Jangan Pernah Berdamai Dengan Pelaku Kekerasan Jurnalis
Kejaksaan Tinggi Lampung (Foto: Istimewa)

BANDARLAMPUNG - Isu yang dihembuskan pihak Kejaksaan Tinggi Lampung bahwa telah terjadi perdamaian, dibantah pihak media online suara.com. Ketua AJI Bandarlampung Hendry Sihaloho meminta tidak ada kata berdamai terhadap pelaku kekerasan.

"Segala bentuk kekerasan terhadap jurnalis seyogianya tidak berdamai. Hal itu sama saja permisif dengan kekerasan yang menimpa jurnalis. Jika memang komunitas pers serius menyikapi kekerasan, maka melaporkan setiap kekerasan. Hanya dengan mengusut tuntas, maka kekerasan terhadap jurnalis bisa diakhiri," tegas Hendry kepada monologis.id, Jumat (21/10).

Lebih jauh Hendry menjelaskan, pengusutan kasus kekerasan terhadap jurnalis, akan melahirkan preseden yang baik bagi kebebasan pers. Sehingga, ke depan, tak terdengar lagi kasus kekerasan terhadap wartawan. Hanya pers yang bebas yang dapat mengekspose kejahatan.

Seperti diketahui diberitakan di sejumlah media, jurnalis suara.com Ahmad Amri mengalami intimidasi oleh Jaksa Kejati Lampung berinisial A, Jumat (22/10) pagi. Intimidasi dipicu berita yang dibuat Amri tentang dugaan oknum jaksa menerima uang dari keluarga terpidana kasus illegal logging.

Amri awalnya mewawancarai Desi Sefrilla, istri dari terpidana illegal logging. Hasil wawancara, didapat bahwa Desi mengaku sudah menyetor sejumlah uang untuk meringankan hukuman suaminya ke seseorang yang mengaku oknum jaksa A.

Namun, karena hukuman suaminya tidak berkurang, Desi memutuskan melaporkan kasus penipuan yang diduga dilakukan oknum jaksa tersebut ke Polres Pringsewu.

Saat Amri mengkonfirmasi jaksa A di gedung Kejati, pelaku langsung mengintimidasi Amri. Pesan WA Amri di-screenshot dan dilaporkan ke bagian Cyber Polda Lampung. Pelaku bilang, WA Amri sudah bisa dikenakan dengan UU ITE. Tak hanya itu, pelaku juga mengatakan sudah menyuruh dua orang menelepon Amri dan mencarinya. Amri pun merasa terancam.

Hendry mengecam intimidasi terhadap jurnalis suara.com. Menurutnya, apa yang dilakukan jaksa A adalah upaya membungkam Amri menyampaikan kebenaran.

"Seyogianya, yang bersangkutan cukup menjawab hal yang ditanyakan Amri. Tak perlu mengancam, apalagi sampai membawa dua orang untuk mencari Amri. Apa maksudnya mencari Amri," kata dia.

Menurutnya, tugas jurnalis adalah memberikan informasi sedemikian rupa. Sehingga, orang dapat menilainya dan kemudian memutuskan sendiri apa yang harus dipikirkan.

Sebagai bagian dari pers, lanjutnya, jurnalis memiliki peran yang sangat spesifik dalam masyarakat. Melalui informasi, jurnalis memberdayakan warga negara untuk memperkuat institusi demokrasi dan demokrasi itu sendiri.

Lebih dari itu, keberadaan jurnalis untuk menjaga hak-hak publik, diantaranya hak atas informasi. Karena itu, mengintimidasi jurnalis atau apa pun bentuk kekerasan lainnya berarti mengebiri hak publik memperoleh informasi.

"Saya meminta semua pihak untuk menghormati kerja-kerja jurnalistik. Selain dijamin UU 40/1999 tentang Pers, jurnalis bekerja untuk publik," pungkasnya.

Menanggapi masalah ini, Wakil Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Lampung Bidang Pembelaan Wartawan, Juniardi, mengatakan, intimidasi terhadap wartawan bertentangan dengan hukum dan hak asasi manusia (HAM).

"Terlebih ini dilakukan oleh jaksa yang notabene adalah penegak hukum. Seharusnya jaksa paham dan bisa membedakan mana wartawan dan mana yang bukan wartawan," kata Juniardi bos Sinar Lampung.com ini.