CBL Dulu, Kini dan ke Depan

Oleh: Gusti suryowigtyo, S.H

 

CIKARANG Bekasi Laut, dua alur sungai Cikarang dan Kali Bekasi menuju Laut berada di wilayah Kecamatan Babelan, Kabupten Bekasi Jawabarat.

Alur sungai CBL dahulu di buat dan diperuntukan mengoptimalisasi  lahan  pesawahan masyarakat, sumber air dapat di manfaatkan petani untuk musim bercocok tanam baik tanam padi dan berkebun. Hal tersebut sangat membantu bagi para petani di desa-desa sekitar aelur sungai DAS CBL, meminimalisir banjir saat musim penghujan datang.

CBL berfungsi juga berbagai aktivitas seperti mandi,Cuci baju, juga beberapa nelayan tradisional yang ada masih memanfaatkan aliran air sungai CBL yang masih baik terawat dan terjaga pada tempo dulu.

Namun kini daerah aliran sungai CBL telah bertransformasi menjadi alur berlayarnya kapal-kapal Laut.  Mondar-mandirnya transportasi Kapal-Kapal laut dari berbagai Jenis lalu-lalang  tugboat beroperasi bergerak menarik tongkang -tongkang bermuatan batu bara dengan jenis ukuran berbeda yang tanpa tutup bak gunung berjalan, batu bara tersebut guna keperluan bahan bakar energi milik swasta  yang  berada pada wilayah Muara bakti Babelan juga latut di pertanyakan RT/RW 2011-2031 Kabupaten Bekasi , hingga  Kini ?

Bukan itu saja hilir mudik kapal-kapal lain tentu ada juga berbagai jenis kapal yang melintasi pada alur DAS  CBL berbagai mesin-mesin Eksavator beserta tongkang, lumpur yang tak ada habisnya melakukan pegerukan di DAS CBL, gali angkut timbun ke Badan tanggul CBL,sudah  kurun waktu 3,5 tahun lamanya, hingga  kini.

Sekarang dan ke depan badan tanggul akan terus meratapi berbagai ancam meski adanya Normalisasi yang di lakukan oleh pihak swasta. Berbagai ancaman ke depan seperti kondisi air yang tak layak untuk di pergunakan petani mengairi lahan, kebun dan sawah.

Saat ini CBL layak goot raksasa, lalu lintas sampah  pada DAS CBL kerap menjadi pemandangan yang kurang sedap bahkan ikan-ikan air tawar hampir sulit  di temui kembali, hingga sebabkan petani  enggan kembali untuk bercocok tanam akibat sawah tak lagi teraliri air, kepetakan sawah-sawahnya.

Hingga terbelangkalai sekali nekatpun  dengan risiko gagal tanam yang sangat tinggi.

Kemungkinan lain ke depannya badan tanggul CBL akan mendapat persoalan baru jika otoritas pemiliknya lalai. Seperti, munculnya bangunan liar. Galian lokal hasil sedimentasi Normalisi DAS CBL, pemanasan Global dan dampak iklim lingkungan hidup, minimnya konservasi hijau pada tanggung CBL itu sendiri.