Abaikan Kasus Pelecehan Seksual Mahasiswi UNRI, Dimana Keadilan?
Foto: Istimewa

Oleh: Putri Rizqi Fauzi*

Pelecehan seksual merupakan salah satu kerusakan moral yang telah terjadi di Indonesia, korban nya tidak hanya perempuan dewasa tapi remaja hingga anak-anak pernah   mengalami pelecehan seksual. Hal ini sungguh miris, karena kasus pelecehan seksual yang terjadi masih sering ditutupi oleh yang bersangkutan, yaitu korban atau pun pelaku. Pelecehan seksual yang terjadi juga sangat dekat dengan lingkungan sekitar kita, pelaku nya bisa siapapun.

Guru, teman, bahkan seorang ayah juga dapat melakukan pelecehan seksual terhadap anak nya sendiri. Sebuah pendidikan tinggi pun tidak menjamin, orang tersebut tidak akan melakukan pelechan seksual, Hal ini terbukti dari kasus-kasus pelecehan seksual yang pernah terjadi. Pelaku nya ada yang berprofesi guru, dosen, bahkan pimpinan pondok pesantren.

Seperti kasus pelecehan seksual yang baru-baru ini kita dengar tentang seorang mahasiswi UNRI. Korban mengaku telah mengalami pelecehan seksual dari dosen nya sendiri, kejadian ini dia alami saat sedang melakukan bimbingan skripsi. Menurut pengakuan korban mereka melakukan bimbingan skripsi memang hanya berdua dalam satu ruangan tanpa adanya orang lain di dalam ruangan tersebut.

Kronologi awalnya di mana sang dosen mulai menanyakan mengenai hal pribadi, seperti tentang pekerjaan, kehidupan mahasiswi tersebut, sehingga mulai berani mengatakan aku cinta kamu dengan menggunakan Bahasa Inggris dan sontak membuat mahasiswi tersebut terkejut.

Saat bimbingan skripsi tersebut selesai dan korban berniat pamit, ketika korban menyalami tangan dosen tersebut, yang terjadi malah tangan nya digenggam keras oleh sang dosen, dosen pun merayu korban tersebut sembari mencengkram bahu korban dan makin mendekatkan badan nya pada korban, lalu mencium kedua pipi korban. Perasaan yang dialami korban saat itu tentulah dia sangat ketakutan sembari menundukkan kepala nya namun yang dilakukan sang dosen malah mendongakkan kepala korban sembari berkata "di mana bibir mu, di mana?". Untungnya korban masih berani untuk menolak perlakuan tidak menyenangkan dari dosen nya itu. Hal ini justru diingkari oleh dosen tersebut, sang dosen mengaku bahwa tidak melakukan hal tersebut dan akan menuntut balik kepada korban yang mengaku bahwa menerima pelecehan seksual tersebut dengan tuntunan pencemaran nama baik.

Dengan adanya kasus pelecehan seksual yang masih terjadi, menurut data yang terdapat pada KOMNAS PEREMPUAN bahwa hal ini mengakibatkan adanya kenaikan angka penyakit perempuan yang mengidap penyakit HIV/AIDS menjadi jauh lebih tinggi, yang sebelum nya hanya terdapat 4 kasus namun melonjak menjadi 203 kasus. Data dari banyaknya kenaikan jumlah ini sendiri diambil langsung dari LBH APIK Bali karena telah melakukan kegiatan outreach dan melakukan pendampingan kasus kekerasan pelecehan seksual terhadap ODHA perempuan dan anak. Namun, sayang nya kasus-kasus pelecehan seksual masih sering disembunyikan karena para korban terutama perempuan menjadi takut untuk melaporkan nya ke pihak yang berwajib di karenakan berbagai faktor, seperti faktor malu, merasa bahwa hal tersebut adalah aib dan tidak perlu diketahui oleh siapa pun, faktor budaya di Indonesia yang lebih mengutamakan untuk menjaga nama baik keluarga nya, ataupun karena takut tidak di percaya oleh pihak yang berwajib maupun pihak-pihak hukum jika dia melaporkan atas apa yang telah dia alami tanpa adanya bukti.

Ini membuktikan bahwa pelaku pelecehan seksual tidak akan diakui selama kurang nya bukti yang akurat, walaupun kejadian tersebut benar-benar dialami oleh korban. Hal ini jelas saja membuat korban pelecehan seksual akan selalu takut untuk melaporkan tentang hal keji yang telah dialami. Kejadian seperti ini membuat banyak perempuan geram, karena korban perempuan yang mengalami pelecehan seksual kurang mendapatkan keadilan di mata hukum.

Hukum akan menerima laporan mereka, jika ada bukti yang akurat. Sedangkan korban pelecehan seksual yang tidak memiliki bukti dan tidak memiliki keberanian untuk melapor, maka korban akan mengalami depresi yang ditanggung sendirian. Sungguh miris, peristiwa ini masih sering terjadi di Negara yang berlandaskan hukum. Pihak-pihak yang berwenang diminta banyak masyarakat untuk menangani kasus ini hingga selesai, agar tidak ada lagi keadilan yang patut dipertanyakan bagi korban pelecehan perempuan, dalam konteks ini yaitu perempuan.

 

*Mahasiswa UIN Jakarta