Anak Mudanya Sudah Menjangkau Dunia, Infrastruktur Jalan Lampung Timur Masih Buruk

Oleh: Bagong Suyoto*

INFSTRUKTUR jalan-jalan menuju kampung-kampung di Kab Lampung Timur harus segera diperbaiki karena akan mampu meningkatkan produktivitas interaksi manusia dan pemindahan berbagai komoditas ke daerah lain, seperti kota-kota di Pulau Sumatera dan Jawa. Pemkab Lampung Timur di Sukadana harus bergerak cepat, dengan dukungan Pemprov Lampung di Bandar Lampung dan Pemerintah Pusat di Jakarta.

Jalan lintas timur dari Pelabuhan Bakauheni ke Bandar Sribhawono dan ke arah Panjang - Bandar Lampung mulus. Tetapi jalan dari Lapangan bola Desa Sribhawono menuju Dusun Wanakarya Desa Wana Kecamatan Melinting Kab Lampung Timur rusak parah, buruk sekali. Hal ini berdasar Rapid Assesment pada 4-5 Januari 2022.

Pemerintah Kab Lampung Timur segera harus memperbaiki infrastruktur jalan-jalan ke kampung-kampung. Jalan Sribhawono - Wana - Labuhan Maringgai merupakan jalan aspal petama yang dibangun tahun 1980-an.  Jalan ini merupakan kebanggaan bagi masyarakat suku Lampung Melinting/Lampung Timur.

Karena mayoritas etnis Desa Wana adalah suku Lampung asli dengan rumah-rumah panggungnya. Sekarang dikenal dengan sebutan Lampung Melinting. Mereka masih menjaga tradisi nenek moyangnya, seperti keluarga besar Haji Dullah, Haji Dullah Nuri, Haji Syamsudin, Haji Saleh, Haji Dahlan, dll.

Selain suku Lampung, di desa Wana ada komunitas suku Banten. Biasanya suku Banten menyebutnya dengan kata "Sinar", seperti Kampung Sinar Banten. Ada beberapa kampung/dusun yang didiami etnis Banten asal Serang, Cilegon, Baros Pandelang,  dll.

Dari pusat pemerintahan Desa Wana, melewati kantor Kecamatan Melinting menuju Dusun Wakarya jalan-jalannya sudah hancur. Katanya, dulu pernah diaspal kucur,  namun semua sudah terkelupas dan banyak yang berlubang. Menurut warga sebab banyak truk besar dengan tonase berlebihan melewati jalan-jalan itu, akibatnya jalan-jalan hancur.

Dusun Wanakarya mayoritas didiami oleh suku dari Jawa Tengah. Mereka bertani, dagang, buruh, sopir, pegawai pemerintah desa, dll. Anak-anak mudanya menjadi buruh migran dan wiraswasta di kota-kota besar, seperti Serang, Tangerang, Jakarta, Bogor, Bekasi,  dll. 

Buruh kerja dalam scope lokal dan nasional, sekarang sudah dianggap ketinggalan,  kata salah seorang warga. Saat ini banyak anak muda Wanakarya menjadi pekerja migran di Singapore,  Taiwan, Hongkong, Thailand, Malaysia, dll.  Mereka bilang kerja kaliber internasional atau dunia.

Cara berpikir dan langkah kerja pemuda Wanakarya mengikuti arus globalisasi, menjangkau dunia. Mereka sudah berpikir meraup dollar.

* Founder Lembaga Pertanian Berkelanjutan dan Agroforestry – Lampung dan Ketua Persampahan Nasional (KPNas)