Laporan Ancaman Pembunuhan Jurnalis di Kota Bekasi 'Ngambang'
Ade Muksin (kiri)/Foto:Istimewa

KOTA BEKASI – Kasus ancaman pembunuhan yang dialami Jatnika Surya Utama, jurnalis di Kota Bekasi, Jawa Barat, tanpa kejelasan.

Kasus tersebut telah dilaporkan Polres Metropolitan Bekasi Kota pada Senin (27/09) silam. Namun, kini dilimpahkan ke Polsek Bekasi Timur.

“Katanya sudah dilimpahkan ke Polsek (Bekasi Timur) pada Kamis (30/09), tapi ketika kami konfirmasi ke Polsek terkait tindak lanjutnya di suruh menunggu," kata Ade Muksin, Pemimpin Redaksi (Pemred) tempat Jatnika bernaung, Selasa (12/10).

Rahmat Aminudin, praktisi Hukum dari Firma Hukum Rahmat Aminudin & Rekan di Jakarta menyikapi soal pelimpahan itu.

"Terlepas ancaman itu pada wartawan atau bukan, jelas itu kriminal murni. Jika benar pelaku tersebut ngancam pakai senpi, itu perlu adanya gerakan cepat dari pihak kepolisian harus dan segera bertindak, karena jelas sudah mengancam keselamatan jiwa seseorang," kata Rahmat.

Hal senada disampaikan Mandala Sinaga yang juga praktisi hukum. Menurutnya, pihak kepolisian wajib segera menangkap pelaku karena sudah mengancam nyawa orang lain menggunakan senpi.

"Polisi wajib segera tangkap si terlapor, karena laporannya sudah jelas. Terlebih warga sipil ancam menggunakan senpi. Setidaknya pihak kepolisian dapat menjerat pelaku dengan pasal pidana pengancaman dan Undang-undang darurat," kata Mandala.

Namun, lanjut Mandala untuk penyalahgunaan senjata api itu sifatnya administratif. Tetapi jika ada tindakan lain seperti mengancam  terhadap kebebasan orang lain, pelaku harus segera ditangkap.

"Apalagi informasi korbannya adalah seorang wartawan, pelaku dapat dikenakan pasal sesuai  Undang-undang yang berlaku di Negara Kesatuan Republik indonesia," pungkas Mandala.

Sebelumnya, pada Minggu (26/09) lalu, rumah Jatnika Surya Utama  di Kelurahan Bojong Rawa Lumbu, Kecamatan Rawa Lumbu, Kota Bekasi didatangi oleh tiga orang pria yakni NS, S dan M.

“Saya kaget ada yang ketok pintu, pas dibuka ternyata ada empat orang laki-laki di depan rumah, salah satu dari mereka adalah RT saya, yang tiga orang tidak kenal, sementara suami sedang di luar," ujar Erni Suherni istri Jatnika.

Erni langsung menghubungi suaminya untuk segera kembali pulang, mengingat satu diantara tiga tamu tersebut berbicara dengan suara tinggi seperti emosi.

"Saya takut terjadi apa-apa dan langsung telpon suami saya supaya segera pulang, dan sesampainya di rumah, suami saya langsung di bentak-bentaj, suruh ikut dan masuk ke dalam mobil, saya mau ikut tidak boleh, bahkan RT saya pun tidak boleh ikut, akhirnya suami saya dibawa entah kemana," ujar Erni.

Jatnika menceritakan, di dalam mobil dirinya diintimidasi dan diinterogasi serta diancam akan dibuang di tol, bahkan diancam akan ditembak.

"Betul saya dipaksa masuk kedalam mobil untuk menuju rumah Sanam, rekan saya. Diperjalanan hingga sampai di rumah Sanam, saya diancam akan ditembak, dibolongin di bentak-bentak, diintimidasi, diintrogasi hingga saya shok tidak ada celah untuk melakukan pembelaan atau berbicara apapun," paparnya.