Menjemput ANNA Part-10 (Serial Fiksi Bersambung)
Martial Art

Oleh : Erizeli Jely Bandaro

 

Kepergian Dasha membuat saya termenung. Mengapa ? Ada seorang wanita lajang yang seakan hidupnya telah diwakafkan untuk perjuangan yang menjadi keyakinannya. Dia beragama dengan sederhana dan patuh kepada nilai nilai yang diyakininya. Saya bisa menyimpulkan itu karena saya pernah berdialogh dengannya setelah usai sholat Isya berjamaah.

Usai sholat , Dasha berdoa. Saya perhatikan dia berdoa dengan kusyuk sekali.

“ Boleh bertanya pak.” katanya kemudian.

“Ada apa , Dasha ?

“ ICF dan Hizbullah, kan berbeda agama. Mengapa mereka bisa bersatu dalam misi yang sama”

“ Karena hakikat agama itu kan sama, yaitu menuju Tuhan.”

“ Misi ICF mulia sekali. Apakah kelak mereka akan masuk sorga? “

“ Mengapa kamu tanya itu ?

“ Karena sayang sekali mereka bukan muslim, tentu amalannya akan sia sia.”.

“ Kalau soal sorga, jangankan ICF , untuk diri kita yang islam saja kita tidak tahu apakah kita akan masuk sorga. “

“ Mengapa ?

“ Karena sorga itu hak Allah. Walau Allah telah menjanjikan sorga namun kita tidak bisa memaksa dengan amalan dan ibadah kita itu Allah wajib menempatkan kita ke sorga. Agama bukan media transaksional dihadapan Tuhan. Apapun yang kita lakukan, akan kembali kepada diri kita sendiri. Dan Allah tidak mendapatkan apapun dari ibadah kita. Keimanan kepada Tuhan tidak ada hubungannya dengan reward. Keimanan kepada Tuhan adalah jalan mendekati Tuhan untuk mencapai kesempurnaan pribadi.

“ Lantas bagaimana sikap Islam terhadap mereka yang berbeda agama?

“ Keimanan itu adalah pilihan merdeka, atas persetujuan hati nurani dan akal sendiri, bukan merupakan paksaan dari luar. Pilihan keimanan adalah pilihan atas kebenaran yang berasal dari Tuhan. Keyakinan kita bahwa Quran sebagai kitab suci terakhir dan sekaligus penutup dari seluruh kitab suci yang pernah diturunkan Allah. Walaupun demikian, Quran tetap mengakui mereka dengan syarat mereka tetap mengakui Tuhan (Allah) dengan sebenar-benarnya dan beramal shalih serta iman kepada hari akhir.”

 

 

“ Artinya semua agama itu sama.? Katanya dengan nada tidak bisa menerima argumen saya.

“ Tentu tidak sama. Namun tujuannya sama yaitu Tuhan asalkan mereka beriman kepada Tuhan dan hari akhir. Kamu baca Al Quran surat Al Baqaran ayat 62. Di situ jelas dikatakan bahwa sesungguhnya orang-orang mu’min, orang-orang Yahudi, Shabiin dan orang-orang Nasrani, siapa saja (di antara mereka) yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.

“ Oh i see.”

“ Ada lagi Surat Almaidah 69, Tuhan berkata bahwa esungguhnya orang-orang Mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja di antara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.”

“ Oh i see.”

“ Kamu tahu, tadinya Nabi Muhammad berpikiran sama dengan orang awam sekarang bahwa orang non islam akan masuk neraka. Sebagaimana di ceritakan dalam tafsir, ketika Salman al Farisi menanyakan pada Rosulullah bahwa banyak dari teman-temanya yang beriman, beramal shalih, dan menjalankan syariat tetapi mereka tidak memeluk Islam, Rosulullah menjawab mereka semua ahli neraka, lalu turun ayat yang saya katakan tadi untuk membantah bahwa para ahli kitab masih ada peluang untuk masuk surga. Sejak ayat itu turun, persepsi tentang mereka yang berbeda jadi lain. Sikap toleran terbangun menjadi cahaya islam. Baca dech Tafsir Ibnu Katsir. Jelas disitu.”

“ Tapi pak. Sebagian ulama banyak yang berpendapat bahwa ayat disebutkan tadi, telah dibatalkan oleh firman Allah dalam Ali Imran 85. Bahwa sesungguhnya agama yang diridai Allah hanya Islam. Dan barang siapa yang mencari agama selain Islam menjadi Agama, sekali-kali tidaklah akan diterima darinya”

 

 

“ Ayat yang kamu sebutkan itu bukanlah membatalkan ayat yang menjadi argumen saya. Kalau dikatakan bahwa ayat tersebut membatalkan Almaidah 69, maka yang akan timbul adalah fanatik, mengaku diri Islam, walaupun tidak pernah mengamalkanya. Dan surga itu hanya dijamin untuk kita saja.”

“ Bagaimana soal balasan di akhirat terhadap agama lain ?,

“ Neraka bukanlah lobang-lobang api yang disediakan di dunia ini bagi siapa yang tidak mau masuk Islam, sebagaimana yang disediakan oleh DziNuwas Raja Yahudi di Yaman Selatan, yang memaksa penduduk Najran memeluk agama Yahudi, padahal mereka telah memegang agama Tauhid. Neraka adalah ancaman di Hari Akhirat esok, karena menolak kebenaran.”

Dasha menetap saya dengan tersenyum. “ Saya paham. Apa yang anda katakan itu tidak jauh beda dengan pemahaman yang disampaikan oleh mentor saya ketika bergabung dengan team Hizbullah. ya islam itu agama yang sangat menghormati perbedaan.

“ Terus mengapa kamu menangis dalam doa, Dasha ?

“ Saya ingat kebodohan saya dulu. Saya pernah ikut team Al Qaidah. Lebih dua tahun saya diracuni kebencian dan amarah kepada lawan. Sehingga setiap hari saya beragama bukannya semakin tenang malah semakin gelisah. Seharusnya kan beragama itu membuat kita kuat, walau dalam situasi dan kondisi apapun. Andaikan niat kita tidak tercapai , itu sudah dicatat oleh Allah sebagai pahala. Jadi bukan sejauh mana sukses kita raih dalam perjuangan tapi sejauh mana niat kita baik dan ikhlas karena itu.”

“ Jadi sekarang kamu tidak membenci musuh kamu?

“ Tidak. Bahkan saya mencintai mereka dan terus berdoa agar Allah membukakan hidayah bagi mereka. “

“ Dan itupula sebabnya kamu bisa membunuh tiga orang tanpa sedikitpun ada tercermin diwajah kamu rasa benci kepada mereka.”

“ Saya tadinya tidak berniat untuk membunuh mereka. Andaikan mereka tidak menodongkan senjata , saya lebih baik melumpuhkan mereka dengan tangan kosong. Tapi SOP dalam latihan mengharuskan saya melakukan itu tanpa ada sedikit benci. Kecuali ingin menghentikan mereka.”

Saya tersenyum.

“ Dasha, apa boleh saya tahu skill beladiri kamu ?

“ Maksud anda ?

“ Gimana kalau kita tarung bebas. Kita buat lingkaran, Siapa yang keluar dari lingkaran kalah.”

“ Apa anda sedang becanda pak ?

“ Saya serius , Dasha”

Dia berdiri dari duduknya dan pasang kuda kuda siap bertarung “ Pak, saya tak ingin bapak terluka.”

“ Engga apa apa. Mari …” kata saya tenang.

 

 

Dari kuda kudanya saya tahu dia belajar bela diri Thai boxing. Ketika melepaskan pukulan kearah saya, saya tidak menghindar dengan mundur tapi dengan cepat memiringkan tubuh saya dengan agak membungkuk, dan menarik tangannya yang sedang mengarah kesaya. Gerakan tubuh saya yang membelakanginya memungkinkan dia ikut gerakan saya. Dengan menggunakan kekuatan punggung dan pinggul saya, membuat dia terlempar kedepan melewati bahu saya. Tapi dengkul saya berusaha menahannya agar tidak jatuh fatal “

Saya tersenyum melihat dia bengong. “ Bagaiman bisa? Cepat sekali gerakan anda. Ilmu bela diri apa ini ?

“ Ya silat. Bertumpu kepada kecepatan, bukan kekuatan saja.”

“ Oh..luar biasa. Cepat sekali gerakannya.”

“Bagaimana.?

“ Bisa dicoba lagi ?

“ Sekarang kita buat aturan sederhana. Kalau 2 menit kamu tidak jatuh, kamu menang. “

“ Ok.

 

 

Dasha melepaskan tendangan kanannya kearah saya tapi saya tidak terpancing untuk membalas. Namun dengan cepat saya geser tubuh saya kesamping sambil menjatuhkan diri menendang lutut bagian belakangnya. Dia terjatuh. Saya tersenyum.

“ Bagaimana bisa?

“ Dengar. Kelemahan Thai Boxing adalah kuda kuda yang melebar dan bertumpu kepada keseimbangan kaki. Tapi justru disitu kelamahannya. Gerakan kedua dengkul memang hebat tapi bagian belakang lutut lemah. Makanya saya tidak ladenin kamu benturkan kaki kamu dengan kaki saya. Kalau itu saya lakukan maka akan mudah kamu menjatuhkan saya. Kamu sudah terlatih membenturkan lutut.Paham. ?

“ Paham.”

“ Jadi bela diri itu adalah seni. Seni mengendalikan diri dan membaca kelemahan lawan, untuk menjadi pemenang.”

“ Pantas, waktu di zurich saya perhatikan, hanya anda yang nampak tenang. Tenang sekali.”

“ itu karena saya percaya kepada Tuhan. Hidup mati , Tuhan yang tentukan.”

(BERSAMBUNG)