Menjemput ANNA Part-7 (Serial Fiksi Bersambung)
Rotterdam saat malam

oleh : Erizeli Jely Bandaro

 

“ Pak Jaka “ terdengar di seberang suara Lena. “ Saya butuh jadwal anda pak. Karena banyak pihak yang ingin bertemu anda.”
“ Maaf, Lena. Saya stuck di Eropa. Belum bisa kembali ke Hong Kong.“
“ Apakah semua baik baik saja, Pak”
“ Ya. Semua baik baik saja.”
“ Apakah ada perintah yang harus saya laksanakan?
“ Saya minta laporan mengenai perkembangan proyek di Ginzo, Guangxie. “
“ Segera saya lakukan. Apa lagi ?
“ Beri tahu, James, kalau penjualan Bond tidak mencapai maksimal di Bursa Hong Kong, agar dia hubungi JPM Frankfurt. Saya sudah dapat email dari Frankfurt mereka akan bantu dapatkan solusi pembiayaan proyek kawasan industry kita di Ginzo”
“ Kemarin rapat BOD, yang saya hadiri, James memang ada masalah. Tapi dia memilih menanti anda pulang untuk membahasnya.”
“ Ok segera kirim laporan proyek itu. Saya akan arahkan James untuk terbang ke Frankfurt. “
“ Siap Pak. “
“Ada lagi Lena ?
“ Yuni minta PG anda untuk pinjaman ke bank dalam rangka pengambil alihan Jaringan hotel di China. “
“ MInta Wenny pelajari proposal hutangnya di bank. Dan segera buat laporan ke saya. Dan bila mungkin Wenny bisa bantu Yuni tanpa harus saya keluarkan PG. “
“ Siap pak. Ada lagi.?”
“ Ingat hanya kamu yang bisa komunikasi dengan saya. Gunakan saluran selular untuk komunikasi dengan saya. Jangan beri tahu nomor ini kepada yang lain”
“ Pak..Apakah anda baik baik saja.” Terdengar suara Lena dengan nada kawatir. Dia sebagai sekretaris telah bertugas lebih dari 5 tahun“ Engga usah kawatir. Tenang saja. Saya hanya butuh waktu untuk segera pulang”
“ Doa saya selalu untuk anda, Pak.”
“ Ok bye now.
***

 


Seusai menerima telp dari Lena , dari Luxemburg saya melanjutkan perjalanan ke Rotterdam. Rencana saya akan tinggal di sana sampai urusan ini selesai. Itu usulan dari Lyly. Dasha akan mendampingi saya dalam tugas itu. Dia berperan sebagai asisten saya. Tidak ada arahan lagi dari Lyly. Kalau saya ingin bertanya, tidak mungkin lagi. Karena dia tidak mau komunikasi dengan saya. ALasannya dia harus menjaga posisinya sebagai direktur Bank di London. Jadi saya seorang diri. Saya harus improvisasi sendiri agar proyek ini selesai dan segera pulang.

Di Rotterdam saya tinggal di NH Atlanta hotel. Tanpa akses ke terminal SafeNet, saya hanya mengandalkan email untuk komunikasi. Ada email masuk dari Anna. Pesan singkat sekali. Saya di Ultrech. Apakah mungkin bertemu ? Saya segera menjawab email itu “ Kita ketemu di Rotterdam, NH hotel”

Hanya berselang beberapa detik dapat jawaban dari Anna “ OK saya segera ke sana”

 

 

Saya terkejut ternyata kehadiran saya di Rotterdam agar lebih dekat dengan Anna. Lyly sudah mengetahui lebih dulu dan tugas saya mendekati Anna.

Sore hari Anna sudah ada di Loby hotel. Dengan longcoat dia nampak cantik. Senyumnya renyah menghampir saya seraya merentangkan tangan untuk memeluk saya “ I miss you. “ Katanya.
“ Me too, dear. Kamu baik baik saja ?
“ Ya ya. Ada apa di Rotterdam ?
“ Hanya liburan saja. Rencana minggu depan pulang”
“ Jangan pulang buru buru. Saya ada masalah. Butuh bantuan anda.”
Saya tersenyum. Bukan sifat Anna dengan mudah minta tolong kepada orang lain. Tapi dia memperlihatkan dokumen kesaya “ Kamu tahu ini ? Katanya. Saya melirik dokumen itu. Tertera Trinity Capital. Saya berusaha menyimpan keterkejutan saya.
“ Mereka buka penawaran fasilitas kredit sebesar USD 400 juta. “
“ Apa jaminannya ?
“ Saya punya relasi di Frankfurt yang akan sediakan jaminan.”
“ Ini ada kaitannya dengan ICF. Kalau iya, saya tidak bisa bantu. Karena saya bukan lagi orang ICF. “
“ Ya. Tahu itu. Makanya saya temui kamu. “ katanya dengan tersenyum. “ Jaka bisa kita bicara di kamar kamu ?
“ Tentu. Mari kita ke kamar saya. “ Anna mengikuti langkah saya ke lift.

Dia melihat kearah jendela ketika masuk kamar. “ Dengan siapa kamu tinggal di Rotterdam?
“ Dengan satu orang staff.”
“Wanita ?
“ Ya. Tapi dia tinggal di hotel lain.”
“ Oh I see. “
Anna duduk di tempat tidur sambil menyenderkan tubuhnya ke ujung tempat tidur. Saya perhatikan Anna tidak seperti biasanya yang saya kenal.

 


“ Jaka, saya tahu kamu di pilih oleh ICF karena koneksi kamu dengan China dan keahlian kamu dalam financial engineering. Itu luar biasa untuk ukuran orang asia. Saya ingin tawarkan kerjasama bisnis dengan kamu “
“ Apa ?
“ Gunakan akses kamu untuk deal dengan Trinity capital. “
“ Apa alasan saya untu deal ?
“ Kamu buka rekening di Trinity Capital untuk tujuan dapatkan fasilitas credit. Pembukaan rekening dilakukan dengan dasar mandatory dari Special propose company di wilayah offshore yang punya asset.
“ Asset ?
“ Ya Asset tersebut ditempatkan di trust account pada Asset Management Group ( AMG ) di Frankfurt. “
“ Dan “
“ Kamu pindahkan asset yang ada di trust account itu ke Trinity Capital itu sebagai collateral”
“ Mengapa saya ?
“ Pihak AMG di Frankfurt hanya percaya dengan kamu. Kemarin dia bilang begitu.”
“ Oh ya? mereka bilang begitu ?
“ Tepatnya mereka memberikan list personal yang memungkinkan saya punya akses ke Trinity Capital. Salah satu nama yang ada di list itu, hanya kamu yang saya kenal. Tract record kamu sebagai pemain hedge fund tidak perlu diragukan. Kamu berkelas dunia Jaka”
“ OK. Setelah itu..
“ Saya akan masuk pasar leverage. Tugas kamu selesai. “
“ Mudah sekali. “
“ Ya kamu dapatkan profit sharing 30%. Saya akan leverage dalam sebulan 100 kali. “ Itu artinya USD 40 billon. Kalau 1 persen saja margin, kita dapat USD 400 milion sebulan.” Kata Anna dengan tersenyum sambil berdiri dari rebahannya di Kasur. Dia melangkah menuju meja kerja. Seraya memandang cermin, dia membereskan rambutnya setelah melepas topi peredam dingin dan membuka Long coat nya.
“ Bisnis yang fantastic. Kata saya melirik kearah cermin. “
“ Kamu punya akses ke institusi dan saya punya akses ke asset. Kita akan jadi team yang hebat. Jaka. “
“ Untuk apa uang itu , Anna ?
“ Saya bosan dengan ICF. Kita muslim, jaka, setiap muslim berkewajiban membela tempat suci kita. Damaskus kota yang di rahmati Nabi. Yarusalem tempat kiblat kita pertama kali. Sekarang kedua tempat itu penuh ketidak pastian. Umat islam, terpuruk. Semua karena kerakusan Yahudi, yang sengaja menempatkan pemimpin yang tidak amanah di negara mayoritas islam, agar ketidak adilan terjadi. Dan mereka juga meniupkan rasa benci dan permusuhaan diantara umat islam, membenturkan sunny dengan syiah. Meningkatkan pertikaian antar Mahzab. Semua karena kemiskinan. Dan orang miskin mudah di provokasi untuk jadi kayu bakar.”

 


“ Kamu terlalu mensederhanakan persoalan, Anna”
“ tidak begitu. Apakah ada yang lebih penting daripada perut ? Maklumilah. Kita harus berjuang untuk membela kaum miskin itu agar mereka cerdas menentukan sikapnya.
“ Tapi uang yang kita dapat dari cara menipu pasar.. Itu insider trading, Anna. Allah tidak akan meridhoi nya”
“ Ya tapi di legimate. Dan Allah akan menilai orang tergantung niatnya. Niat kita kan mulia. Allah akan menjaga kita dari kekalahan.”
“ Kamu akan masuk pasar 144 A?
“ Ya. Kalau saya punya rekening di Trinity Capital maka saya akan otomatis jadi members 144 A, ya kan.”
“ Anna, “ seru saya
“ Ya Jaka”
“ Saya setuju dengan ide kamu tapi saya harus lead dalam transaksi ini.”
Anna menatap saya lama, dengan tersenyum.
“ Bagaimana ? Kejar saya.
Dia memeluk saya. “ Terimakasih Jaka. Kamu saudara muslim saya. Kita berdua akan jadi team hebat. OK saya akan patuh di belakang kamu.”
“ Kapan kita mulai “ Kata saya.
“ Hari ini. Ayo kita keluar dari kamar ini, terbang ke Frankfurt. “ Kata Anna dengan melangkah kearah pintu.

 

Saya telp Dasha agar segera meluncur ke Bandara, Amsterdam, untuk bergabung dengan saya ke Frankfurt. Saya menghubungi Lena di Hong Kong “ Saya sudah baca laporan perkembangan proyek Ginzo. James sebaiknya terbang ke Frankfurt sekarang. Saya tunggu di Frankfurt. Agenda meeting denga banker rencana lusa.“
“ Siap Pak. “

(bersambung)