Benarkah Daun Sungkai Bisa Mengobati COVID-19? Ini Ulasan Dokter Muda Asal Lampung
dokter Aldo Setia (Foto: dok.pribadi)

BANDARLAMPUNG – Daun sungkai (Peronema canescens Jack) menjadi fenomena di kalangan masyarakat. Tumbuhan asal Sumatera dan Kalimantan itu diklaim mampu melawan virus yang tengah mewabah di dunia saat ini.

 

Lantas, apa saja kandungan dan manfaat tanaman yang tengah viral itu? Berikut ulasan yang disampaikan dokter Aldo Setia kepada monologis.id, Rabu (28/07).

Aldo menjelaskan, daun sungkai sudah pernah diteliti saat awal-awal viral di Jambi pada 2020 lalu.

“Memang ada kandungan yang bisa membantu meringankan gejala COVID-19. Salah satunya Etanol yang mempunyai efek antiinflamasi (peradangan) juga bisa meredakan nyeri serta untuk antipiretik (demam),” ujar dokter sekaligus pencipta lagu itu.

Selain itu, juga ada kandungan lainnya yang berfungsi untuk antioksidan sehingga bagus untuk meningkatkan imunitas tubuh seseorang.

“Jadi hal yang wajar jika masyarakat sekarang memburu daun sungkai ini,” kata dia.

Lebih rinci Aldo menjelaskan, gejala COVID-19 selalu berhubungan dengan demam, peradangan, gangguan pernapasan dan imunitas.

“Tapi perlu diingat, ini bukan obat COVID-19 dan bukan untuk membunuh si COVID-19,” tegasnya.

Tapi menurutnya bisa mencegah serta membantu (meringankan) gejala juga yang sifatnya herbal atau alami dari alam.

“Dan jika ini dikembangkan dan benar-benar bisa diteliti dengan uji klinis untuk pasien COVID-19 ini akan menjadikan kabar gembira juga buat kita karena Sungkai ini cukup banyak tumbuh di tempat kita (Lampung) terutama di kampung-kampung,” kata Aldo.

Mengenali Sungkai

Mengutip mhomecare.co.id, sungkai merupakan salah satu tumbuhan asli Kalimantan. Meski asli Kalimantan, tanaman ini juga bisa dijumpai di daerah Sumatra Barat, Bengkulu, Jambi, Sumatra Selatan, Lampung dan Jawa Barat.

Sungkai banyak tumbuh di hutan sekunder pada berbagai jenis tanah. Tapi biasanya, sungkai tumbuh pada tanah yang cukup mengandung air, seperti di tepi sungai dan secara bermusiman tergenang air tawar.

Tumbuhan sungkai cocok tumbuh di daerah tropis bercurah hujan A hingga C, baik di tanah kering maupun sedikit basah pada ketinggian 0 mdpl hingga 600 mdpl. Tanaman itu merupakan jenis kayu-kayuan yang bisa mencapai tinggi 20-30 meter, dengan diameter batang mencapai 60 cm atau lebih. Tinggi batang bebas cabang bisa mencapai 15 meter.

Bentuk batang lurus dengan lekuk kecil. Kulitnya berwarna abu-abu atau sawo muda, beralur dangkal mengelupas kecil-kecil dan tipis. Penampang kulit luar berwarna coklat, kuning, atau merah muda. Kayunya berteras dengan warna sawo muda. Rantingnya penuh dengan bulu-bulu halus.

Daun muda tanaman ini sering digunakan sebagai obat saat anak-anak demam dan sakit kepala serta sakit gigi, asma, bahkan penyakit kulit seperti panu. Rebusan daun muda sungkai juga dipercaya berkhasiat untuk memperlancar haid pada perempuan dan membantu tingkat kesuburan rahim wanita.

Ariefa Primair Yani dkk dalam penelitiannya berjudul "Uji Potensi Daun Muda Sungkai (Peronema canescens) untuk Kesehatan (Imunitas) pada Mencit (Mus.muculus)" mengatakan bahwa sungkai sering juga disebut sebagai jati sabrang, ki sabrang, kurus sungkai, atau sekai. Tumbuhan ini termasuk dalam famili Verbenaceae.

Di Bengkulu, tumbuhan ini bisa dijumpai di hutan, kebun, maupun halaman. Tanaman ini bisanya digunakan sebagai pagar hidup di belakang rumah.

Tumbuhan ini oleh suku Dayak Kalimantan sampai saat ini masih kerap digunakan untuk pengobatan maupun perawatan kesehatan. Mereka bisanya menggunakan daun muda sungkai untuk obat pilek, demam, cacingan (ringworms).

Kadang daun muda tumbuhan ini juga dijadikan untuk memandikan wanita selepas bersalin. Selain itu, daun muda sungkai biasanya juga digunakan untuk obat kumur pencegah sakit gigi.

Di wilayah Sumatra Selatan dan Lampung, daun sungkai biasanya digunakan sebagai antiplasmodium dan obat demam. Suku Serawai Bengkulu, bisanya menggunakan daun sungkai untuk obat memas. Sedangkan suku Lembak Bengkulu biasanya menggunakan daun muda sungkai untuk penurun panas, malaria, dan menjaga kesehatan.

Kandungan dalam daun tumbuhan ini, menurut Ariefa, punya khasiat meningkatkan sistem imun tubuh. Menurut dia, untuk menurunkan panas, biasanya masyarakat menggunakannya segenggam tangan orang dewasa dengan sekali konsumsi.

Menurut Ariefa, dari hasil uji coba ke mencit menunjukkan sel darah putih (leukosit) mencit meningkat. Meningkatnya sel darah putih, kata dia, bisa digunakan tubuh untuk melawan berbagai penyakit infeksi.

Sejumlah peneliti juga sudah melakukan riset terhadap khasiat daun sungkai itu. Bahkan daun ini juga sudah dijual di beberapa toko online seperti shopee.co.id, tokopedia.com. Di Shopee daun sungkai seberat 250 gram dijual seharga Rp50 ribu.

Di deskripsi produk, penjual menulis begini. Daun sungkai terkenal sebagai obat mujarab bagi wanita yang menginginkan momongan. Daun ini berkhasiat menambah kesuburan. "Tidak ada salahnya mencoba dan tak lupa berdoa kepada Tuhan, mudah-mudahan kita semua segera diberi keturunan yang berguna bagi nusa bangsa," kata penjual dalam deskripsi produknya.

Di Tokopedia, dengan berat yang sama daun itu dihargai Rp55.000. Dalam deskripsi produknya, penjual menyebut beberapa khasiat daun ini. Daun yang terkenal di Kalimantan ini, begitu merek menyebut, dapat digunakan mengobati luka terbuka.

Minum air rebusan bagian kulit batang pohon ini, dipercaya bisa mengobati malaria, menjaga stamina tubuh, hingga meningkatkan imunitas tubuh. Bagi wanita yang minum rebusan daun ini dipercaya bisa menambah kesuburan. Lagi-lagi di akhir ditambahi kalimat, "Jangan lupa berdoa pada Tuhan."

Dari hasil penelitian dan sejumlah informasi produk itu, tak ada salahnya jika informasi yang disampaikan Doni Monardo itu ditindaklanjuti dengan penelitian yang lebih serius. Siapa tahu, dari penelitian itu, daun sungkai itu memang benar bisa digunakan untuk menangkal virus corona yang hingga kini belum ditemukan vaksinnya itu.