Tanggung Jawab Akademisi Islam:  Ketika Wacana Keislaman 'Dilemahkan', Bijakkah untuk Diam?

Oleh: Wildan Hanafi*

 

DAPAT kita lihat bahwa, dalam perspektif analisis sirah Nabawiyah, bahwa ketika Nabi membawa ajaran Islam ini, kaum musyrikin Mekkah, dengan segala upaya berusaha untuk “memadamkan” dakwah Nabi Muhammad SAW.  Dimulai dari “pembusukan” dalam hal literasi (syair, puisi, prosa) hingga tindakan yang sifatnya represif (kekerasan, pembunuhan). Semua itu tujuannya satu, agar gerakan dakwah Nabi semakin lemah bahkan “hilang” dimuka bumi.

Sebagaimana kita bisa lihat bahwa bagaimanapun kita bisa melihat ‘terdapat” beberapa orang atau kelompok yang dengan sadar atau tidak sadar, dengan “wacana” baik secara ilmiah atau ungkapan, secara tulisan yang sifatnya fiksi atau nonfiksi malah “menjauhkan” dari cahaya Islam itu sendiri.

Beberapa kelompok malah ada yang merasa bahwa “penjauhan” ini adalah “elightement (pencerahan), beberapa kelompok lagi ada yang merasa bahwa ini adalah “pembelaan” atas kaum “tertindas”, beberapa kelompok lagi ada yang merasa bahwa ini adalah sebuah kebaikan. Namun mereka tidak menyadari, bahwa bisa jadi terdapat “sutradara” besar, yang ingin mengadu domba, supaya umat Islam lemah baik dari segi power hingga ke masalah epistimologis.

Kadang mereka tidak menyadari bahwa bisa jadi mereka menjadi agen yang “tidak sadar” atas program-program besar yang ingin menjadikan Islam ini lemah.

Pelemahan ini bukan saja dari segi fisik, tapi dari segi yang terdalam yaitu dari segi epistimologis teologik. Mereka “melemahkan Islam” dengan cara yang sangat “cantik”, yaitu dengan cara menjadikan “agen yang tidak sadar” untuk menjauhkan Islam hingga ketingkat yang paling lembut. Sebut saja sampai ketingkat filosofis.

Cantiknya mereka, menyerang bukan dengan “mereka sendiri”, tapi menjadikan “agen yang tidak sadar” melawan kaum muslimin. Akhirnya kaum muslimin yang “sadarpun”, ia harus berlawanan dengan arus besar dari kalangan mereka sendiri. Akhirnya sampailah pada bentrok, baik bentrok secara filosofis maupun bentrok secara fisik.

Kaum-kaum yang ingin melemahkan Islam, menurut saya menyerang secara terencana dan dalam waktu yang panjang. Mereka sangat pandai melihat mana yang tepat untuk dijadikan “agen yang tidak sadar” sehingga memudahkan untuk menjalankan misi mereka. Mereka mengadakan sebuah skema “kelicikan public” untuk menghancurkan dengan “tangan yang bersih”, mereka mencoba “menghapus” istilah-istilah” islami, atau term-term kunci supaya orang-orang merasa takut atau merasa “radikal” padahal secara perspektif sirah nabawiyah itu adalah sesuatu hal yang biasa.

Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mengada-adakan dusta terhadap Allah sedang dia diajak kepada Islam? Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang zalim.

Mereka ingin memadamkan cahaya Allah SWT dengan mulut (tipu daya) mereka, tetapi Allah (justru) menyempurnakan cahaya-Nya, walau orang-orang kafir membencinya.(QS. Ash-Shaff [61] : 7-8)

Khususnya para akademisi, marilah analisis hadits Rasulullah “Barang siapa bangun di pagi hari, namun tidak terpikirkan problem umatku, dia bukan bagian dari umatku”. Tentu saja para akademisi Islami harus mau memikirkan masalah umat. Bukan masalah fiqh, ekonomi, pendidikan saja, tapi pikirkan juga dengan masalah-masalah yang ingin memisahkan al-quran dengan “kehidupan umat Islam”.

Banyak sekali para akademisi Islam, tapi hanya menjadikan Islam sebagai “benda mati saja”, tidak menjadikan islam sebagai sesuatu yang “sacral” bahkan menjadi sebuah pedoman dalam kehidupan. Islam hanya sebagai “ilmu” saja, islam hanya sebagai buah penelitian saja, islam hanya sebagai mata kuliah saja, tapi tidak menjadikan Islam sebagai petunjuk hidup. Padahal inilah sebenarnya “cirri orang yang bertaqwa” (2:1-7).

Maka dari itu saya mengajak siapapun yang menjadi akademisi Islam, untuk pandai melihat “gejala” apa yang terjadi. Membaca “tanda-tanda (sign)” sebenarnya “ada apa ini?” sehingga dengan demikian semua akademisi dengan bidangnya dapat berpartisipasi untuk lebih mendekatkan umat Islam dengan Qurannya, berpartisipasi untuk mendekatkan Umat Islam dengan Rabbnya, berpartisipasi untuk mendekatkan Umat Islam dengan agamanya, berpartisipasi untuk mengingatkan kesadaran bahwa hari ini umat islam benar-benar sedang dipermainkan dan diadu domba.

Apakah kita akan diam saja dengan gelar yang bersanding dipundak kita? Atau bisa jadi gelar itu menjadi jalan kita untuk dibakarnya di dalam api neraka?

Para Akademisi Islam! Mari membaca, mari berpartisipasi, mari menyelesaikan masalah ini, jangan banyak diam! Bergeraklah.

*) Mahasiswa Peternakan, Fakultas Pertanian Universitas Lampung