih dilakukan pemeriksaan secara intensif di Mapolsek Gedung Aji dan akan dijerat dengan Pasal 81 ayat 1 Jo Pasal 76D Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 35 tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak,” kata Arbiyanto.

“Dipidana dengan pidana penjara paling singkat 5 tahun dan paling lama 15 tahun dan denda paling banyak Rp5 Miliar,” pungkasnya.