Sabtu, 16 Mei 2020

01:54

Menjemput ANNA Part-5 ( Serial Fiksi Bersambung )

Sample image

Penulis

REDAKSI

Menjemput ANNA Part-5 ( Serial Fiksi Bersambung )

Zurich Swiss

oleh : Erizeli Jely Bandaro

 

Saya menghubungi sahabat saya. Namanya Najarian. Dia Indian guys. Tadinya dia bekerja di Citibank Hongkong. Sekarang dia bekerja di OJK Inggris. Saya mengundangnya makan Malam. Dia senang sekali. Kami janjian di Dockland. Saya ingat kebersamaan dengan dia waktu di Hongkong. Kami sering menghabiskan waktu bersama di bar kawasan wanchai. Istrinya orang Malaysia. Mungkin karena cinta, dia ikut agama istrinya, Islam. Tapi selama di Hongkong dia bergaul dengan orang iran. Diapun Islam syiah, juga istrinya ikut dia menjadi syiah. Tapi kalau saya ke apartment nya, dia selalu meminta saya sebagai imam sholat dan dia bersama istrinya sebagai makmum. Padahal saya sunny
“ Naja “ seru saya ketika kami bertemu di Cafe. “ Apakah bisa bantu saya”
?“ Soal apa?
?“ Tolong cari tahu bagaimana saya bisa contact perusahaan ini” kata saya seraya menyerahkan selembar Kertas berisi informasi nama Perusahan yang saya dapat dari Scott.
?“ Ok. Saya akan cari tahu. “ katanya langsung membuka Computer. Tak berapa lama dia tersenyum.” Perusahaan yang kamu maksud pernah teken kontrak, dan alamatnya tertera disini” kata Naja seraya memperlihatkan screen Computer.
?“ kamu tahu dimana itu ?
?“ Itu hotel, tempatnya hanya satu block dari sini. “
?“ Ok. Apakah kamu bisa hubungi mereka sekarang ?
?“ Jaka” seru Naja dengan tersenyum. “ Ada apa ini ? Kamu sedang mengejar target? Ini soal uang?
?“ Saya mau Deal dengan mereka.”
?“ Mengapa?
?Saya perlihatkan email dari Scott. Naja membaca cepat “ Oh My god ! Ini uang besar. Besar sekali. “
?“ Nah kamu coba deal dengan mereka. Saya punya uang diatas USD 100 juta. “
?“ Atas nama siapa ?
?“ Trinity capital “
?“ Whattttt “ Naja berteriak. “ itu perusahaan Ratu saya. Bagaimana mungkin kamu bisa gunakan rekening atas nama perusahaannya ?
?“ Engga penting kamu tahu”
?“ Ok. Mungkin ini cara cepat saya pensiun. “ Katanya tersenyum.
?“ Bantu saya ya”
?“ Tentu. Tapi bagaimana ? Saya masih PNS”
?“ Kamu cari settlor lembaga keuangan di London yang mau jadi trustee kita deal dengan mereka.”
?“ Ah itu gampang. Tapi...”
?“ Apa?
?“ Ini bukan urusan beresiko?
?“ Trust me ?
?“ Saya percaya kamu. Tapi ini too Good to be True”
?Saya hanya tersenyum. Setalah keremu Naja, saya langsung ke bandara terbang ke Swiss. Dia janji akan terbang ke Swiss berama trustee Agent. untuk menyelesaikan settlement. Saya memilih Swiss untuk markas operasional karena ICF punya pengaruh kuat disana.
***
?Dari Zurich Airport saya meluncur ke Renaissance Hotel di Turbinenstrasse. Wada dan Steve sudah menanti di loby Hotel “ Kami tadinya kawatir kamu berubah pikiran ketika Lena bilang kamu dari Jakarta terus ke London, dan setelah itu loss komunikasi. “ Kata Wada dengan tersenyum ketika menemani saya mengambil kunci kamar. Semua atas beban corporate bill dari Steve.
“ Kamar kita bersebalahan. Semua panthouse standard. “ Kata steven mengantar saya ke kamar bersama dengan Wada. Kami bicara didalam kamar.
“ Apa rencana kamu , Jaka ? Kata Steve
“ Kalian percaya dengan saya ?
“ Ya “ Kata mereka serentak.
“ Jadi, jangan tanya apa rencana saya. Kalian lakukan perintah saya. Setuju ? kata saya tersenyum menatap mereka satu persatu.
“ OK. Setuju. Tapi jangan ada perintah dekati cewek Zurich “ Kata Wada.
“ Itu termasuk perintah. Bahkan perintah pertama. Jangan pernah dekati wanita disini. “ Kata saya serius. Mereka saling bertatapan. “ Serius ? kata Wada.
“ Ya. Serius “
“ Keliatannya ini bisnis nyerempat bahaya? Kata Steven.
“ Masalah kamu terlalu besar ,Steve. “ Kata saya dengan nada keras. “ Terlalu besar. Apakah kamu piker itu sederhana.? Itu kelemahan kamu yang suka menggampangkan uang karena kamu mudah dapat uang dari pecundang gambler. Suka tidak suka, pihak yang ingin uangnya kembali itu bukan orang biasa. USD 5 miliar yang kamu pecundangi dari clients kamu, itu bukan jumlah kecil. Itu bisa mensejahterakan rakyat miskin di Jakarta yang tinggal di kawasan kumuh. Paham kamu “
“ Ya Jaka. Tapi saya yakin kamu bisa membantu saya.”
“ Makanya diam saja. Jangan banyak tanya. Ikuti arahan saya. Paham”
“ OK saya ikut kamu.” Kata Steven pasrah.
“ No Lady, no wine. Terus berapa lama kita disini? Kata Wada berkerut kening mengusap kepalanya.
“ Jangan tanya.” kata saya melotot kearah Wada.
“ Oh ok ok…Jaka. “
“ Sekarang dengar” Kata saya.” Besok trustee agent akan datang ke Zurich. Mereka datang dengan teman saya yang pejabat OJK Inggeris. Kalian ikut meeting. Jangan bicara. Diam dan dengar saja. Apabila saya perintahkan depan mereka, kalian laksanakan tanpa tanya. Kita akan buat urusan ini cepat dan cepat pulang. Paham”

Wada memeluk saya “ Thanks God. Jaka. Lebih cepat pulang lebih baik. Saya traktir kalian di Zuhai. Kita pesta sampai pagi. “ Katanya. Saya hanya tersenyum namun Steven tersenyum kecut, seraya ke tempat tidur.

“ Wanita bagi Wada adalah hal yang paling menarik tapi hal yang paling cepat membuat dia bosan. Gila udah gila dia.” Kata Steve.
Wada, berlari menubruk steven “ Apa perlu saya tidur dengan kamu? Kan engga mungkin karena saya bukan Gay. “ Kata Wada memeluk Steven. Steven dengan keras mendorong Wada dari tubuhnya. Saya hanya geleng geleng kepala. Dua konglomerat jomblo kadang keliatan sakit jiwa dan tak pernah dewasa.
“ Sekarang kalian keluar dari kamar saya” kata saya dengan suara keras menarik mereka dari tempat tidur saya. “ Saya mau kerja.” Kata saya.

Mereka berdua tertawa “ Coba ceritakan Jaka, bagaimana kamu bisa membuat Esther dan Wenni, Lyly lengket dengan kamu? Pasti sex hebat kan.? Kalau engga, mana mungkin wanita betah sama kamu, berkorban apa saja. Cerita dong, Bro..”

“ Keluar. Keluar “ Kata saya keras. Mendorong mereka keluar dari kamar. “ Anehnya kedua wanita itu tidak ada daging. Tulang semua. Itukah kegemaran Jaka ? Kata Wada.
Saya hanya tersenyum. “ mereka hanya sehabat. Engga seperti bayangan kalian. “ kata saya seraya mendorong mereka dan menutup pintu kamar.

***
Di kamar saya membuka laptop dan memasukan card untuk saya bisa mengkakses 144 A. Saya memasukan code akses yang diberikan oleh Scott. Saya masuk ke portal OTC. Saya mulai search nama perusahaan yang digunakan ANNA. Tapi tidak ditemukan atas nama vehicle company itu. Benar Scott, bahwa ANNA belum aktif di market. Tentu Anna punya account lain. Tapi saya bisa telusuri semua jejak digital dari beragam transaksi lintas IFC. Dari surat berharga sampai emas. Dari code lawan transaksi nya nampak semua terhubung dengan 10 controller the Fed. Sial.

Anna sengaja di trap untuk menjadi undercover the fed untuk melakukan pencucian uang rampokan jutawan Arab. Sebetulnya itu semua dilakkukan sendiri oleh the Fed. Anna engga menyadari ini. Karena dia dapat untung tapi the Fed, untung lebih besar. Sangat besar. Ini skema pretender terbaik di planet bumi, di rezim mata uang kertas. Kalau sekarang the fed menolak credit line, karena ANNA sudah masuk target akan dihabisi termasuk jaringannya yang terhubung dengan Hizbullah.

Saya melamun dalam kesendirian dikamar. Saya berjalan dari sudut ruangan ke sudut ruangan. Terus berpikir. Apa yang harus saya lakukan. Menghubungi Scott tidak mungkin. Karena Scott nampaknya sudah tahu hal yang sebenarnya. Tapi mengapa dia memberikan akses secara legitimate atas nama Trinity Capital kepada saya untuk masuk ke 144 A? Apakah ini tanda agar saya segera keluar. Bahwa ini terlalu besar saya hadapi. Ah tidak. Bagi saya tidak ada yang lebih besar dari Tuhan. Takdir sudah menempatkan saya di ruang ini. Artinya ada pesan dari Tuhan yang harus saya lakukan. Tapi apa ?

Saya terus menganalisa semua data di screen computer terhadap ratusan ribu transaksi. Semakin saya terkejut. Ternyata bukan hanya Anna. Tapi banyak sekali proxy terlibat dalam mata rantai pencucian uang yang berujung menciptakan uang ilusi melalui pasar yang di create sendiri oleh the Fed. Saya berusaha mencari tahu keterlibatan ICF. Dan ternyata Trinity Capital salah satu pemegang sahamnya adalah konglomerat German yang punya koneksi kuat dengan Vatican. Saya berusaha mencari informasi melalui Bloomberg tentang konlomerat itu? Ternyata dia dikenal sebagai filantropi kelas dunia. Pemegang saham di beberapa negara dibidang industry pesawat terbang dan senjata. Saya terhenyak. Saya sudahi kerja di depan computer denga sholat subuh dan tidur.

***
“ Jaka, sampai sekarang Anna masih aman. Tapi setiap waktu keadaan bisa berubah. Posisi Anna masih terancam. Cepatlah selesaikan tugas. Itu lebih baik” demikian notifikasi ICF via SafeNet.
Saya hanya menjawab “ Noted”. Karena sebelum mereka mengatakan posisi Anna outstanding, saya sudah tahu dari Scott dan screen 144A. Namun merahasiakan akses saya terhadap 144 A di depan ICF itu lebih baik. Setidaknya pada akhirnya nanti ICF tahu bahwa saya bukan bekerja untuk mereka tapi bekerja untuk kebenaran.

Saya mencoba menghubungi Naja tapi telp off. Mungkin dia sedang dikantor atau dirumah. Saya harus sabar. Walau Naja berjanji akan datang hari ini ke Zurich namun dengan tidak ada komunikasi membuat saya bertanya tanya. Saya tetap positip thinking seraya melangkah ke lounge executive sekedar killing Time.

Dari jauh nampak Wada sedang bicara dengan wanita berjilbab. Saya perhatikan wanita itu dari timur tengah. Entahlah. Steve menghampiri saya. “ Tenang,Jaka. Itu wanita baik baik” katanya.
“ Bagaimana kamu tahu? Kata saya dengan raut tidak senang.
“ Wanita itu turis dari Kazakhtan. Katanya ayahnya pengusaha perminyakan.”
“ Hebat, kamu tahu segalanya “
“ Ya tadi saya bicara dengan dia. Tapi keliatannya Wada lebih tertarik makanya saya undur diri”
“ Kalian engga ingat nasehat saya”
“ Ayolah Jaka. Rileks dikitlah. Dia hanya wanita biasa. Bukan Hoker”
Saya hanya diam. Namun saya melangkah mendekati Wada yang sedang bersama wanita itu.
“ Kenalkan. Ini sahabat saya , Jaka” kata Wada memperkenalkan saya kepada wanita itu, yang segera bediri untuk berjabat tangan dengan saya.
“ Dasha” kata wanita itu dengan ramah. Saya hanya mengangguk dan tersenyum ramah. Telp selular saya bergetar. Saya segera menerima telp dan menjauh dari Wada.
“ Jaka.” Terdengar suara Naja.
“ Saya on the way ke hotel. “ Katanya yang membuat saya terkejut. Datang juga Naja. Saya lega.
“ Ok langsung aja ke Renaissance ya.”
“ Ok. See you there “

Saya segera minta Steve prepare room untuk Naja. “ Ok saya sudah siapkan kamar. Orang hotel udah open berapapun kamar yang diperlukan “ kata Steve
“ Sekarang panggil Wada. Sudahi dengan wanita itu”
“ Ok. Saya lakukan”

Wada datang kesaya “ ada apa Jaka?”
“ kita harus siap ketemu dengan trustee Agent. Mereka on the way ke hotel” kata saya dan kemudian setengah berbisik ke Wada “ apa kamu engga bisa tahan sedikit libido kamu?
“ Jaka. Please jangan terlalu paranoid”
“ Ujung telunjuk wanita itu kasar. Itu aneh untuk wanita berjilbab. Paham kamu?
“ maksudnya ?
Saya Tak hendak menjawab. Saya kembali ke kamar. Ketika buka laptop, ada keterangan disconnected link SafeNet.” Saya berkerut kening. Padahal Jaringan satelit saya tetap connected. Ada apa ini?

Pintu kamar diketuk. Saya membuka pintu. Tampak Naja dengan tanpa senyum ketika pintu tersibak. Di belakangnya ada Wada dan Steve yang juga berwajah pucat. Belum usai saya bertanya tanya, dua orang pria keluar dari balik punggung Steve dan Wada “ semua ikut “ kata salah satu pria seraya mendorong saya keluar dari kamar. Kedua pria berwajah kotak dan keras itu mendorong kami dengan senjata FN berperedam. Saya berusaha menenangkan diri. Saya yakin mereka tidak hendak membunuh kami segera. Mungkin mereka hanya butuh keterangan dari kami. Atau bisa saja menghabisi kami disuatu tempat.

Kami menuju tempat parkir di bawah todongan pestol. Walau mereka menyembunyikan pestol dibalik saku jasnya namun dengan kecepatan terlatih tidak sulit bagi mereka menghabisi kami berlima. Ruang parkir nampak tidak begitu terang. Hanya ada lampu di ujung jalan keluar. Saya membayangkan ini tempat yang pas untuk eksekusi mati. Wada dan Steven nampak pucat pasi. Kedua pria itu mendorong kami masuk kedalam kendaraan van yang dalam keadaan menyala. Didalam kendaraan ada seorang wanita sebagai driver. Saya berusaha tetap tenang ketika mereka memerintahkan kami masuk kendaraan.

Entah mengapa saya meliat salah satu pria itu tersungkur ketika hendak masuk kendaraan. Saya melirik keluar nampak wanita yang tadi bersama Wada dengan senjata bareta melepas tembakan berperedam kearah dua orang yang duduk didepan. Pria dan wanita driver nampak terkejut dengan tembakan tepat di kepala. Kejadian cepat sekali. Tidak lebih satu menit.
“ Tenang saja. Ikut saya semua” kata wanita itu dengan melangkah cepat kearah kendaraan yang parkir tidak jauh dari van itu. Kami segera berhamburan keluar mengikuti wanita itu.
“ Tenang. Saya di pihak kalian” kata wanita itu ketika di dalam kendaraan.
“ Siapa kamu?” kata saya
“ Saya ditugaskan Hizbullah menjaga kalian. “
“ Bagaimana kamu tahu kami disini ?
“ ICF yang beri tahu” kata wanita itu. Saya lega.
“ Kita akan ke markas ICF” kata wanita itu. Kami diam semua tanpa punya pilihan. Kendaraan melaju keluar kota melintasi jalan toll.
“ Maaf boleh tahu, kemana tujuan kita?
“ Luxemburg “ kata wanita itu melajukan kendaraan van dengan kecepatan sedang
“ engga usah kawatir. Team ICF akan membersihkan kejadian tadi. Kalian akan pindah hotel. Tas kalian akan diurus oleh Team saya” kata wanita itu seakan membaca kekawatiran kami atas tiga mayat yang terkapar di tempat parkir. Saya perhatikan wajah wanita itu dibalik jilbabnya tidak nampak ada kesan dia baru saja membunuh tiga manusia. Terbuat dari apa hati wanita ini ? Sementara Steve dan wadah , Naja dan trustee Agent nampak diam dan berusaha tidur. Mereka sudah nampak rileks.

BERSAMBUNG

x
Monologis ID